Hatik!

Hampir setahun blog ini kosong dari tulisan dan selama itu pula saya tidak menulis di blog ini. Iya lah.. makanya kosong😀 Tapi, bukan berarti saya tidak menulis. Saya tetap menulis.. tapi bukan di blog ini. Kata Cak Lontong, mikir!

Banyak momen dan hal menarik yang saya alami tapi tidak tertuliskan di blog ini. Entahlah, mungkin karena saya baru menjadi seorang ayah. Kehadiran si kecil cukup mengalihkan perhatian, sehingga menulis pun jadi terabaikan. Ah, mungkin itu cuma alasan saja! Buktinya, si kecil tak pernah tidur lewat dari jam 9 malam. Istri pun paling malam tidur jam 10. Sementara saya tidur antara jam 11-12 malam. Artinya, saya punya cukup waktu pada malam hari untuk menulis. Yang jelas, saya belum bisa mengelola waktu dengan baik… hingga di usia saya yang ke-30 ini.. Oh my God!

Bicara soal manajemen waktu, baru-baru ini saya membaca buku bagus dan inspiratif. Judulnya, 99 Perbedaan Cara Mengelola Waktu Miliarder Vs Orang Biasa. Buku itu cukup provokatif. Menampar orang kebanyakan, termasuk saya, yang dia sebut sebagai orang biasa, yang berbanding terbalik dengan miliarder. Betapa tidak, miliarder biasa mengelola waktu dengan baik, sehingga mereka mampu mengerjakan hal-hal positif dan mencapai kesuksesan.

Sebut saja, para miliarder punya kedisiplinan tinggi terhadap waktu, tidak suka menunda, menyelesaikan pekerjaan yang sudah tercantum dalam daftar, tidak buang-buang waktu, fokus pada tujuan, lebih banyak membaca daripada menonton TV, dan masih banyak lagi. Sementara orang biasa tentu sebaliknya.

Dua hari membaca habis buku itu membuat saya mencoba mengingat-ingat kembali atas apa yang saya lakukan selama ini. Membayangkan masa-masa SD, SMP, SMA, kuliah, hingga bekerja. Dan juga merenungi aktivitas sehari-hari saya. Mulai dari bangun pagi, berangkat kerja, bergelut dengan pekerjaan, pulang kerja, bermain dengan anak, lalu menonton TV dan tidur. Besoknya, seperti itu lagi dan terus berulang-ulang. Betapa saya memang orang biasa. Orang kebanyakan!

Saya harus berubah.

Saya tak ingin selamanya menjadi orang biasa. Saya harus lebih baik dari sebelumnya. Setiap hari harus selalu ada inovasi dan pengembangan diri. Tidak boleh diperbudak pekerjaan. Penuhi diri dengan energi positif, pikiran positif, dan sebarkan aura positif juga. Mantapkan tujuan, kejar hingga tercapai. Jadilah orang bermanfaat. Jadilah miliarder! Saya pasti bisa!

Itulah yang terus menerus saya katakan dalam hati jika saya mulai malas melakukan sesuatu. Kalau bukan kita sendiri yang memotivasi, mau siapa lagi? Yang pasti, saya harus benar-benar memanfaatkan dan mengelola waktu dengan baik, termasuk waktu bersama keluarga.

p_20160925_130725

Tak terasa, Sophia hari ini, 10 Oktober 2016 genap satu tahun. Giginya bagian depan sudah tumbuh, atas dan bawah. Rambutnya sudah menyerupai ayahnya–ikal. Pipinya mirip bundanya sewaktu remaja–tembem. Matanya juga bulat, lebih mirip bundanya. Sering tertawa cekikikan ketika melihat atau mendengar sesuatu yang menurut dia lucu. Suka memegang barang apa saja di hadapannya, lalu melemparkannya sesuka hati. Sering menggigit benda-benda yang bisa dia pegang. Mungkin menurut dia, semua benda bisa dimakan. Tapi ia biasanya langsung tak berkutik ketika diperingatkan, membuat kami orang tua punya waktu untuk memungut benda-benda berbahaya dari tangannya.

Ia sepertinya suka kucing. Jika melihat binatang itu di depan rumah, ia suka menjerit. Bukan karena takut, tapi lebih ke geli atau gemes. Sama seperti melihat dirinya sendiri di cermin. Sama gemesnya saat ayah bundanya melihat dia. Saking gemesnya, saya sering panggil dia Hatik!, plesetan dari cantik. Istri saya tak mau kalah dengan memanggilnya Liha, plesetan dari saliha.

Ketika mendengar suara berirama, ia mencoba menirukannya. Ketika ayah bundanya membacakan cerita, ia juga merespons. Ketika kami mengajarinya mengucapkan “ayah”, “bunda”, dan “Sophia”, ia juga berusaha keras melafalkannya. Kami senang ia sudah bisa merespons kata-kata walau baru sebatas “ba-ba-ba” dan “ma-ma-ma”.

Sophia sekarang sudah bisa protes. Jika barang yang ia pegang diambil, ia menjerit. Begitu pun jika tontonan favoritnya dipindahkan, ia merengek. Ketika tak ingin diganggu, ia menepis siapa saja yang mencoba menyentuhnya. Jika belum akrab, jangan harap bisa menggendongnya. Sebab ia akan menjerit sekuat-kuatnya. Namun jika sudah akrab, ayah bundanya terkadang dicuekin.

Itulah Sophia yang sekarang sudah belajar berdiri dan berjalan. Ia suka memperhatikan hal-hal baru di sekelilingnya. Gemar main air ketika mandi. Senang melihat hujan turun dari balik jendela. Pantang menyerah menemukan ayah bundanya yang sedang main petak umpet. Sering bertepuk tangan tanpa sebab. Lalu mengangkat tangan ketika mendengar takbir. Dan terdiam beberapa saat ketika melihat bundanya salat.

Sophia tumbuh sesuai dengan perkembangan usianya. Alhamdulillah. Setiap hari, kami selalu menemukan hal-hal lucu darinya. Kami tak ingin kehilangan momen-momen indah bersamanya.

Barokallahu fii umrik, Sayang! Tidak ada perayaan khusus bagimu hari ini dan seterusnya. Mendoakan kebaikan buatmu dan buat orang-orang di sekelilingmu jauh lebih bermanfaat. Jadilah anak salehah dan berguna bagi manusia. Taat pada Allah dan rasul-Nya. Semoga kami menjadi orang tua yang amanah menjagamu! Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s