Count Your Blessings

Dua hari terakhir, saya terserang flu dan batuk. Sungguh mengganggu sekali. Kepala jadi pusing, tidak sahur karena kesiangan, kerja pun tidak fokus. Selain itu, badan terasa lebih lemas dan kurang bergairah. Rencana menulis pun berkali-kali tertunda. Ah, jika saja ada remote control kehidupan, saya ingin skip bagian ini. Lalu, cling! Saya langsung berada di satu bagian di mana tubuh saya dalam kondisi fit dan bugar. Mimpi kali yee!

Syukurlah, saya masih bisa berpikir sedikit lebih jernih. Sakit ini, mungkin cara Allah menguji saya. Sejauh mana saya bisa tahan terhadap cobaannya. Dan, sejauh mana kualitas ibadah saya dengan cobaan ini. Lagipula, bukankah sakit itu menjadi penghapus dosa-dosa? Lalu, kenapa harus mengeluh?

Manusia, termasuk saya, memang punya banyak alasan untuk mengeluh. Padahal, masih banyak hal yang bisa kita syukuri. Cobalah hitung nikmat yang Allah berikan untuk kita hari ini. Saat bangun pagi hari, kedua mata kita masih terbuka, kedua telinga kita masih bisa mendengar dengan baik, otak kita masih bisa berpikir, tubuh kita masih bisa bergerak, kita masih bisa bernapas dan menghirup oksigen, lalu kita bisa pergi mengambil air wudu dan melaksanakan salat. Lalu, kita bisa menjalani aktivitas harian kita.

Saya terinspirasi dari tulisan Ramaditya Adikara, seorang penulis tunanetra. Ya, penulis tapi buta. Dalam salah satu statusnya di Facebook, dia menuliskan bagaimana rasanya menjadi seorang tunanetra. Dia meminta kita merasakannya dengan menutup mata kita. Ya, tutup saja kedua mata kita. Lalu apa yang terjadi? Tak ada yang bisa kita saksikan kecuali kegelapan.

Tanpa kedua mata, Anda tidak bisa membaca tulisan ini. Anda tidak bisa mengoperasikan HP, Laptop, ataupun gadget lainnya. Anda tidak bisa melihat indahnya bunga mawar. Tak bisa menyaksikan eloknya langit biru di pagi hari. Tak bisa memandang indahnya purnama di malam hari. Tak bisa melihat tampan dan cantiknya seseorang. Tak bisa membedakan siang dan malam. Tak bisa melihat senyuman, tawa, ataupun ekspresi wajah lainnya. Tak bisa menonton film box office. Tak bisa menulis status di Facebook, BBM, ataupun mengoceh di Twitter. Tanpa kedua mata, Anda sudah kehilangan banyak kesempatan untuk menyaksikan indahnya dunia.

Itu baru mata. Bagaimana dengan telinga? Cobalah matikan TV, radio, HP, ataupun alat elektronik lainnya yang mengeluarkan suara. Pastikan keadaan sekitar sunyi, lebih baik pada malam hari. lalu, tutup telinga Anda rapat-rapat. Pastikan anda tidak mendengar apa pun. Apa yang terjadi?

Dunia mendadak senyap. Tanpa suara. Tanpa nada. Tanpa musik. Hening. Sunyi. Tak ada yang Anda dengar kecuali dunia tanpa bunyi. Anda tak bisa mendengar suara merdu Ariel Noah. Anda tak akan tahu lengkingan suara Fatin yang serak-serak basah. Anda tak bisa mendengar suara Prabowo yang menggelegar ataupun suara Jokowi yang kental dengan logat Jawa-nya. Bahkan, Anda pun tak tahu logat Jawa seperti apa.

Tanpa telinga, Anda tak pernah tahu suara orang tertawa, menangis, ataupun marah. Anda tak tahu bagaimana kata-kata diucapkan. Anda tak akan tahu seberapa tinggi suara orang berteriak dan seberapa rendahnya suara orang berbisik. Hampir bisa dipastikan, Anda pun tak bisa menguasai bahasa apa pun, selain bahasa isyarat. Sungguh menyedihkan!

Dengan gambaran itu, masih patutkah kita untuk mengeluh? Menuliskan status-status keluh kesah di Facebook, Twitter, BBM, ataupun media sosial lainnya? Seperti dunia akan kiamat besok? Patutkah kita iri dengan apa yang orang lain miliki tanpa mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, mengingat banyak di antara mereka yang tidak memiliki apa yang kita punya? Bukankah lebih baik mensyukuri apa yang kita miliki ketimbang mengeluhkan apa yang tidak kita punya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s