Bocah Penjual Kerupuk itu Tulang Punggung Keluarga

Cuaca siang itu cukup terik ketika bocah itu berjalan lambat di sekitar Jalan Siliwangi, Baleendah, Kabupaten Bandung. Tangan kirinya menjinjing ember kecil, sementara tangan kanannya menenteng sekantung kerupuk. “Kurupuk.. Kurupuk..” ucapnya berkali-kali, menjajakan dagangannya.

Beberapa ibu-ibu tiba-tiba memanggilnya. Bocah itu datang menghampiri. Dengan cekatan, ia membuka kantung plastik berisi kerupuk dan ember kecil berisi saus untuk penyedap rasa.

Ibu-ibu itu memberinya lembaran rupiah setelah melahap beberapa kerupuk. Bocah itu menerima uang tersebut, lalu kembali menjajakan dagangannya.

Taufik Hidayat (13), nama bocah kecil itu. Sepulang sekolah, siswa kelas I SMP YPPI Baleendah itu tak langsung bermain, seperti teman-temannya. Ia punya kegiatan lain yang sudah menjadi rutinitasnya, yaitu menjual kerupuk.

“Saya jual kerupuk setelah pulang sekolah sekitar jam 12 sampai Asar. Jualannya keliling sekitar sini saja,” kata bocah yang tinggal di dekat Masjid Besar Dayeuhkolot ini beberapa waktu lalu.

bocah kerupuk

Taufik mengaku sudah berjualan kerupuk sejak masih SD. Ia mendapatkan kerupuk dari penjual langganannya di Dayeuhkolot dan menjajakannya di sekitar Baleendah. Kerupuk itu dijualnya Rp 1.500 per keping. Setiap hari, ia mendapatkan Rp 50.000 dari hasil dagangannya itu.

Meski demikian, uang itu tidak ia nikmati sendiri. Uang itu diserahkannya pada ibunya untuk dibagikan pada adik dan kakaknya. Ia dan kakak perempuannya yang kini kelas 2 SMA mendapatkan Rp 10.000, sementara adiknya yang masih kelas IV SD diberi Rp 5.000. Sisanya, ia serahkan pada ibunya untuk mengaturnya.

Siapa sangka, hasil penjualan kerupuk Taufik itu ternyata menjadi sumber penghasilan orang tuanya. Sejak ayahnya meninggalkan rumah waktu ia masih kecil, ibunya kini harus menanggung hidup tiga anaknya sendirian.

“Kalau ibu sekarang gak kerja. Kakak sama adik juga gak kerja. Yang kerja cuma saya aja, kebetulan dulu juga sempat ikut jualan kerupuk sama kakak sepupu di Dayeuhkolot,” tuturnya.

Sepulangnya berjualan kerupuk, Taufik sering kali tidak bermain dengan teman-teman seusianya. Ia lebih banyak di rumah sambil mempersiapkan diri untuk pergi mengaji saat tiba waktu Magrib.

Meski harus kehilangan sebagian waktu bermainnya untuk berjualan kerupuk, Taufik tak mengeluh. Ia justru senang lantaran bisa membantu ibunya mendapatkan uang. Sebagai anak lelaki tertua, ia menyadari dirinya suatu waktu harus menjadi pengganti ayahnya sebagai tulang punggung keluarga. (Cecep Wijaya/”PR”)

Dimuat di HU Pikiran Rakyat, Kamis, 22 Mei 2014

Advertisements

Puluhan Karyawan PT Adetex Gigit Jari

Puluhan Karyawan Adetex Gigit Jari

Kepala Risna Eriani (27) tertunduk lesu di tengah-tengah puluhan orang yang hadir di ruang audiensi Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Rabu (12/5). Dia seolah pasrah sesaat setelah mendengar keputusan pemilik perusahaan PT Adetex Banjaran yang tidak sesuai dengan harapannya.

