Bocah Penjual Kerupuk itu Tulang Punggung Keluarga

Cuaca siang itu cukup terik ketika bocah itu berjalan lambat di sekitar Jalan Siliwangi, Baleendah, Kabupaten Bandung. Tangan kirinya menjinjing ember kecil, sementara tangan kanannya menenteng sekantung kerupuk. “Kurupuk.. Kurupuk..” ucapnya berkali-kali, menjajakan dagangannya.

Beberapa ibu-ibu tiba-tiba memanggilnya. Bocah itu datang menghampiri. Dengan cekatan, ia membuka kantung plastik berisi kerupuk dan ember kecil berisi saus untuk penyedap rasa.

Ibu-ibu itu memberinya lembaran rupiah setelah melahap beberapa kerupuk. Bocah itu menerima uang tersebut, lalu kembali menjajakan dagangannya.

Taufik Hidayat (13), nama bocah kecil itu. Sepulang sekolah, siswa kelas I SMP YPPI Baleendah itu tak langsung bermain, seperti teman-temannya. Ia punya kegiatan lain yang sudah menjadi rutinitasnya, yaitu menjual kerupuk.

“Saya jual kerupuk setelah pulang sekolah sekitar jam 12 sampai Asar. Jualannya keliling sekitar sini saja,” kata bocah yang tinggal di dekat Masjid Besar Dayeuhkolot ini beberapa waktu lalu.

bocah kerupuk

Taufik mengaku sudah berjualan kerupuk sejak masih SD. Ia mendapatkan kerupuk dari penjual langganannya di Dayeuhkolot dan menjajakannya di sekitar Baleendah. Kerupuk itu dijualnya Rp 1.500 per keping. Setiap hari, ia mendapatkan Rp 50.000 dari hasil dagangannya itu.

Meski demikian, uang itu tidak ia nikmati sendiri. Uang itu diserahkannya pada ibunya untuk dibagikan pada adik dan kakaknya. Ia dan kakak perempuannya yang kini kelas 2 SMA mendapatkan Rp 10.000, sementara adiknya yang masih kelas IV SD diberi Rp 5.000. Sisanya, ia serahkan pada ibunya untuk mengaturnya.

Siapa sangka, hasil penjualan kerupuk Taufik itu ternyata menjadi sumber penghasilan orang tuanya. Sejak ayahnya meninggalkan rumah waktu ia masih kecil, ibunya kini harus menanggung hidup tiga anaknya sendirian.

“Kalau ibu sekarang gak kerja. Kakak sama adik juga gak kerja. Yang kerja cuma saya aja, kebetulan dulu juga sempat ikut jualan kerupuk sama kakak sepupu di Dayeuhkolot,” tuturnya.

Sepulangnya berjualan kerupuk, Taufik sering kali tidak bermain dengan teman-teman seusianya. Ia lebih banyak di rumah sambil mempersiapkan diri untuk pergi mengaji saat tiba waktu Magrib.

Meski harus kehilangan sebagian waktu bermainnya untuk berjualan kerupuk, Taufik tak mengeluh. Ia justru senang lantaran bisa membantu ibunya mendapatkan uang. Sebagai anak lelaki tertua, ia menyadari dirinya suatu waktu harus menjadi pengganti ayahnya sebagai tulang punggung keluarga. (Cecep Wijaya/”PR”)

Dimuat di HU Pikiran Rakyat, Kamis, 22 Mei 2014

Advertisements

Berkreasi dengan Produk Lokal

Sepasang sepatu diambilnya dari sejumlah pasang sepatu putih nan polos yang dibiarkan berjejer di atas sebuah rak. Tangan kirinya mencengkeram sepatu, sementara tangan kanannya memegang kuas layaknya memegang alat tulis. Kuas tersebut dicelupkannya ke dalam wadah yang dipenuhi cat berwarna, lalu digoreskannya di atas permukaan sepatu.

