I’m So Happy to Have You

Kedua mata saya sempat terpaku pada gambar mobil mewah yang muncul di dalam deretan lini masa Facebook saya. Pemilik mobil itu tak lain adalah teman saya yang menggeluti bisnis MLM.

Dari keterangan gambar itu, dia membeli mobil seharga Rp 250-an juta itu dari bonus MLM yang dijalaninya. Dia bahkan masih punya simpanan yang lebih dari cukup untuk membeli apa pun yang diinginkannya.

Entah memprovokasi atau memotivasi, sebab perbedaan keduanya tipis sekali ketika dia menuliskan bahwa semua impiannya bisa terwujud dengan bergabung di bisnis itu. Dia pun keheranan mengapa orang begitu bodoh untuk tidak mengikuti jejaknya.

Saya termasuk salah seorang yang memutuskan untuk tidak menjalani bisnis MLM. Meski banyak perdebatan mengenai hukum MLM menurut Islam, saya lebih cenderung untuk menjalankan bisnis konvensional. Bisnis yang dulu dilakoni Rasulullah dan para sahabatnya, di antaranya Abdurrahman bin Auf.

Namun tetap saja, mendapatkan uang dalam jumlah fantastis dalam waktu yang singkat membuat hati saya bergemuruh. Ingin sekali memiliki kendaraan mewah, membeli rumah, dan sederet impian yang butuh materi untuk mewujudkannya. Dengan begitu, saya tak hanya bisa membahagiakan diri sendiri, tetapi juga keluarga, dan orang-orang di sekitar saya.

Pikiran itu sering kali terlintas di benak saya ketika membandingkan kondisi saya dengan orang lain yang lebih baik secara materi. Namun, pada saat yang sama, saya kembali berpikir soal tolok ukur kebahagiaan. Apakah materi satu-satunya penentu kebahagiaan?

Ternyata tidak. Setidaknya, itu yang diyakini Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung. Soalnya, ada orang yang punya banyak uang tapi dia tidak merasa bahagia lantaran banyak masalah. Sebaliknya, ada orang yang selalu berseri meskipun uangnya sedikit.

Dari kondisi itu, dia mengambil kesimpulan bahwa indikator kebahagiaan setidaknya mencakup tiga hal: bisa tersenyum setiap hari, bisa menyapa teman/tetangga setiap hari, dan bisa menemukan hal yang baru setiap hari. Untuk mewujudkannya, dibuatlah taman-taman publik di sejumlah titik di Kota Bandung seperti saat ini. Di taman-taman itu, orang-orang bisa berkumpul, saling menyapa, berbagi dan pada saat yang sama, bisa tertawa riang.

Sebuah pesan singkat tiba-tiba muncul di BBM Android yang sedang saya pegang. Dari istri saya. Dia mengirim foto narsis yang tengah tersenyum riang. Sebuah senyuman yang juga membuat saya tersenyum. Dan pada saat yang sama, saya menyadari bahwa kebahagiaan itu ada di depan mata.

I’m so happy to have you, my wife.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s