“Saya kecewa karena jasa saya selama sepuluh tahun bekerja di perusahaan ini seolah tidak ada artinya,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak tahu bagaimana menghidupi keluarganya kelak setelah perusahaan tempatnya mengais rezeki itu tidak lagi memikirkan nasibnya.

Hal yang sama dirasakan Cecep Hendryana (28). Setelah satu dasawarsa bekerja di perusahaan tekstil multiproduk itu, kariernya terpaksa harus berakhir dengan tangan hampa. “Sudah empat bulan upah saya tidak dibayarkan. Bahkan, pekerja yang lain upahnya tidak dibayarkan selama 8 bulan,” katanya dengan nada getir.

Risna dan Cecep merupakan dua dari ratusan korban pemutusan hubungan kerja (PHK) PT Adetex yang belum menerima pesangon sesuai dengan aturan pemerintah. Rencananya, tahun ini perusahaan itu akan mem-PHK sebanyak 900 pekerja, 405 orang di antaranya telah di-PHK pada April lalu.

Namun, sebanyak 339 dari 405 karyawan yang di-PHK itu, telah kembali bekerja di perusahaan tersebut setelah menandatangani pernyataan kesepakatan untuk menerima kebijakan perusahaan. Sementara 66 karyawan lainnya menganggap surat pernyataan itu sangat memberatkan dan menuntut perusahaan untuk memberi upah dan pesangon sesuai dengan aturan yang berlaku.

Puluhan mantan pekerja PT Adetex berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Kabupaten Bandung, Senin (10/5). Mereka mendesak anggota dewan untuk menindak pengusaha PT Adetex yang tidak memenuhi hak mereka.

Namun siapa sangka, pada Rabu siang di Gedung DPRD Kab. Bandug, pemilik perusahaan yang telah berdiri sejak 1973 itu menyampaikan pandangan yang berbeda. “Mempekerjakan mereka kembali dengan tuntutan tersebut tidak mungkin dilakukan. Kami hanya bisa menerima karyawan yang menyetujui kesepakatan yang telah ditentukan,” kata Iik di hadapan Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung dan sejumlah karyawan Adetex.

Menurut Iik, kebijakan tersebut dibuat karena perusahaannya sudah menunjukkan gejala krisis sejak 2006 lalu dan mencapai puncaknya pada dua tahun terakhir. Iik menambahkan, output perusahaan pada 2007-2008 dari pemintalan hanya 25 persen, sementara biaya produksi yang dikeluarkan sangat besar.

“Dengan kondisi tersebut, kami terpaksa melakukan rasionalisasi dengan mengurangi jumlah produksi yang berimbas pada pengurangan jumlah karyawan,” katanya. Menurut dia, sejak 2007, di perusahaan tersebut telah terjadi penyusutan karyawan dari sekitar 5.000 orang menjadi sekitar 3.000 orang.

Hal ini disangsikan Ketua Depencab Gaspermindo Kab. Bandung, Mulyana Aryawinata. Dia mengatakan, saat ini perusahaan itu tetap merekrut karyawan baru dengan sistem kontrak, sementara ratusan karyawan lama di-PHK. “Kami akan terus menggugat kasus ini, sampai hak-hak kami benar-benar dipenuhi,” ujarnya.

Keputusan pemilik perusahaan itu tidak hanya membuat kecewa para karyawan tetapi juga Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Arifin Sobari, yang telah menunggu kedatangannya sejak April lalu.
“Sebetulnya pada pertemuan ini kami berharap agar menemukan titik terang. Namun, kami tetap menghargai keputusan dari pemilik perusahaan,” katanya. Dia menambahkan, selanjutnya anggota dewan hanya bisa memberikan surat anjuran kepada kedua belah pihak.

