Nama dan Doa

Bagi Shakespeare, sebuah nama tidak begitu berarti. Sebab bunga mawar dengan nama apa saja akan tetap harum. Namun, bagi saya, nama itu sangatlah penting. Ia tak hanya sebuah sebutan, tetapi juga doa. Memanggil atau menyebut nama seseorang adalah juga mendoakan orang tersebut. Misalnya saja, nama Ahmad, Hamdan, atau Muhammad, yang berarti terpuji. Memanggil atau menyebut nama tersebut juga menjadi doa bagi pemilik nama tersebut. Sungguh tak terbayangkan bagaimana hal ini terjadi pada pemilik nama Saiton yang tenar belakangan ini.

Dalam sebuah tayangan televisi beberapa waktu lalu, saya melihat penampilan seseorang yang bermain gitar dengan cara unik. Dia tak hanya piawai memainkan irama dengan memetik senar-senar gitar, tetapi juga lihai memunculkan irama perkusi dari bodi gitar. Dia menyebut teknik itu sebagai fingerstyle. Pria itu bernama Andri Guitara.

Semasa kuliah dulu, teman saya dari ITB juga sempat memperlihatkan daftar nama peraih olimpiade Fisika internasional dari Indonesia. Di antara yang mendapatkan medali, ada yang bernama Thomas Alfa Edison, persis penemu bola lampu itu.

Itu hanya dua contoh nama yang terlintas di benak saya saat ini. Bukan tidak mungkin, orang tua dari kedua pemilik nama tersebut dulu berharap agar anaknya menjadi sosok yang sesuai dengan nama pilihan mereka itu. Dan benar saja, Andri Guitara ternyata kini mejadi pemain gitar unik, sesuai dengan nama belakangnya. Sementara Thomas Alfa Edison ketika dewasa menjadi ahli Fisika, seperti tokoh penemu bola lampu. Entah apa yang dipikirkan orang tua dari pemilik nama Saiton itu ketika memutuskan untuk memberikan nama itu kepada anaknya dulu.

Selain itu, tentu banyak nama lain yang sesuai dengan kondisi pemilik nama tersebut ketika tumbuh dewasa. Meski tidak selalu begitu, setidaknya nama yang bermakna baik tentu lebih baik ketimbang nama yang bermakna buruk atau bahkan tidak bermakna sama sekali bukan?

Soal nama inilah yang terus saya perbincangkan dengan istri saya mendekati kelahiran anak pertama kami. Awalnya, kami sudah menyiapkan nama laki-laki lantaran cukup pede calon bayi kami nanti itu laki-laki. Namun setelah hasil USG tampak jelas, ternyata calon bayi kami kemungkinan besar perempuan.

DSC_1760

Kami pun sibuk mencari pilihan nama bayi perempuan di internet dengan kata kunci β€œnama bayi perempuan Islami.” Banyaknya pilihan nama membuat kami pusing tujuh keliling. Ada deretan nama dua kata, tiga kata, bahkan sampai empat kata. Masing-masing mempunyai makna yang bagus dan indah.

Sempat terpikir untuk menamai bayi kami Fatimah, seperti putri Rasulullah saw. Namun, seketika saya batalkan lantaran itu nama belakang ibu saya. Sempat juga terpikir nama-nama sahabiyah dan istri nabi seperti Khodijah, Saudah, ataupun Maryam, ibunda nabi Isa. Namun, kami khawatir nama-nama sebagus itu menjadi jelek ketika nama panggilannya disesuaikan dengan lidah orang Sunda; Khodijah menjadi Ijah, Saudah menjadi Odah, dan Maryam menjadi Iyom. Terdengar tidak enak bukan?πŸ˜€

Perdebatan saya dengan istri soal nama untuk calon bayi kami ini terus berlangsung. Ada nama yang cocok untuk saya, tetapi tidak bagi istri. Begitupun sebaliknya. Ada nama yang dirasa pas oleh istri tetapi saya kurang sreg. Lantaran belum ada kesepakatan, akhirnya kami kerap melantur ke sana kemari. Kami saling mengusulkan nama-nama lucu dan konyol, sekadar untuk mencairkan suasana. Kami pun tertawa dengan tingkah konyol masing-masing.

Meski belum ada kesepakatan soal nama, setidaknya kami sudah sepakat dalam beberapa hal sebagai bahan pertimbangan. Kesepakatan itu di antaranya bahwa nama tersebut harus Islami, mengandung doa, dan baik. Saya mengusulkan dalam nama tersebut terkandung makna solehah, cantik, pintar, lucu, menggemaskan, jujur, penyayang, dan kalau bisa ditambah kaya. Mendengar ini, istri saya langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.πŸ˜€

Hingga pada suatu waktu dalam perjalanan pulang dari kantor, saya terpikir sebuah nama yang cocok untuk calon bayi kami nanti. Nama itu saya usulkan kepada istri saya sesampainya di rumah. Dan untuk pertama kalinya, kami sepakat dengan nama itu. Satu masalah pun terpecahkan. Namun, itu belum selesai. Sebab, kami sepakat untuk memberi tiga deretan nama untuk bayi kami. Jadi, masih ada dua nama lagi di belakang nama tadi yang harus dicari dan disepakati bersama.

Saya pun kembali berdebat dengan istri untuk menentukan dua nama belakang bagi bayi kami nanti. Namun, perdebatan tersebut tidak berlangsung alot seperti ketika menentukan nama depan. Kami akhirnya bersalaman, tanda sepakat untuk menamai bayi kami dengan deretan tiga nama itu. Nama itu adalah.. ups, maaf belum bisa saya tuliskan sekarang. Insya Allah, nama ini akan saya sampaikan pada tulisan berikutnya setelah anak kami lahir nanti. Mohon doanya agar bayi kami terlahir sehat dan normal, begitu pun dengan ibu yang melahirkannya agar diberi kekuatan, kesehatan, dan kemudahan saat persalinan nanti. Aamiin ya robbal alamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s