Nostalgia Akhir Pekan

Akhir pekan adalah waktu yang berkualitas untuk digunakan bersama keluarga. Maklum, sebagai karyawan, Senin hingga Jumat tentu habis untuk bekerja. Itulah sebabnya, saya dan istri tidak melewatkan waktu akhir pekan untuk bersama. Pekan lalu, kami memanfaatkan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di Kota Bogor, tempat kelahiran istri saya.

Selain kangen lantaran sudah lama tidak jalan-jalan berdua, bagi istri saya yang tengah hamil tua, sering berjalan katanya baik untuk mempermudah dan mempercepat persalinan. Untuk itulah, istri saya sudah merencanakan tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi hari itu. Namun, karena khawatir kelelahan, istri saya hanya mengajak saya ke dua tempat, yaitu Bogor Trade Mall dan Masjid Rosniah Al-Ahmad di Kompleks Bogor Nirwana Residence.

Dan benar saja, setelah berkeliling mal dan naik turun tangga beberapa kali, istri saya menyerah. Kakinya terasa pegal, sementara badannya pun ikut lemas. Waktu sudah menjelang Asar dan kami bersiap untuk pergi ke destinasi berikutnya, yaitu Masjid Rosniah Al Ahmad setelah sebelumnya menikmati sop durian di Jalan Pajajaran.

Setelah salat Asar di masjid tersebut, kami tidak langsung pulang. Istri saya mengajak saya berkeliling masjid dan mengambil beberapa gambar di sudut-sudut tertentu. Kami saling memandang dan sering kali tertawa geli dengan tingkah masing-masing. Tentu saja, karena masjid itu memiliki nilai sejarah bagi kami. Tepat setahun lalu, kami bertemu di masjid itu untuk pertama kalinya. Kami melangsungkan proses taaruf.

“Ayah, inget nggak, ayah dulu duduk di situ sambil malu-malu liatin aku,” ujar istri saya sambil menunjuk ke salah satu pojok masjid.

“Inget dong. Tapi yang malu-malu kayaknya Bunda deh,” balas saya tidak mau kalah.

“Ah, ayah mah enggak mau ngaku. Ngaku aja deh ga usah jaim,” ujar istri saya mempertahankan diri.

“Iya deh ngaku. Tapi, Bunda juga curi-curi pandang kan?” kata saya, masih tak mau kalah. Selama beberapa saat, kami saling memojokkan sambil mengingat-ingat momen-momen pertama kalinya kami bertemu.

Masjid Rosniyah Al Ahmad

Masjid Rosniyah Al Ahmad

Masih jelas dalam ingatan kami ketika melakukan proses taaruf hingga tahap bertemu muka itu. Saya didampingi kakak, sementara istri saya didampingi kakak sepupu dan istrinya. Momen itu adalah kesempatan untuk menggali sebanyak-banyaknya informasi mengenai calon pasangan hidup masing-masing. Sebab sebelumnya, kami hanya mendapatkan informasi pasangan melalui biodata, tak jauh berbeda seperti curriculum vitae untuk lamaran kerja.

Namun entah mengapa, saat itu kami tidak banyak melontarkan pertanyaan. Saya merasa cukup dengan jawaban istri saya (saat itu masih calon). Begitu pun dengan istri saya yang tidak banyak bertanya soal kepribadian saya.    Akibatnya, kami lebih banyak diam alih-alih aktif bertanya. Justru perantara kami lah yang saling membantu untuk mengajukan pertanyaan. Namun, mereka pun tak banyak menginterupsi kami lantaran hanya sebagai perantara. Ketika melihat kami saling terdiam, mereka sesekali tertawa kecil. Mungkin saja, mereka merasakan apa yang kami rasakan lantaran teringat pengalaman pribadi ketika dulu melakukan taaruf.

Alhamdulillah, proses taaruf yang singkat itu membawa kami ke jenjang pernikahan. Pada bulan-bulan pertama setelah pernikahan, kami pun tidak sulit untuk beradaptasi dengan tabiat masing-masing. Hari demi hari kami saling belajar memahami pribadi masing-masing untuk bisa berjalan beriringan dalam membangun rumah tangga. Padahal sebelumnya, kami tidak saling mengenal. Bahkan berteman di Facebook pun tidak. Namun, kami telah membuktikan bahwa pernikahan bisa terjalin tanpa harus melalui pacaran.

Lalu, bagaimana proses taaruf itu sebenarnya? Bagaimana mungkin dua orang yang berkenalan dalam waktu singkat bisa berkomitmen untuk menikah? Bagaimana kita mengenal lebih jauh calon pasangan kita? Dengan pacaran bertahun-tahun saja sering kali putus di tengah jalan, bagaimana dengan taaruf yang hanya sebentar? Pertanyaan-pertanyaan ini insya Allah akan coba saya jawab pada tulisan berikutnya bersamaan dengan kisah mengenai proses taaruf yang telah kami jalani.

Bernostalgia di Masjid Rosniyah Al Ahmad, Kompleks BNR, Bogor.

Bernostalgia di Masjid Rosniyah Al Ahmad, Kompleks BNR, Bogor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s