Beberapa jam kemudian, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung, Dadang Supardi mengeluarkan anjuran yang meminta perusahaan untuk mempekerjakan kembali para karyawannya atau memberi pesangon sesuai dengan undang-undang. “Namun, jika pemilik perusahaan tidak menanggapinya, kami serahkan masalah ini ke pengadilan,” katanya. Mendengar hal ini, puluhan mantan pekerja PT Adetex yang belum mendapatkan haknya itu, hanya bisa menggigit jari. (Cecep Wijaya S.)

Hari Terakhir UN Ditutup Doa Bersama

SEJUMLAH siswa SMAN 1 Cileunyi melakukan doa bersama di areal masjid sekolah seusai melaksanakan ujian nasional (UN) hari terakhir, Jumat (26/3). Hari terakhir pelaksanaan UN berlangsung lancar dan aman.

BANDUNG, (PR).-

Sejumlah siswa kelas XII SMAN 1 Cileunyi melakukan doa bersama di areal masjid sekolah, seusai melaksanakan ujian nasional (UN) hari terakhir, Jumat (26/3). Selain bersyukur telah menjalani UN dengan lancar, para siswa juga berdoa agar mendapatkan hasil yang terbaik.

“Kami mengimbau agar semuanya tidak bersenang-senang dulu, sebab masih ada ujian sekolah yang harus dihadapi,” ujar Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum SMAN 1 Cileunyi, Drs. Tafif Bachtiar, seusai memimpin doa bersama. Dia mengatakan, berakhirnya UN tidak perlu dirayakan dengan aksi corat-coret, melainkan tetap mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian berikutnya.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMAN 1 Cileunyi, Drs. Rasti Agus mengatakan. ujian sekolah akan dilaksanakan mulai Senin (29/3) meliputi ujian teori dan praktik. Meskipun demikian, Agus mengaku optimistis para siswa mampu melaksanakannya dengan baik. “Biasanya mereka tidak menganggap ujian sekolah sama sulitnya dengan UN,” ujarnya.

Sementara itu, hari terakhir pelaksanaan UN di sekolah tersebut tidak mengalami hambatan. Kepala Sekolah SMAN 1 Cileunyi Drs. Otang Rismas, M.Pd mengatakan, pelaksanaan ujian nasional di sekolah tersebut berlangsung lancar sejak hari pertama. Dia mengaku, selain telah mempersiapkan pelaksanaan UN dengan matang, hal tersebut juga terlaksana atas kerja sama panitia UN dengan beberapa pihak terkait, seperti Tim Pengawas Independen (TPI), pengawas ujian, dan petugas kepolisian.

“Distribusi soal berlangsung dengan lancar dan tidak ada hambatan,” kata Drs. Ujud Rusdia, M.Si., salah seorang Tim Pengawas Independen dari Universitas Bale Bandung. Dia menuturkan, beberapa siswa sempat mengalami ketegangan ketika melihat petugas kepolisian mengawasi mereka dengan mengenakan seragam dinas pada hari pertama UN. Namun, suasana kembali normal setelah petugas kepolisian tidak mengenakan seragam dinasnya pada hari-hari berikutnya.

Terkait dengan hasil UN kali ini, Agus mengaku optimistis semua siswa SMAN 1 Cielunyi lulus UN. “Berdasarkan hasil try-out yang dilakukan sebanyak tiga kali, nilai para siswa mengalami peningkatan. Oleh karena itu, kami berharap semuanya lulus,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang siswa kelas XII IPS 2, Raycha Sandra Anggraini (17) mengaku lega setelah melewati UN sampai hari terakhir. Dia mengatakan, dirinya cukup tenang selama mengikuti UN. ”Dibawa santai aja, kan sebelumnya udah persiapan,” katanya. Meskipun demikian, dia menambahkan, dirinya tidak sepenuhnya lega karena masih harus menghadapi ujian sekolah.

