Puluhan Karyawan PT Adetex Gigit Jari

Puluhan Karyawan Adetex Gigit Jari

Kepala Risna Eriani (27) tertunduk lesu di tengah-tengah puluhan orang yang hadir di ruang audiensi Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Rabu (12/5). Dia seolah pasrah sesaat setelah mendengar keputusan pemilik perusahaan PT Adetex Banjaran yang tidak sesuai dengan harapannya.

“Saya kecewa karena jasa saya selama sepuluh tahun bekerja di perusahaan ini seolah tidak ada artinya,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak tahu bagaimana menghidupi keluarganya kelak setelah perusahaan tempatnya mengais rezeki itu tidak lagi memikirkan nasibnya.

Hal yang sama dirasakan Cecep Hendryana (28). Setelah satu dasawarsa bekerja di perusahaan tekstil multiproduk itu, kariernya terpaksa harus berakhir dengan tangan hampa. “Sudah empat bulan upah saya tidak dibayarkan. Bahkan, pekerja yang lain upahnya tidak dibayarkan selama 8 bulan,” katanya dengan nada getir.

Risna dan Cecep merupakan dua dari ratusan korban pemutusan hubungan kerja (PHK) PT Adetex yang belum menerima pesangon sesuai dengan aturan pemerintah. Rencananya, tahun ini perusahaan itu akan mem-PHK sebanyak 900 pekerja, 405 orang di antaranya telah di-PHK pada April lalu.

Namun, sebanyak 339 dari 405 karyawan yang di-PHK itu, telah kembali bekerja di perusahaan tersebut setelah menandatangani pernyataan kesepakatan untuk menerima kebijakan perusahaan. Sementara 66 karyawan lainnya menganggap surat pernyataan itu sangat memberatkan dan menuntut perusahaan untuk memberi upah dan pesangon sesuai dengan aturan yang berlaku.

Puluhan mantan pekerja PT Adetex berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Kabupaten Bandung, Senin (10/5). Mereka mendesak anggota dewan untuk menindak pengusaha PT Adetex yang tidak memenuhi hak mereka.

Namun siapa sangka, pada Rabu siang di Gedung DPRD Kab. Bandug, pemilik perusahaan yang telah berdiri sejak 1973 itu menyampaikan pandangan yang berbeda. “Mempekerjakan mereka kembali dengan tuntutan tersebut tidak mungkin dilakukan. Kami hanya bisa menerima karyawan yang menyetujui kesepakatan yang telah ditentukan,” kata Iik di hadapan Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung dan sejumlah karyawan Adetex.

Menurut Iik, kebijakan tersebut dibuat karena perusahaannya sudah menunjukkan gejala krisis sejak 2006 lalu dan mencapai puncaknya pada dua tahun terakhir. Iik menambahkan, output perusahaan pada 2007-2008 dari pemintalan hanya 25 persen, sementara biaya produksi yang dikeluarkan sangat besar.

“Dengan kondisi tersebut, kami terpaksa melakukan rasionalisasi dengan mengurangi jumlah produksi yang berimbas pada pengurangan jumlah karyawan,” katanya. Menurut dia, sejak 2007, di perusahaan tersebut telah terjadi penyusutan karyawan dari sekitar 5.000 orang menjadi sekitar 3.000 orang.

Hal ini disangsikan Ketua Depencab Gaspermindo Kab. Bandung, Mulyana Aryawinata. Dia mengatakan, saat ini perusahaan itu tetap merekrut karyawan baru dengan sistem kontrak, sementara ratusan karyawan lama di-PHK. “Kami akan terus menggugat kasus ini, sampai hak-hak kami benar-benar dipenuhi,” ujarnya.

Keputusan pemilik perusahaan itu tidak hanya membuat kecewa para karyawan tetapi juga Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Arifin Sobari, yang telah menunggu kedatangannya sejak April lalu.
“Sebetulnya pada pertemuan ini kami berharap agar menemukan titik terang. Namun, kami tetap menghargai keputusan dari pemilik perusahaan,” katanya. Dia menambahkan, selanjutnya anggota dewan hanya bisa memberikan surat anjuran kepada kedua belah pihak.

Beberapa jam kemudian, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung, Dadang Supardi mengeluarkan anjuran yang meminta perusahaan untuk mempekerjakan kembali para karyawannya atau memberi pesangon sesuai dengan undang-undang. “Namun, jika pemilik perusahaan tidak menanggapinya, kami serahkan masalah ini ke pengadilan,” katanya. Mendengar hal ini, puluhan mantan pekerja PT Adetex yang belum mendapatkan haknya itu, hanya bisa menggigit jari. (Cecep Wijaya S.)

Advertisements

Hari Terakhir UN Ditutup Doa Bersama

SEJUMLAH siswa SMAN 1 Cileunyi melakukan doa bersama di areal masjid sekolah seusai melaksanakan ujian nasional (UN) hari terakhir, Jumat (26/3). Hari terakhir pelaksanaan UN berlangsung lancar dan aman.

