Malam Minggu Janganlah Kelabu

Ini malam Minggu. Seperti biasanya, selalu kelabu. Tak ada pasangan, hanya sendiri menatap langit tak berbintang. Seperti para jomblo yang bertebaran di muka bumi, saya juga berharap hujan turun. Agar mereka yang punya pasangan tanpa ikatan suci itu tak menikmati malam ini dengan bersenang-senang. Gerimis pun turun. Saya lega. Namun, itu hanya berlangsung sebentar. Hujan ternyata malu-malu untuk turun malam ini.

Lupakan itu semua. Saya ada seorang perempuan untuk dihubungi malam ini. Sudah dua pekan saya tidak menemuinya karena terbentang jarak. Padahal, saya ingin sekali perempuan itu selalu di dekat saya. Agar saya bisa memastikannya baik-baik saja. Perempuan itu adalah ibu saya, yang baru ditinggal pergi suaminya, ayah saya, untuk selamanya.

Ada yang hilang saat saya menelefon ibu saya. Biasanya, saya menanyakan kabarnya lalu menanyakan kabar Apa, ayah saya. Kali ini, saya tak bisa lagi menanyakan kabar Apa. Sebab, ia sudah dipanggil lebih dulu oleh Yang Mahakuasa. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima semua amal ibadahnya, dan menempatkannya di surga-Nya.

Tak dimungkiri, semoga ini tidak dikategorikan sebagai ratapan, saya masih selalu teringat almarhum. Masih teringat jelas sosok Apa yang selalu membangunkan saya untuk salat subuh di masjid setiap saya pulang ke rumah. Masih terbayang sosoknya yang selalu mengaitkan setiap pembicaraan dengan agama. Masih tertanam di kepala saya akan pesan-pesannya untuk menjadikan agama sebagai sandaran kehidupan.

Ketika sudah mengidap penyakit diabetes, Apa sudah berusia 60 tahunan. Namun, ia masih bersemangat mencari ilmu agama. Ia kerap menghabiskan waktu di majelis taklim, dan membaca buku Fadilah Amal setiap hari. Melihat Apa melahap lembaran-lembaran buku berisi kisah sahabat dan keteladanan rasul itu seperti melihat anak kecil membaca komik. Seperti sangat menikmatinya. Namun, Apa tak hanya membaca, tetapi juga menyampaikannya, dan tentu saja mengamalkannya.

Mengingat sosok Apa yang luar biasa, sangat bisa dipahami jika Mamah merasa sangat kehilangan. Betapa tidak, Mamah sudah hidup bersama Apa selama lima puluh tahunan. Jauh sebelum saya dan anak-anak yang lain lahir. Betapa banyak kisah suka-duka yang mereka alami bersama. Mulai dari membangun rumah tangga, mengurus kami, membesarkan kami hingga dewasa sampai akhirnya kami meninggalkan mereka berdua ke luar kota. Ah, banyak sekali pahit manisnya kehidupan yang mereka jalani. Sampai akhirnya Apa lebih dulu meninggalkan kami.

Sangatlah wajar, jika Mamah bilang kini ia merasa malas pergi ke mana-mana. Ia merasa tak bersemangat melakukan apa pun. Seperti kehilangan energi sepeninggal Apa. Di ujung telefon sana, ia menangis ketika ingat sosok Almarhum. Ia teringat masa-masa ketika merawat Almarhum menjelang akhir hayatnya. Mamah selalu khawatir jika sebentar saja meninggalkan almarhum sendirian di rumah. Apa sering sekali merasa sesak dan lelah meski tidak banyak beraktivitas. Allah, saya sangat merasakan dan memahami apa yang Mamah rasakan saat ini. Semoga Allah menguatkan Mamah untuk melewati semua ini.

Saya mencoba membesarkan hati Mamah. Saya mengingatkannya bahwa yang dibutuhkan Apa saat ini adalah doa dan amal kebaikan untuknya. Dalam beberapa riwayat yang saya baca, selain doa anak saleh, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat, ada pahala yang tetap mengalir kepada almarhum. Itu di antaranya berupa sedekah atas nama alamarhum dan tetap menjaga silaturahmi dengan kerabat dan teman-teman dekat almarhum.

Mendengar itu, Mamah sejenak berhenti menangis. Tampaknya ia merenunginya. Semoga semakin hari ia semakin kuat dan bisa mengikhlaskan Apa. Semoga malam ini tidak menjadi malam Minggu kelabu baginya, juga bagi saya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s