Hal senada diungkapkan Muhammad Riyana (17), siswa kelas XII IPS 3. Dia mengaku optimistis lulus UN. Walaupun sempat menerima SMS yang berisi kunci jawaban UN melalui telefon selulernya, dia mengaku yakin akan kemampuan sendiri. ”SMS itu kan belum tentu benar, lebih baik percaya diri aja,” kata siswa yang berencana mengambil jurusan Sastra Inggris di salah satu perguruan tinggi negeri ini. (Cecep Wijaya Sari)

Linda Beri Titiek “Wanita”

BANDUNG, (PR).-

Mantan Wartawan Gatra dan Tempo, Linda Djalil mempersembahkan lagu “Wanita” untuk penyanyi sekaligus aktris senior Titiek Puspa pada konferensi pers di Wisma Puspa, Jln. Pancoran Timur No. 21, Jakarta, Selasa (19/1). Lagu tersebut didedikasikannya untuk Titiek yang menderita kanker rahim.

Didampingi kedua putrinya, Petty dan Ella, Titiek bercerita tentang penyakit yang dideritanya itu di depan puluhan wartawan dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Titiek mengaku lebih bersemangat setelah mendengar lagu yang diciptakan sahabatnya, Linda itu. Oleh karena itu, di sela-sela keterangannya, Titik meminta Linda menyanyikan lagu tersebut.

Pada awalnya, Linda mengaku tidak yakin bisa membawakan lagu tersebut dengan baik. “Sebelum menyanyi saya katakan, mohon jangan perhatikan suara saya, tetapi cermatilah melodinya, musiknya, dan liriknya,” kata perempuan yang hengkang dari pekerjaannya sejak sepuluh tahun silam itu.

Meski demikian, semua yang hadir di Wisma Puspa itu terbawa hanyut dalam lantunan lagu yang dibawakan Linda. Titiek pun tak kuasa menahan tangis. Penyanyi senior Indri Yusnita yang juga hadir pada saat itu pun ikut menitikkan air mata. Beberapa sanak keluarga Titiek termasuk kakaknya, Elly Kasim memeluk Linda setelah selesai menyanyi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, Titik menderita kanker rahim sejak November 2009. Dia sempat menjalani empat kali kemoterapi dan belasan kali radiasi selama sebulan di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Namun, nenek 14 cucu itu itu mengaku terharu mendengar sahabatnya menciptakan lagu untuknya.

“Saya sampai nangis ada teman saya Linda Djalil yang bekerja sebagai wartawan, dengar saya sakit dia langsung buat lagu,” ujar perempuan yang akrab disapa tante di usianya yang senja itu. Dia mengatakan, lagu ciptaan sahabat sekaligus penggemarnya itu membuatnya lebih bergairah untuk mencapai kesembuhan.

Sementara itu, Linda mengaku terkejut ketika pertama kali mendengar kabar sakitnya Titiek dari keluarganya. “Hati saya ciut seciut-ciutnya,” katanya. Lalu, kondisi tersebut menginspirasinya untuk membuat sebuah lagu yang menggambarkan sosok Titiek.

“Lagu itu bercerita tentang ketegaran wanita Indonesia. Tentang duka yang selalu dilawan dengan doa,” ujar Linda. Dia mengatakan, Titiek Puspa adalah sosok wanita cantik yang energik, bersemangat, penuh kasih sayang, tegar, dan multitalenta. Oleh karena itu, dia mengharapkan lagu yang diciptakannya itu dapat membantu mengembalikan semangat hidup Titiek.

Pembuatan lagu tersebut melibatkan beberapa musisi kenamaan Indonesia seperti Addie M.S. dan Josef Djafar. Linda mengatakan, keduanya membantunya mengaransemen lagu “Wanita” yang pertama kali dibuatnya dalam bentuk melodi. Sementara lirik lagu tersebut dibuat oleh Jhodi Yudono.

