Me Time

Saya masih sedang memikirkan bahan untuk menulis berita ketika teman saya sesama wartawan menanyakan rencana pernikahan saya. Dia yang sudah punya anak satu itu tiba-tiba saja memberi nasihat, lebih tepatnya curhat soal kehidupannya setelah berumah tangga.

“Nanti kalau sudah menikah mah, kamu hampir tidak punya lagi waktu untuk sendiri. Semuanya pasti tercurahkan untuk keluarga, istri terutama anak,” katanya.

Teman saya yang sudah lima tahun berumah tangga itu merasa tak lagi punya cukup waktu untuk mengekspresikan dirinya. Dia merasa waktunya lebih banyak untuk keluarga. Bahkan, untuk sekadar menikmati hari libur pun, dia sulit sekali. Soalnya, waktu itu sering kali tersita untuk kehidupan rumah tangga.

Lalu, dia menyarankan kepada saya untuk membuat MOU dengan calon istri sebelum menikah. Dia meminta saya menuliskan apa-apa yang ingin dan tetap akan saya lakukan setelah menikah nanti, lalu minta istri saya menandatanganinya sebagai persetujuan. Jika ada pelanggaran setelah menikah nanti, saya bisa menuntut istri saya, dengan acuan MOU tadi. “Biar lebih kuat, pakai materai,” kata teman saya itu.

Mendengar itu, saya terpingkal dibuatnya. Namun, pada saat yang sama, saya pun mencoba merenunginya. Ada sesuatu yang bisa diambil dari perbincangan itu.

“Me time”, demikian orang-orang menyebutnya. Itu adalah ungkapan untuk menggambarkan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk melakukan aktivitas yang menjadi kesenangannya. Sebut saja untuk sekadar nongkrong di kafe, naik gunung, pergi ke pantai, liburan, nonton teater, belanja di mal, ataupun yang lainnya. Waktu untuk menikmati semua itu seolah langka setelah berumah tangga.

Saya cukup bisa memahami kondisi teman saya. Saat bujangan, memang ia bisa menggunakan waktu semaunya. Nongkrong dengan teman-teman hingga larut malam, pulang dini hari, pergi ke tempat-tempat favorit, dan melakukan hal-hal yang dia sukai. Tak ada batasan, tak ada yang melarang. Semua terserah dia sendiri.

Namun setelah menikah, kondisinya berbeda. Saat akan melakukan sesuatu, ada pihak lain yang harus diperhatikan, yaitu istri. Apakah istrinya tak keberatan jika ia pergi ke suatu tempat yang ia sukai. Apakah istrinya mengizinkan ketika ia ingin nonton bareng sepak bola di taman kota bersama teman-temannya. Apakah istrinya tak mempermasalahkan, ketika ia ingin berlibur ke suatu tempat hanya dengan teman-teman sepermainannya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Cukup rumit memang, ketika kondisi itu dipandang hanya dari kacamata pribadi. Suami merasa itu haknya, sehingga seharusnya istri tidak mempermasalahkannya. Di sisi lain, istri mungkin saja merasa dirinya ingin mendapatkan perhatian lebih banyak dari suami. Jadi, tak ada salahnya ia keberatan jika suaminya bepergian di hari libur tanpa dirinya. Sebab, pada hari kerja istri hanya kebagian sisa waktu dari sang suami.

Itu baru dari segi alokasi waktu. Belum lagi yang lainnya, seperti keinginan, pendapat, kebiasaan, pandangan, dan hal-hal lain yang mungkin berbeda. Jika tidak pandai menyikapinya, bisa jadi percekcokan dan pertengkaran mewarnai kehidupan rumah tangga setiap hari. Dari yang awalnya sedikit, lama-lama menjadi bukit bahkan gunung. Masalah kecil yang tak terselesaikan pun akan menjadi masalah besar yang berujung petaka. Naudzubillah.

Ilmu dan wawasan dalam berumah tangga memang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap masalah yang menerpa. Namun, ilmu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah pengamalannya. Dibutuhkan kesiapan mental masing-masing untuk bisa saling menerima, saling memahami, saling melengkapi, dan saling mengerti. Selama kedua pihak tidak melanggar norma yang telah disepakati, semuanya pasti bisa diatasi. Dengan begitu, masalah tidak akan melemahkan kehidupan rumah tangga, tetapi justru akan memperkuat hubungan dan menjadikan kehidupan rumah tangga lebih baik dari sebelumnya. Semoga saya bisa!

ceps

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s