Menghitung Hari

waiting

Menghitung hari

Detik demi detik

Penggalan lirik lagu dari Krisdayanti yang populer di tahun 1998/1999 itu tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga saya belakangan ini. Bukan lantaran saya tengah dilanda putus cinta seperti cerita lagu tersebut. Namun, karena saya tengah menunggu kelahiran sang buah hati.

Tak hanya saya, tetapi juga istri saya. Sesekali, kami mendendangkan lirik lagu tersebut beberapa saat menjelang tidur. Namun, hanya sampai dua baris itu saja, sebab lirik selanjutnya tidak berhubungan dengan suasana kami saat ini.

Menurut prediksi, istri saya akan melahirkan pada awal Oktober ini. Berdasarkan pengalaman orang-orang, kelahiran biasanya maju atau mundur sepekan dari prediksi. Ini membuat hari-hari kami seakan menjadi lambat layaknya slow motion pada tayangan film. Namun pada saat yang sama, saya merasa waktu berjalan begitu cepat ibarat naik pesawat yang hanya dalam beberapa saat saja bisa sampai di luar kota bahkan luar negeri.

Rasanya baru kemarin, saya masuk taman kanak-kanak. Belajar menuliskan abjad dan huruf pada buku yang nyaris sobek akibat berkali-kali menghapus dengan karet gelang. Berebut mainan dengan teman lalu menangis. Terkadang, berantem dulu baru menangis. Bahkan, saya ingat betul ketika tertawa sambil menutup mulut lantaran malu gigi saya ompong.

Ketika beranjak remaja, saya pun sering minder akibat jerawat yang tumbuh sendiri tanpa ditanam. Saya kerap menundukkan kepala ketika berbicara, berharap agar orang tidak melihat jelas jerawat di muka saya. Padahal sebenarnya, dalam jarak beberapa meter saja jerawat di muka saya sudah terlihat.

Saya pun sering berkhayal akibat rajin nonton film Doraemon setiap Minggu jam 8 pagi. Saya ingin masuk lorong waktu menuju 10-20 tahun dari saat itu dan melihat apakah muka saya masih jerawatan atau sudah bersih. Krisis percaya diri benar-benar menimpa saya kala itu. Kata orang zaman sekarang, saya galau.

Kegalauan yang kurang lebih sama juga terjadi ketika saya menginjak usia 25 tahun. Galau melihat teman-teman seangkatan sudah menikah, sementara saya punya calon pun belum. Setiap bertemu teman lama atau ketika pulang kampung, pasti ditanya “kapan nikah?”. Pertanyaan yang sederhana, tetapi sangat sulit menjawabnya.

Namun, Allah telah mengatur segalanya dengan indah. Dia Maha Tahu kapan waktu yang tepat untuk mempertemukan dua insan yang saling berjodoh. Minggu, 4 Januari 2015 ternyata waktu yang ditentukan bagi kami untuk menjalin ikatan suci. Alhamdulillah.

Sembilan bulan sejak saat itu, kandungan istri saya sudah semakin matang. Gerakan si jabang bayi pun semakin aktif. Gerak istri saya makin terbatas. Serba tidak enak. Namun kami senang setiap kali si calon bayi merespons sapaan dan perbincangan kami dengan menendang-nendang perut ibunya, istri saya.

Mungkin inilah yang juga dirasakan para calon orang tua baru yang tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Berharap-harap cemas menunggu kelahiran sang buah hati. Mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik untuk menyambut kedatangannya ke dunia.

Bagi kami, ini adalah anugerah sekaligus amanah yang harus kami jaga sebaik-baiknya. Semoga semuanya dilancarkan dan diridai Allah SWT. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s