Linda mengaku senang dengan lirik yang mengisi lagunya itu. “Apa yang saya gambarkan tentang Titiek Puspa dan wanita Indonesia yang pada umumnya kuat, tegar, hidup penuh dengan cinta itu, diimplementasikan Jodhi secara sempurna,” katanya memuji Jhodi. Linda mengatakan, lirik Jhodi dan aransemen Josef membuat lagu itu seakan membahana dengan jiwa yang bulat. (Cecep Wijaya Sari)

Berkreasi dengan Produk Lokal

Sepasang sepatu diambilnya dari sejumlah pasang sepatu putih nan polos yang dibiarkan berjejer di atas sebuah rak. Tangan kirinya mencengkeram sepatu, sementara tangan kanannya memegang kuas layaknya memegang alat tulis. Kuas tersebut dicelupkannya ke dalam wadah yang dipenuhi cat berwarna, lalu digoreskannya di atas permukaan sepatu.

“Perlu ketekunan dan kesabaran untuk melukis sepatu ini dengan baik,” ujar Karya Mulyana (27), seorang perajin sepatu lukis, sambil sekali-kali mengangkat dan menurunkan sepatu tersebut untuk melihatnya dari berbagai segi. Dalam waktu kurang dari satu jam, sepasang sepatu putih polos tersebut disulapnya menjadi sepatu lukis yang artistik.

Keberadaan Kota Bandung sebagai pusat kreativitas membuat Karya dan kakaknya, Iik Depi Hermawan (29), melirik sepatu lukis sebagai ladang mereka untuk mengais rezeki. Dengan modal awal Rp 500.000, pada Desember 2008, mereka memutuskan untuk membuka Toko Sepatu Lukis Bandung yang kini berlokasi di Jln. Rajawali Barat 39 itu.
Tren sepatu lukis atau sneaker sebenarnya sudah ada sejak tahun 1990-an. Pada awalnya, sneaker berasal dari negeri Paman Sam dan mulai masuk ke Indonesia sekitar 2006. Saat ini, sepatu lukis sudah mulai digandrungi sebagian besar anak muda dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Konsep sepatu lukis berbeda dengan bordir ataupun desain komputer. Sebab, gambar pada sepatu lukis dibuat langsung dengan tangan. Oleh karena itu, dengan sedikit sentuhan kreativitas dari tangan berbakat seperti karya, sepasang sepatu polos bisa dibuat menjadi sepatu artistik yang penuh gambar dan warna.

Walaupun bukan yang pertama kalinya mendirikan bisnis sepatu lukis di Bandung, Karya mengatakan bahwa produknya memiliki keunggulan dibandingkan dengan produk-produk lain yang sejenis. Selain merupakan produk lokal, produk-produk sepatu lukisnya memiliki pengemasan yang baik.

“Sepatu-sepatu (polos) ini diperoleh dari Cibaduyut. Kami menggunakan cat akrilik dan melakukan finishing dengan dipernis. Jadi, warna sepatu lebih cerah dan lebih awet,” kata lulusan pendidikan mesin dari salah satu universitas negeri di Bandung itu.

Model sepatu lukis yang ditawarkannya sangat bervarisasi. Di antaranya adalah gambar kartun, bunga, batik, graffiti, binatang, dll. Bahkan, Karya menambahkan, foto pemesan sepatu bisa dibuat menjadi lukisan. “Kami menyediakan berbagai model. Tetapi jika pemesan mempunyai desain sendiri, kami bisa melukiskannya,” tuturnya.

Dari berbagai model yang ditawarkan, Karya mengatakan bahwa model yang paling banyak dipesan adalah model kartun dan binatang. Hal ini disebabkan pemesan pada umumnya adalah remaja wanita. Namun, dia menambahkan, pemesan dari kalangan laki-laki juga tidak sedikit.

“Biasanya mereka memilih model graffiti atau gothic,” katanya.
Rina (17), salah seorang pelanggan, mengaku senang dengan model kartun. “Gambarnya lucu dan unik. Udah gitu, temen-temen banyak yang pake,” ujar siswi salah satu sekolah menengah kejuruan di Bandung itu.

