Catatan Lebaran (1)

Hari kemenangan telah tiba. Semua bersuka cita merayakannya. Meskipun sebenarnya, sebagian orang merasa rindu dengan Ramadan yang baru saja berlalu. Mereka berharap bisa bertemu kembali dengannya di tahun-tahun berikutnya agar kembali bisa meraup pahala sebesar-besarnya.

Takbir berkumandang di pagi yang cerah diselingi semilir angin lembut yang sejuk. Warga merapatkan barisan di masjid. Saf jemaah pun meluber keluar lantaran di dalam masjid sudah terisi penuh. Allahu Akbar. Indah sekali jika pemandangan di masjid setiap hari seperti itu.

Bersalaman, saling berjabat tangan. Saling meminta maaf dan memaafkan. Pertanda manusia tak luput dari dosa dan khilaf, sehingga manusia lainnya harus berlapang dada memberi maaf. Bukan sekadar simbol, tetapi juga harus berasal dari lubuk hati yang terdalam. Agar, manusia kembali pada fitrahnya, seperti pertama kali ia lahir ke dunia.

Suasana Lebaran selalu saja seperti itu. Namun, ada yang berbeda dengan Lebaran kali ini. Lebaran kali ini kami rayakan tanpa kehadiran sang ayah. Ia telah menghadap-Nya sebelum Ramadan lalu. Semoga Allah mengampuni dan mengasihinya.

Sepulang dari masjid seusai salat Id, ayah biasanya selalu datang belakangan. Kami pun langsung menyalaminya begitu ia masuk rumah. Tak jarang, ayah meneteskan air mata saat kami para putranya meminta maaf. Padahal, menurut kami, kamilah yang seharusnya berlinang air mata lantaran belum bisa menjadi anak yang berbakti.

Sebelum bersilaturahmi ke para tetangga dan kerabat, kami dan ayah biasanya berkumpul di ruang depan. Ayah yang memulai pembicaraan. Biasanya, dimulai dari isi khutbah salat Id, lalu berlanjut kepada pembahasan informasi seputar keluarga, masyarakat sekitar dan hal-hal lainnya. Kami pun saling berkomentar. Ayah kembali menanggapi. Selalu saja ada hal-hal baru dan bermanfaat dalam obrolan hangat, sehangat minuman yang tersaji pagi itu.

Lalu, kami bergegas untuk ke rumah nenek. Di sanalah, pusat berkumpul keluarga besar kami. Sudah ada empat atau mungkin lima generasi yang berkumpul di rumah nenek setiap Lebaran. Rumah yang biasanya sepi itu mendadak menjadi ramai seperti pasar induk.

Namun, dua bagian itu—perbincangan kami dengan ayah dan kunjungan ke rumah nenek – pada Lebaran tahun ini diskip. Sebab, keduanya telah tiada. Ayah wafat sebulan sebelum Ramadan, sementara nenek tiada sekitar sebulan sebelum ayah. Ketiadaan keduanya membuat kami merasa kehilangan bagian penting dari suasana Lebaran. Yang membuat suasana Lebaran tahun ini sangat berbeda dengan Lebaran-Lebaran sebelumnya. Semuanya merasakan itu, tak terkecuali Ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s