“Perlu ketekunan dan kesabaran untuk melukis sepatu ini dengan baik,” ujar Karya Mulyana (27), seorang perajin sepatu lukis, sambil sekali-kali mengangkat dan menurunkan sepatu tersebut untuk melihatnya dari berbagai segi. Dalam waktu kurang dari satu jam, sepasang sepatu putih polos tersebut disulapnya menjadi sepatu lukis yang artistik.

Keberadaan Kota Bandung sebagai pusat kreativitas membuat Karya dan kakaknya, Iik Depi Hermawan (29), melirik sepatu lukis sebagai ladang mereka untuk mengais rezeki. Dengan modal awal Rp 500.000, pada Desember 2008, mereka memutuskan untuk membuka Toko Sepatu Lukis Bandung yang kini berlokasi di Jln. Rajawali Barat 39 itu.
Tren sepatu lukis atau sneaker sebenarnya sudah ada sejak tahun 1990-an. Pada awalnya, sneaker berasal dari negeri Paman Sam dan mulai masuk ke Indonesia sekitar 2006. Saat ini, sepatu lukis sudah mulai digandrungi sebagian besar anak muda dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Konsep sepatu lukis berbeda dengan bordir ataupun desain komputer. Sebab, gambar pada sepatu lukis dibuat langsung dengan tangan. Oleh karena itu, dengan sedikit sentuhan kreativitas dari tangan berbakat seperti karya, sepasang sepatu polos bisa dibuat menjadi sepatu artistik yang penuh gambar dan warna.

Walaupun bukan yang pertama kalinya mendirikan bisnis sepatu lukis di Bandung, Karya mengatakan bahwa produknya memiliki keunggulan dibandingkan dengan produk-produk lain yang sejenis. Selain merupakan produk lokal, produk-produk sepatu lukisnya memiliki pengemasan yang baik.

“Sepatu-sepatu (polos) ini diperoleh dari Cibaduyut. Kami menggunakan cat akrilik dan melakukan finishing dengan dipernis. Jadi, warna sepatu lebih cerah dan lebih awet,” kata lulusan pendidikan mesin dari salah satu universitas negeri di Bandung itu.

Model sepatu lukis yang ditawarkannya sangat bervarisasi. Di antaranya adalah gambar kartun, bunga, batik, graffiti, binatang, dll. Bahkan, Karya menambahkan, foto pemesan sepatu bisa dibuat menjadi lukisan. “Kami menyediakan berbagai model. Tetapi jika pemesan mempunyai desain sendiri, kami bisa melukiskannya,” tuturnya.

Dari berbagai model yang ditawarkan, Karya mengatakan bahwa model yang paling banyak dipesan adalah model kartun dan binatang. Hal ini disebabkan pemesan pada umumnya adalah remaja wanita. Namun, dia menambahkan, pemesan dari kalangan laki-laki juga tidak sedikit.

“Biasanya mereka memilih model graffiti atau gothic,” katanya.
Rina (17), salah seorang pelanggan, mengaku senang dengan model kartun. “Gambarnya lucu dan unik. Udah gitu, temen-temen banyak yang pake,” ujar siswi salah satu sekolah menengah kejuruan di Bandung itu.

Harga sepasang sepatu lukis di toko tersebut berkisar antara Rp 90.000-Rp 150.000, bergantung pada desain dan kerumitan gambar. Jika membawa sepatu sendiri, pemesan hanya dikenakan biaya melukis. “Biaya yang dikenakan untuk melukis saja, berkisar antara Rp 50.000-Rp 90.000,” ujarnya. Selain sepatu, Karya juga menawarkan produk-produk lain berupa tas, topi, dan sandal.

Untuk memasarkan produknya, Karya membuka situs online http://www.sepatulukisbandung.co.cc yang kini dikelola kakaknya. Dia mengatakan, bisnis online memungkinkan produknya dikenal seluruh masyarakat dari berbagai pelosok nusantara bahkan mancanegara.