Harga sepasang sepatu lukis di toko tersebut berkisar antara Rp 90.000-Rp 150.000, bergantung pada desain dan kerumitan gambar. Jika membawa sepatu sendiri, pemesan hanya dikenakan biaya melukis. “Biaya yang dikenakan untuk melukis saja, berkisar antara Rp 50.000-Rp 90.000,” ujarnya. Selain sepatu, Karya juga menawarkan produk-produk lain berupa tas, topi, dan sandal.

Untuk memasarkan produknya, Karya membuka situs online http://www.sepatulukisbandung.co.cc yang kini dikelola kakaknya. Dia mengatakan, bisnis online memungkinkan produknya dikenal seluruh masyarakat dari berbagai pelosok nusantara bahkan mancanegara.

Saat ini, tokonya sudah memiliki banyak agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Di antaranya terdapat di Padang, Palembang, Tanatoraja, Cirebon, Purbalingga, Bali, Samarinda, dan Timika, Papua.
Lalu mengapa dia memilih sepatu lokal sebagai bahan dasar produknya? “Selain harganya terjangkau semua kalangan, kami juga ingin membuktikan bahwa produk lokal tidak kalah bersaing dengan produk asing,” ujarnya. (Cecep Wijaya Sari)

Peduli Lingkungan Sejak Dini

Kedua bola matanya sekali-kali bergerak ke kiri dan ke kanan. Alisnya naik-turun. Jari-jari tangan kanannya sibuk menggaruk kepalanya. Tampaknya dia berusaha mengingat sesuatu.

“Banjir itu karena banyak yang buang sampah sembarangan di selokan. Jadi airnya mampet,” kata Jafan (3) menceritakan peristiwa yang dilihatnya di televisi. Sementara, teman-temannya yang lain meyimak penuturannya.

Sementara itu, seorang anak lainnya tampak mengernyitkan dahi. Napasnya tersengal-sengal. Matanya berkaca-kaca melihat salah satu halaman surat kabar yang dipegang kedua tangannya dengan erat. Halaman tersebut ternyata menunjukkan gambar reruntuhan tanah longsor dan evakuasi korban.

”Aduh… kita harus bantu nih… ngasih mi.. ngasih baju… ngasih makanan…” ujar Farisa (4) sambil tetap fokus melihat gambar tersebut. Kemudian, dia menunjukkan gambar tersebut kepada teman-temannya yang sedari tadi memperhatikannya.

Jafan dan Farisa adalah murid-murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Bunda Asuh Nanda yang terletak di Kompleks Kopo Indah Permai, Jln. Kopo Sayati, Bandung. Di hadapan guru dan murid-murid lain, dengan antusias mereka bercerita tentang bencana alam yang terjadi di Bandung beberapa waktu lalu. Setiap mencoba mengungkapkan peristiwa tersebut dengan kata-kata mereka sendiri, sang guru memberi mereka pujian.

Pengajaran seperti itu merupakan salah satu metode yang diterapkan di sekolah yang sudah berdiri selama 23 tahun itu. Para murid duduk membentuk lingkaran, sementara sang bunda – demikian sebutan untuk setiap guru – duduk di antara mereka untuk memberikan instruksi dan materi. Dengan demikian, guru dapat memantau setiap murid dan memastikan mereka memahami materi.

Materi yang diajarkan tidak hanya mengasah murid-murid secara kognitif, tetapi juga menyentuh aspek afektif dan psikomotorik mereka. Selain memberikan pengetahuan yang bersifat teoritis, guru-guru di sekolah tersebut juga mendorong para murid untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menumbuhkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar.

Di sekolah tersebut, para murid diajarkan bagaimana memanfaatkan limbah. “Botol-botol plastik bekas bisa dijadikan alat perkusi. Botol dan kaleng minuman bisa dibuat pot. Hasilnya dipajang di kelas,” tutur Mia Kusmiati (35), salah seorang guru, seraya menunjukkan hasil kreativitas para murid. Selain itu, dia menambahkan, para murid juga sudah dididik untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga tidak mencemari lingkungan.

