Selamat Jalan, Apa.. Insya Allah Surga Tempatmu

Obrolan siang itu bersama Apa terasa sangat indah. Berkaus oblong, berkopiah putih, lengkap dengan sarungnya, Apa bercerita tentang banyak hal. Mulai dengan menceritakan kondisinya yang sebelumnya drop dan saat itu sudah membaik, kejadian-kejadian di lingkungan rumah, hingga menanyakan kabar dan kondisi saya sekaligus rencana saya ke depan. Pembicaraan di ruang keluarga itu begitu mengalir sampai tak terasa waktu sudah menjelang Zuhur. Hingga saya menanyakan padanya satu hal, yang ternyata membuat air matanya berlinang.

“Pa, aya kahoyong teu nu teu acan kacumponan?”

“Ah, teu aya, Cep..,” kata Apa yang terdiam sejenak, sebelum melanjutkan kata-katanya, “…Apa mah ngan ukur hoyong ibadah. Teu aya deui.”

Selama beberapa detik, suasana hening. Hingga perlahan air mata Apa menetes, membasahi pipinya yang tak lagi kencang.

***

Hoyong ibadah. Ingin beribadah.

Itu sering kali Apa ucapkan setelah didiagnosis menderita penyakit diabetes sejak sepuluh tahun lalu. Dua tahun terakhir, jantungnya kian melemah. Kadar gula dalam darahnya selalu naik-turun, sehingga ia tak bisa banyak beraktivitas. Makanan dan minuman pun harus dijaga teratur. Sementara, sedikitnya lima butir obat ia minum tiga kali sehari. Tidak pernah terputus selama setahun lebih.

Di tengah kondisi itu, Apa selalu bilang ingin beribadah. Padahal sebenarnya – tanpa bermaksud menyanjung beliau – ia tak pernah lewat dari salat awal waktu. Meski tergopoh-gopoh, ia selalu memaksakan diri untuk salat berjamaah di masjid. Dengan napas tersengal, Apa juga sering azan di masjid. Ketika salat, ia selalu berada di saf terdepan. Ia pun kerap datang ke masjid lebih awal dan pulang belakangan.

Apa tak pernah tinggalkan salat malam. Pagi hari, selalu ia isi dengan salat Duha. Hampir sepanjang hari, ia membaca Alquran. Dalam sebulan saja, ia khatam 2-3 kali. Dan, kepada siapa pun yang ditemuinya, Apa selalu berbicara tentang agama. Selalu mengingatkan bahwa kehidupan akhirat lebih utama ketimbang dunia, meski tak semua orang menghiraukannya.

Kecuali soal agama, Apa tak banyak bicara. Ia juga tak banyak menuntut ini-itu kepada anak-anaknya. Ia menyadari, kami sudah bisa menentukan pilihan masing-masing. Yang ia lakukan hanyalah mengingatkan dan memberi teladan. Agar kami anak-anaknya, bisa mengambil pelajaran darinya.

Ketika anak-anaknya sudah tinggal di luar kota, Apa juga jarang berkomunikasi. Bukan tidak ingin melakukannya, tapi mungkin ia tak ingin mengganggu aktivitas kami, anak-anaknya, yang seharusnya lebih aktif menanyakan kabar dan kondisinya. Apa lebih senang berkomunikasi kepada sang Khalik, melalui doa-doa yang selalu dipanjatkannya di sepertiga malam. Ia selalu mendoakan kami agar memiliki kehidupan dunia dan akhirat yang baik, meskipun kami terkadang lupa mendoakannya.

Namun diam-diam, Apa selalu menanyakan kondisi kami melalui Mamah. Apalah yang meminta mamah untuk menghubungi kami satu per satu, menanyakan kabar kami, pekerjaan kami, hingga kehidupan rumah tangga anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Jika ada di antara kami yang tengah dilanda masalah, Apa dan Mamah ikut gelisah. Mereka ingin sekali membantu, tetapi tak banyak yang bisa dilakukannya selain selalu mendoakan agar kami diberi kemudahan dalam menghadapinya.

Senang rasanya, setiap Mamah mengabarkan kondisi Apa membaik.

Gembira rasanya, ketika Mamah bilang, Apa sudah bisa makan dengan baik saat pagi, siang, dan sore hari.

Riang rasanya, ketika Mamah bilang, Apa sudah bisa berjalan kaki 1-2 km setiap pagi.

Suka rasanya, ketika Mamah mengatakan, Apa sudah bisa pergi lagi ke masjid untuk salat berjamaah.

Hati saya pun melonjak girang, ketika tempo hari Mamah bercerita, Apa senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman dalam kelompok dakwahnya. Wajah Apa yang biasanya lesu, mendadak berbinar tak ubahnya anak kecil mendapatkan mainan baru. Apa tampak begitu bersemangat. Sesekali ia tertawa cekikikan, seolah lupa bahwa pada saat yang sama, ia tengah bergelut dengan penyakitnya yang sudah menahun. Berbicara tentang usaha agama adalah hal yang membuat Apa merasakan nikmat hidup sebenarnya.