BANDUNG, (PR).-

Sejumlah siswa kelas XII SMAN 1 Cileunyi melakukan doa bersama di areal masjid sekolah, seusai melaksanakan ujian nasional (UN) hari terakhir, Jumat (26/3). Selain bersyukur telah menjalani UN dengan lancar, para siswa juga berdoa agar mendapatkan hasil yang terbaik.

“Kami mengimbau agar semuanya tidak bersenang-senang dulu, sebab masih ada ujian sekolah yang harus dihadapi,” ujar Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum SMAN 1 Cileunyi, Drs. Tafif Bachtiar, seusai memimpin doa bersama. Dia mengatakan, berakhirnya UN tidak perlu dirayakan dengan aksi corat-coret, melainkan tetap mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian berikutnya.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMAN 1 Cileunyi, Drs. Rasti Agus mengatakan. ujian sekolah akan dilaksanakan mulai Senin (29/3) meliputi ujian teori dan praktik. Meskipun demikian, Agus mengaku optimistis para siswa mampu melaksanakannya dengan baik. “Biasanya mereka tidak menganggap ujian sekolah sama sulitnya dengan UN,” ujarnya.

Sementara itu, hari terakhir pelaksanaan UN di sekolah tersebut tidak mengalami hambatan. Kepala Sekolah SMAN 1 Cileunyi Drs. Otang Rismas, M.Pd mengatakan, pelaksanaan ujian nasional di sekolah tersebut berlangsung lancar sejak hari pertama. Dia mengaku, selain telah mempersiapkan pelaksanaan UN dengan matang, hal tersebut juga terlaksana atas kerja sama panitia UN dengan beberapa pihak terkait, seperti Tim Pengawas Independen (TPI), pengawas ujian, dan petugas kepolisian.

“Distribusi soal berlangsung dengan lancar dan tidak ada hambatan,” kata Drs. Ujud Rusdia, M.Si., salah seorang Tim Pengawas Independen dari Universitas Bale Bandung. Dia menuturkan, beberapa siswa sempat mengalami ketegangan ketika melihat petugas kepolisian mengawasi mereka dengan mengenakan seragam dinas pada hari pertama UN. Namun, suasana kembali normal setelah petugas kepolisian tidak mengenakan seragam dinasnya pada hari-hari berikutnya.

Terkait dengan hasil UN kali ini, Agus mengaku optimistis semua siswa SMAN 1 Cielunyi lulus UN. “Berdasarkan hasil try-out yang dilakukan sebanyak tiga kali, nilai para siswa mengalami peningkatan. Oleh karena itu, kami berharap semuanya lulus,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang siswa kelas XII IPS 2, Raycha Sandra Anggraini (17) mengaku lega setelah melewati UN sampai hari terakhir. Dia mengatakan, dirinya cukup tenang selama mengikuti UN. ”Dibawa santai aja, kan sebelumnya udah persiapan,” katanya. Meskipun demikian, dia menambahkan, dirinya tidak sepenuhnya lega karena masih harus menghadapi ujian sekolah.

Hal senada diungkapkan Muhammad Riyana (17), siswa kelas XII IPS 3. Dia mengaku optimistis lulus UN. Walaupun sempat menerima SMS yang berisi kunci jawaban UN melalui telefon selulernya, dia mengaku yakin akan kemampuan sendiri. ”SMS itu kan belum tentu benar, lebih baik percaya diri aja,” kata siswa yang berencana mengambil jurusan Sastra Inggris di salah satu perguruan tinggi negeri ini. (Cecep Wijaya Sari)

Linda Beri Titiek “Wanita”

BANDUNG, (PR).-

Mantan Wartawan Gatra dan Tempo, Linda Djalil mempersembahkan lagu “Wanita” untuk penyanyi sekaligus aktris senior Titiek Puspa pada konferensi pers di Wisma Puspa, Jln. Pancoran Timur No. 21, Jakarta, Selasa (19/1). Lagu tersebut didedikasikannya untuk Titiek yang menderita kanker rahim.

Didampingi kedua putrinya, Petty dan Ella, Titiek bercerita tentang penyakit yang dideritanya itu di depan puluhan wartawan dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Titiek mengaku lebih bersemangat setelah mendengar lagu yang diciptakan sahabatnya, Linda itu. Oleh karena itu, di sela-sela keterangannya, Titik meminta Linda menyanyikan lagu tersebut.

Pada awalnya, Linda mengaku tidak yakin bisa membawakan lagu tersebut dengan baik. “Sebelum menyanyi saya katakan, mohon jangan perhatikan suara saya, tetapi cermatilah melodinya, musiknya, dan liriknya,” kata perempuan yang hengkang dari pekerjaannya sejak sepuluh tahun silam itu.