“Sampah sayuran itu sampah organik. Kalau sampah botol dan kertas itu sampah anorganik. Jadi membuangnya harus beda,” ujar Nayo (3), salah seorang murid lainnya. Dia mengaku selalu membuang sampah pada tempatnya dan mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijadikan kreativitas di sekolah.

Rasa kepedulian terhadap lingkungan tersebut juga diakui Dini (30), salah seorang orang tua murid. Dia mengatakan, anaknya suka membuang sampah pada tempatnya dan memiliki kepekaan sosial. “Kalau ada pengemis di angkot atau di depan rumah, dia suka ngasih,” kata ibu muda yang menginginkan hal terbaik untuk anaknya kelak itu.

Sementara itu, Kepala TK Bunda Asuh Nanda, Elli Setyawati mengatakan, selain dididik untuk memiliki kepedulian sosial dan lingkungan, para murid juga diimbangi dengan pengetahuan umum dan pendidikan agama. Selain itu, mereka juga dibekali keterampilan berbahasa yang meliputi bahasa Inggris, Arab, dan Sunda.
Saat ini, tecatat 52 murid di TK Bunda Asuh Nanda di Kompleks Taman Kopo Indah. Sekolah ini merupakan salah satu dari delapan sekolah yang dikelola oleh Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Himpaudi) Indonesia, Anna Anggraini. Kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut mengacu pada kurikulum terbaru, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sementara metode yang digunakan berbasis Beyond Center and Circle Time (BCCT), di mana murid menjadi pusat aktivitas dan guru memfasilitasi mereka dalam proses pembelajaran. Selain itu, sekolah ini juga sudah menerapkan sistem moving class, di mana terdapat sentra-sentra pembelajaran seperti sentra science, agama, seni, bahasa, balok, dll. Dengan demikian, murid bergerak dari satu sentra ke sentra lain setiap berganti mata pelajaran dan bertemu dengan guru yang berbeda.

Menurut Anna, ketika ditemui, Minggu (7/3), 90% kecerdasan anak dibentuk pada usia antara 0 sampai 5 tahun. Dia mengatakan, pada usia tersebut, anak-anak mengalami proses pengumpulan informasi dari lingkungan sekitar yang kemudian membentuk pemahaman dan karakter mereka.

Dalam hal ini, peran orang tua dan guru sangat signifikan bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, Anna menambahkan, baik orang tua maupun guru harus memahami psikologi anak agar dapat memberikan pendidikan yang baik bagi mereka. “Sampaikan pendidikan kepada mereka dengan bahasa yang baik. Berikan penghargaan dengan tulus,” ujar Ketua Umum PAUD Jawa Barat itu.

Di sekolah PAUD yang didirikannya itu, Anna mencoba mendidik murid-muridnya dengan memosisikan dirinya sebagai teman bermain mereka. Dengan metode tersebut, anak-anak akan lebih bebas berekspresi. ”Di saat itulah, delapan kecerdasan majemuk mereka bisa dioptimalkan,” ujarnya. Dengan demikian, secara tidak sadar mereka belajar tentang kepedulian sosial dan lingkungan, kearifan lokal, berpikir kreatif, dan juga percaya diri.

Anna mengaku senang setiap kali berinteraksi dengan anak-anak karena mereka memiliki keunikan masing-masing. Ketika ditanya mengenai harapannya terhadap anak-anak di Indonesia, dia hanya ingin agar mereka mengalami masa kecil yang indah. ”Anak-anak harus medapatkan pengalaman semenyenangkan mungkin. Sebab, hal itu bersifat permanen,” ujar perempuan yang sekarang tinggal di Kompleks Ujungberung Indah ini. (Cecep Wijaya Sari)