Saat ini, tokonya sudah memiliki banyak agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Di antaranya terdapat di Padang, Palembang, Tanatoraja, Cirebon, Purbalingga, Bali, Samarinda, dan Timika, Papua.
Lalu mengapa dia memilih sepatu lokal sebagai bahan dasar produknya? “Selain harganya terjangkau semua kalangan, kami juga ingin membuktikan bahwa produk lokal tidak kalah bersaing dengan produk asing,” ujarnya. (Cecep Wijaya Sari)

Peduli Lingkungan Sejak Dini

Kedua bola matanya sekali-kali bergerak ke kiri dan ke kanan. Alisnya naik-turun. Jari-jari tangan kanannya sibuk menggaruk kepalanya. Tampaknya dia berusaha mengingat sesuatu.

“Banjir itu karena banyak yang buang sampah sembarangan di selokan. Jadi airnya mampet,” kata Jafan (3) menceritakan peristiwa yang dilihatnya di televisi. Sementara, teman-temannya yang lain meyimak penuturannya.

Sementara itu, seorang anak lainnya tampak mengernyitkan dahi. Napasnya tersengal-sengal. Matanya berkaca-kaca melihat salah satu halaman surat kabar yang dipegang kedua tangannya dengan erat. Halaman tersebut ternyata menunjukkan gambar reruntuhan tanah longsor dan evakuasi korban.

”Aduh… kita harus bantu nih… ngasih mi.. ngasih baju… ngasih makanan…” ujar Farisa (4) sambil tetap fokus melihat gambar tersebut. Kemudian, dia menunjukkan gambar tersebut kepada teman-temannya yang sedari tadi memperhatikannya.

Jafan dan Farisa adalah murid-murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Bunda Asuh Nanda yang terletak di Kompleks Kopo Indah Permai, Jln. Kopo Sayati, Bandung. Di hadapan guru dan murid-murid lain, dengan antusias mereka bercerita tentang bencana alam yang terjadi di Bandung beberapa waktu lalu. Setiap mencoba mengungkapkan peristiwa tersebut dengan kata-kata mereka sendiri, sang guru memberi mereka pujian.

Pengajaran seperti itu merupakan salah satu metode yang diterapkan di sekolah yang sudah berdiri selama 23 tahun itu. Para murid duduk membentuk lingkaran, sementara sang bunda – demikian sebutan untuk setiap guru – duduk di antara mereka untuk memberikan instruksi dan materi. Dengan demikian, guru dapat memantau setiap murid dan memastikan mereka memahami materi.

Materi yang diajarkan tidak hanya mengasah murid-murid secara kognitif, tetapi juga menyentuh aspek afektif dan psikomotorik mereka. Selain memberikan pengetahuan yang bersifat teoritis, guru-guru di sekolah tersebut juga mendorong para murid untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menumbuhkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar.

Di sekolah tersebut, para murid diajarkan bagaimana memanfaatkan limbah. “Botol-botol plastik bekas bisa dijadikan alat perkusi. Botol dan kaleng minuman bisa dibuat pot. Hasilnya dipajang di kelas,” tutur Mia Kusmiati (35), salah seorang guru, seraya menunjukkan hasil kreativitas para murid. Selain itu, dia menambahkan, para murid juga sudah dididik untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga tidak mencemari lingkungan.

“Sampah sayuran itu sampah organik. Kalau sampah botol dan kertas itu sampah anorganik. Jadi membuangnya harus beda,” ujar Nayo (3), salah seorang murid lainnya. Dia mengaku selalu membuang sampah pada tempatnya dan mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijadikan kreativitas di sekolah.

Rasa kepedulian terhadap lingkungan tersebut juga diakui Dini (30), salah seorang orang tua murid. Dia mengatakan, anaknya suka membuang sampah pada tempatnya dan memiliki kepekaan sosial. “Kalau ada pengemis di angkot atau di depan rumah, dia suka ngasih,” kata ibu muda yang menginginkan hal terbaik untuk anaknya kelak itu.

