Bocah-Bocah Penghapal Alquran

Tidak ada. Memang tidak ada. Dan, sungguh tidak ada satu pun acara pencarian bakat di televisi yang lantas membuat saya terharu bahkan meneteskan air mata saat eliminasi, kecuali salah satu tayangan Ramadan di TV swasta yang menampilkan para bocah penghapal Alquran (hafidz).

Itu terjadi pada salah satu tayangan, ketika Irfan Hakim yang mejadi host acara itu mengumumkan salah satu dari dua peserta yang dieliminasi. Ketika peserta yang dieliminasi itu diumumkan, seorang peserta lainnya yang sama-sama bocah langsung berlari dan memeluk temannya yang tersisihkan itu. Beberapa saat kemudian, teman-temannya yang lolos untuk tampil pada kesempatan berikutnya melakukan hal yang sama. Semuanya menangis terharu. Mereka kehilangan satu teman di karantina yang sama-sama ditempa untuk melakukan yang terbaik saat tampil di televisi. Derai air mata juga membasahi pipi para penonton yang menyaksikannya di studio.

Situasi itu, sebenarnya sudah lumrah pada ajang-ajang pencarian bakat di televisi, mulai dari menyanyi, menari, melawak, hingga sulap. Namun, yang membuat saya terharu pada acara yang satu ini yaitu bahwa bocah-bocah yang ikut dalam acara hafidz Alquran itu sebenarnya tidak ada satu pun yang layak tersingkirkan.
Di usianya yang berkisar 3-7 tahun, bocah-bocah itu sudah diarahkan orang tuanya untuk menjadi penghapal Alquran, kalamullah. Dan, para bocah itu tampak senang dengan arahan orang tuanya. Meski belum mengetahui maknanya, anak-anak itu seolah sudah menganggap Alquran sebagai sesuatu yang sangat berharga dan menyenangkan, jauh lebih menyenangkan daripada menghapal lirik-lirik lagu populer saat ini. Bayangkan, pada usianya yang masih bocah, mereka rata-rata sudah menghapal 2-3 juz Alquran bahkan lebih!

Pada salah satu tayangan, seorang peserta laki-laki yang berusia 5 tahun ditanya sang host, “Kamu pagi hari ngapalin Quran, siang hari ngapalin Quran lagi. Tiap hari ngapalin Quran, apa nggak bosen?” Dengan gaya polos tetapi bersuara lantang, anak itu menjawab, “Enggak.” Sang host bertanya lagi, “ Jadi, kamu senang ngapalin Alquran?” Anak itu menjawab dengan pasti, “Seneng banget!” Jawaban anak itu disambut dengan riuhan tepuk tangan penonton. Tak jarang dari mereka meneteskan air mata penuh haru.

Pada tayangan lainnya, seorang peserta perempuan berusia 6 tahun juga ditanya sang host ketika eliminasi akan diumumkan, “Kalau kamu gak menang sedih gak?” Anak itu hanya mengangguk tanpa berkata-kata.

“Sedih karena gak bisa nyenengin orang tua ya?” tanya sang host mengarahkan jawaban sang anak.

“Bukan ituuu…”
“Terus, kalau menang emang buat siapa?”

“Buat orang-orang sekampung,” ucap anak itu sambil berurai air mata.

Rupanya, di balik segala keluguan dan kepolosannya, anak sekecil itu sudah berpikir untuk menyenangkan orang lain. Kemenangannya bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang tuanya, tetapi untuk orang-orang sekitar yang mendukungnya. Sang ibu, yang menyaksikan dan mendengarkan langsung jawaban anaknya itu, tak kuasa membendung air matanya. Bangga dan haru bercampur jadi satu.

Masih anak yang sama, pada tayangan lainnya, juga saat bagian eliminasi ditanya sang host, “Kamu kalau misalnya menang, nanti hadiah umrahnya mau dipersembahkan buat siapa?” Spontan anak itu menjawab, “Buat Umi.”

“Kenapa buat Umi? Kenapa gak buat Abi?” tanya sang host.

“Iya, soalnya Umi paling aku cinta nomor satu,” ucap anak itu sambil berisak tangis.

Jawaban sang anak kontan membuat ibunya yang menyaksikannya di antara ratusan penonton lainnya tak kuasa menahan air matanya. Belum sempat ibunya berkata-kata, anak itu melanjutkan kata-katanya. “Aku sayang sama Umi.” Maka bercucuranlah air mata sang ibu setelah mendengarnya. Juga para penonton lainnya di studio. Termasuk Irfan Hakim, sang host. Semuanya terharu sekaligus takjub mendengar ungkapan tulus seorang anak terhadap ibunya.

Adalah sebuah pilihan yang mulia ketika orang tua memutuskan untuk mengajari anak-anaknya membaca dan menghapal Alquran. Sebab, usia anak-anak adalah masa keemasan untuk menginstall dasar-dasar perilaku yang nantinya akan sangat berpengaruh ketika ia dewasa. Jika dasarnya baik, kelak ia akan menjadi manusia yang baik. Sebaliknya, jika dasarnya buruk, ia akan menjadi manusia yang buruk pula. Alquran, tentu menanamkan dasar-dasar yang positif bagi anak.

Sungguh pilihan yang cukup langka ketika orang tua memutuskan anaknya mengajari Alquran. Sebab, kebanyakan orang tua justru bangga jika anaknya pandai menyanyi, menari, bahkan menjadi model, layaknya para artis yang sering menghiasi layar kaca. Mereka bangga ketika anaknya yang masih 3-4 tahun hapal lirik-lirik lagu populer ataupun mengucapkan kata-kata yang dianggap gaul. Sebaliknya, mereka kerap lupa mengajarkan anaknya membaca doa sebelum makan, melapalkan beberapa ayat Alquran, ataupun sekadar mengucapkan terima kasih ketika menerima hadiah ataupun pemberian dari orang lain.

Maka, berbahagialah para orang tua yang mengajari anak-anaknya membaca Alquran hingga menghapalnya. Sebab, mereka mendapatkan pahala dan kebaikan di samping jaminan surga lantaran anaknya yang hafidz Quran. Dari Ali bin Abi Thalib Ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca Alquran dan menghapalnya, Allah akan memasukkannya ke surga dan memberinya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya, mereka telah ditetapkan masuk surga.” (HR Ibnu Majjah dan At-Turmudzi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s