Meski demikian, semua yang hadir di Wisma Puspa itu terbawa hanyut dalam lantunan lagu yang dibawakan Linda. Titiek pun tak kuasa menahan tangis. Penyanyi senior Indri Yusnita yang juga hadir pada saat itu pun ikut menitikkan air mata. Beberapa sanak keluarga Titiek termasuk kakaknya, Elly Kasim memeluk Linda setelah selesai menyanyi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, Titik menderita kanker rahim sejak November 2009. Dia sempat menjalani empat kali kemoterapi dan belasan kali radiasi selama sebulan di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Namun, nenek 14 cucu itu itu mengaku terharu mendengar sahabatnya menciptakan lagu untuknya.

“Saya sampai nangis ada teman saya Linda Djalil yang bekerja sebagai wartawan, dengar saya sakit dia langsung buat lagu,” ujar perempuan yang akrab disapa tante di usianya yang senja itu. Dia mengatakan, lagu ciptaan sahabat sekaligus penggemarnya itu membuatnya lebih bergairah untuk mencapai kesembuhan.

Sementara itu, Linda mengaku terkejut ketika pertama kali mendengar kabar sakitnya Titiek dari keluarganya. “Hati saya ciut seciut-ciutnya,” katanya. Lalu, kondisi tersebut menginspirasinya untuk membuat sebuah lagu yang menggambarkan sosok Titiek.

“Lagu itu bercerita tentang ketegaran wanita Indonesia. Tentang duka yang selalu dilawan dengan doa,” ujar Linda. Dia mengatakan, Titiek Puspa adalah sosok wanita cantik yang energik, bersemangat, penuh kasih sayang, tegar, dan multitalenta. Oleh karena itu, dia mengharapkan lagu yang diciptakannya itu dapat membantu mengembalikan semangat hidup Titiek.

Pembuatan lagu tersebut melibatkan beberapa musisi kenamaan Indonesia seperti Addie M.S. dan Josef Djafar. Linda mengatakan, keduanya membantunya mengaransemen lagu “Wanita” yang pertama kali dibuatnya dalam bentuk melodi. Sementara lirik lagu tersebut dibuat oleh Jhodi Yudono.

Linda mengaku senang dengan lirik yang mengisi lagunya itu. “Apa yang saya gambarkan tentang Titiek Puspa dan wanita Indonesia yang pada umumnya kuat, tegar, hidup penuh dengan cinta itu, diimplementasikan Jodhi secara sempurna,” katanya memuji Jhodi. Linda mengatakan, lirik Jhodi dan aransemen Josef membuat lagu itu seakan membahana dengan jiwa yang bulat. (Cecep Wijaya Sari)

Pabrik Petasan Terbakar, 53 Tewas

TANGERANG, (PR).-

Kebakaran menghanguskan pabrik petasan PT Sinar Terang, Kota Tangerang, Rabu (24/2) sore. Peristiwa itu menyebabkan 53 orang tewas dan 4 luka-luka. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian dan beberapa saksi, belum diketahui penyebab kebakaran tersebut.

Peristiwa yang terjadi pada pukul 16.40 WIB itu diperkirakan berlangsung saat para karyawan sedang bekerja. Amin, salah seorang saksi mengatakan, warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut mencoba menolong para karyawan yang terjebak di dalam pabrik, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. ”Mereka takut mendekat karena terjadi banyak ledakan di dalam pabrik tersebut,” katanya.

Kepolisian Tangerang, kepada wartawan mengatakan, petugas di lapangan masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. Polisi menambahkan, arsitektur pabrik tersebut menyalahi aturan sehingga menimbulkan banyak korban tewas. ”Pintu pabrik hanya satu dan hanya bisa dibuka ke arah dalam sehingga menyulitkan para pekerja keluar-masuk pabrik,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Antonius, mandor pabrik yang saat kejadian berada di dekat tempat kejadian perkara (TKP), kobaran api mulai terlihat dari pintu yang merupakan jalan satu-satunya memasuki pabrik tersebut. Ketika kejadian berlangsung, diduga para pekerja berebutan keluar ruangan untuk menyelamatkan diri. Namun, karena pintu keluar sudah tertutup api, akhirnya mereka terjebak di dalam pabrik.

Setelah api berhasil dipadamkan, petugas pemadam kebakaran dan kepolisian berusaha untuk mengeluarkan para korban yang terjebak di dalam pabrik. Petugas mendapati 53 karyawan perempuan tewas dalam kondisi meringkuk dan tubuh yang telah melepuh. Seorang korban tewas bernama Warkinah diketahui tengah hamil empat bulan.

Sementara korban terluka yaitu seorang laki-laki dan tiga perempuan.
Dengan menggunakan delapan ambulans, semua jenazah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dikawal empat petugas Polres Tangerang. Jenazah tersebut tiba di RSCM sekitar pukul 19.30 WIB dan langsung dimasukkan ke kamar jenazah.

Sementara itu, polisi akan segera meminta keterangan pemilik PT Sinar Terang, SW, yang pada saat kejadian sedang berada di kediamannya. (Cecep Wijaya Sari)