Namun, kami merasa cemas setiap kali Mamah mengabari kami, kondisi Apa menurun.

Kami khawatir saat kadar gula darah Apa naik ataupun turun drastis.

Kami gelisah ketika Apa tak lagi bisa berjalan kaki setiap pagi.

Kami risau saat Apa tak kuat ke masjid untuk salat berjamaah.

Kami waswas saat Apa hanya bisa salat sambil duduk.

Kami tak tenang ketika Apa makan sekepal nasi, tapi hanya habis seperempatnya, lalu muntah-muntah setelahnya.

Hingga enam hari setelah obrolan siang itu, kami sangat terpukul mendengar kabar bahwa Apa sudah tiada. Minggu, 1 Juni 2014 menjelang Asar, Apa mengembuskan napas terakhir di atas pangkuan Mamah, yang hampir setengah abad hidup bersamanya, merasakan pahit-manisnya kehidupan. Apa kembali pada-Nya setelah sebelumnya menunaikan kewajibannya, yakni salat Zuhur awal waktu.

Kini Apa sudah pergi, dan tak akan pernah kembali. Jasadnya yang berasal dari tanah telah kembali ke tanah. Mamah bilang, Apa sekarang sudah terbebas dari segala penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun. Ia tak lagi harus minum belasan butir obat setiap hari. Tak juga harus makan dan minum dengan sangat terbatas. Sebab, ia sudah tenang di sana, menghadap sang Pencipta.

Beruntung, saya bisa mengantarkannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Saya juga sempat menyaksikan wajahnya yang bersinar ketika kedua matanya tertutup untuk selamanya. Tenang sekali. Di usianya yang ke-72, Apa meninggalkan Mamah, 6 anak, dan 13 cucunya.
image

***

Memang tak bisa dimungkiri, kami kehilangan sosok Apa. Sosok pemimpin dalam keluarga. Yang sering menjadi sandaran untuk memecahkan persoalan kehidupan dengan pandangan agama. Yang pendapatnya sering didengar pada musyawarah tingkat desa. Yang menjadi panutan dalam kehidupan berumah tangga. Yang telah berhasil membesarkan anak-anaknya hingga dewasa dan mandiri. Yang mewarisi anak-anaknya nilai-nilai kebaikan, yang lebih berharga dari sekadar harta warisan.

Yang tidak pernah meninggalkan salat hingga ia disalatkan. Yang selalu bersyukur dan mengambil hikmah di balik setiap peristiwa. Yang selalu berusaha tersenyum di depan anak-anaknya, meski ia tengah sakit hebat.

Yang selalu sederhana. Yang mementingkan kebutuhan daripada keinginan. Yang tak pernah meminta apa pun dalam bentuk materi dari anak-anaknya. Yang selalu menikmati makan dengan tahu-tempe ditambah sambal terasi, ataupun bubur ayam dan bubur kacang seharga tiga ribuan. Yang tak pernah lepas dari kopiah dan sarungnya setiap hari. Yang hanya memakai batik dan celana katun pada acara-acara resmi, agar tidak membuat anak-anaknya malu dengan penampilannya. Yang sangat mencintai motor bebek jadulnya, meski banyak yang mencemoohnya.

Yang tak pernah bosan mengingatkan anak-anaknya agar tidak meninggalkan salat dalam kondisi apa pun, yang telah ia buktikan sendiri hingga akhir hayatnya. Yang tak pernah bisa menyaksikan hari pernikahan seorang anak laki-lakinya yang terakhir—ialah saya—suatu saat nanti jika Allah masih memberi umur. Yang membuktikan kebenaran firman-Nya bahwa ketika ajal sudah datang, tak ada yang bisa memajukannya ataupun memundurkannya. Namun, Insya Allah, Mamah dan kami semua ikhlas dengan kepergiannya.

Selamat jalan, Apa.. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu. Menerima semua amal salehmu. Kebaikanmu abadi dan akan tetap dikenang sepanjang masa. Insya Allah, surga tempatmu. Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di surga-Nya. Amiin ya rabbal alamin.

*) Kepada siapa saja yang membaca tulisan ini, dimohon keikhlasannya untuk mendoakan Apa, atas nama H. Sayim Suranto (H. Yasin) bin H. Abdul Karim agar almarhum diterima semua amal ibadahnya dan diampuni dosa-dosanya. Insya Allah, doa dari siapa pun dan di mana pun akan sampai kepada yang dituju. Dan, semoga yang mendoakannya mendapatkan pahala kebaikan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amiin.
image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s