Sementara itu, Kepala TK Bunda Asuh Nanda, Elli Setyawati mengatakan, selain dididik untuk memiliki kepedulian sosial dan lingkungan, para murid juga diimbangi dengan pengetahuan umum dan pendidikan agama. Selain itu, mereka juga dibekali keterampilan berbahasa yang meliputi bahasa Inggris, Arab, dan Sunda.
Saat ini, tecatat 52 murid di TK Bunda Asuh Nanda di Kompleks Taman Kopo Indah. Sekolah ini merupakan salah satu dari delapan sekolah yang dikelola oleh Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Himpaudi) Indonesia, Anna Anggraini. Kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut mengacu pada kurikulum terbaru, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sementara metode yang digunakan berbasis Beyond Center and Circle Time (BCCT), di mana murid menjadi pusat aktivitas dan guru memfasilitasi mereka dalam proses pembelajaran. Selain itu, sekolah ini juga sudah menerapkan sistem moving class, di mana terdapat sentra-sentra pembelajaran seperti sentra science, agama, seni, bahasa, balok, dll. Dengan demikian, murid bergerak dari satu sentra ke sentra lain setiap berganti mata pelajaran dan bertemu dengan guru yang berbeda.

Menurut Anna, ketika ditemui, Minggu (7/3), 90% kecerdasan anak dibentuk pada usia antara 0 sampai 5 tahun. Dia mengatakan, pada usia tersebut, anak-anak mengalami proses pengumpulan informasi dari lingkungan sekitar yang kemudian membentuk pemahaman dan karakter mereka.

Dalam hal ini, peran orang tua dan guru sangat signifikan bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, Anna menambahkan, baik orang tua maupun guru harus memahami psikologi anak agar dapat memberikan pendidikan yang baik bagi mereka. “Sampaikan pendidikan kepada mereka dengan bahasa yang baik. Berikan penghargaan dengan tulus,” ujar Ketua Umum PAUD Jawa Barat itu.

Di sekolah PAUD yang didirikannya itu, Anna mencoba mendidik murid-muridnya dengan memosisikan dirinya sebagai teman bermain mereka. Dengan metode tersebut, anak-anak akan lebih bebas berekspresi. ”Di saat itulah, delapan kecerdasan majemuk mereka bisa dioptimalkan,” ujarnya. Dengan demikian, secara tidak sadar mereka belajar tentang kepedulian sosial dan lingkungan, kearifan lokal, berpikir kreatif, dan juga percaya diri.

Anna mengaku senang setiap kali berinteraksi dengan anak-anak karena mereka memiliki keunikan masing-masing. Ketika ditanya mengenai harapannya terhadap anak-anak di Indonesia, dia hanya ingin agar mereka mengalami masa kecil yang indah. ”Anak-anak harus medapatkan pengalaman semenyenangkan mungkin. Sebab, hal itu bersifat permanen,” ujar perempuan yang sekarang tinggal di Kompleks Ujungberung Indah ini. (Cecep Wijaya Sari)

Beburu Makanan Khas Kuningan

Pulang dari suatu daerah tanpa membawa oleh-oleh ibarat memanjat pohon tanpa memetik buahnya. Tak heran, banyak orang mencari jajanan khas ataupun cinderamata ketika pergi ke suatu daerah untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Termasuk di daerah Kuningan, Jawa Barat. Jajanan khas di kota yang disebut sebagai kota kuda ini salah satunya bisa ditemukan di Jln. Siliwangi, di sekitar bundaran Cijoho.

Di kawasan jalan tersebut, kita bisa menemukan berbagai makanan khas Kota Kuningan yang bisa dijadikan sebagai oleh-oleh. Di antaranya adalah peuyeum ketan, ketempling, dan leupeut. Selain itu, kita juga bisa menemukan minuman khas, yaitu jeniper.

Peuyeum atau tape ketan berbeda dengan peuyeum singkong yang biasa ditemukan di daerah Bandung dan sekitarnya. Selain bahan bakunya berbeda, peuyeum ketan juga dikemas dalam bentuk yang unik, yakni dibungkus dengan daun jambu sehingga menimbulkan aroma yang segar. Sebelum siap disantap, peueyum ketan difermentasikan selama tiga hari di dalam sebuah ember. Ember tersebut nantinya digunakan sebagai kemasan. Satu ember berisi sekitar 100 buah peuyeum dan dihargai Rp 40.000-Rp 50.000. Makanan ini cocok untuk hidangan pencuci mulut. Continue reading