I Love You, Mama

Lelaki muda itu tampak berapi-api. Di hadapan para kliennya, ia menjelaskan sejumlah slide presentasi. Ia menjawab setiap pertanyaan klien, mengomentarinya, lalu menarik kesimpulan yang bisa diterima. Riuhan tepuk tangan menggema di ruangan rapat itu.

Telefon selulernya tiba-tiba bergetar dan berdering. Lelaki itu meraihnya dari dalam saku celananya. Panggilan dari Mama. Ia diam sejenak sambil mengernyitkan dahi. Ah, kenapa ia lupa mematikan HP pada acara penting itu. Kenapa pula ibunya menelefonnya saat jam sibuk. Lelaki itu mengabaikan panggilan itu, lalu melanjutkan presentasinya yang menarik itu.

Presentasi pun selesai. Para klien menyalami pria itu, pertanda puas akan presentasinya. Sebuah presentasi bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak. Siapa tak mau menerimanya.

Senja hampir ditelan malam. Pria itu bergegas masuk ke mobilnya. Ia ingin segera pulang dan menceritakan pada istrinya soal presentasinya tadi. Betapa senangnya ia hari itu.

Telefonnya kembali berdering. Lagi, panggilan dari Mama. Pria itu tak mengangkatnya. “Ah, besok saja aku ke rumah Mama,” pikirnya. Hari itu, ia merasa cukup lelah. Tak mungkin jika harus ke rumah Mama sekarang. Sebab, ia harus berputar arah dan pasti terjebak macet panjang.

“Sial!” umpatnya dalam hati. Lampu merah di perempatan jalan menyala. Padahal, ia ingin cepat sampai di rumahnya, bertemu dengan istrinya, dan menceritakan presentasinya tadi. Macet di ibu kota memang sudah biasa, tapi sore itu rasanya lama sekali.

Seorang anak kecil melompat kecil di depan mobilnya. Anak itu menawarkan dagangannya: kincir kertas. Pria muda itu terpaku. Benda yang dijajakan anak itu mengingatkannya ke masa lalu. Ia ingat betapa senang dirinya waktu ibunya memberinya kincir kertas saat itu. Ia berlari ke sana kemari, sambil sesekali melompat agar kincir kertas itu terus berputar.

Pria muda itu memanggil bocah penjual kincir kertas. Beruntung, bocah itu masih punya sisa jualannya satu lagi. Pria itu meraihnya, lalu memberi bocah itu lembaran rupiah.

Bocah itu tampak senang jualannya hari itu laris manis. Ia bergegas ke toko bunga dan membeli beberapa tangkai. Pria itu penasaran, untuk apa bocah itu membeli bunga.

Lampu merah diperempatan sudah berganti jadi lampu hijau, tapi pria itu tidak langsung melaju. Diam-diam, ia mengikuti bocah penjual kincir kertas itu. Ia selambat mungkin menjalankan mobilnya agar bocah itu tak luput dari pengawasannya.

Hingga akhirnya bocah itu berhenti di suatu tempat. Sebuah tempat pemakaman! Pria itu kaget setengah tak percaya, untuk apa bocah itu pergi ke kuburan sore-sore. Dari kejauhan, pria itu melihat bocah itu menaburkan bunga di atas kuburan itu. Bocah itu menyimpan selembar kertas bergambar sesuatu di atas taburan bunga itu, sebelum ia beranjak pergi.

Pria itu makin penasaran. Ia keluar dari mobilnya lalu mendekati kuburan yang didatangi bocah tadi. Ia melihat batu nisan bertuliskan nama seseorang. Nama itu tidak dikenalnya. Pandangannya kini tertuju pada kertas yang disimpan anak tadi di atas taburan bunga.

Lelaki muda itu tiba-tiba tersentak. Hatinya berdebar hebat. Sesaat kemudian, air matanya meleleh ketika melihat gambar dan tulisan pada kertas itu. Gambar emoticon smiley, tapi ukurannya cukup besar. Di bawahnya, ada tulisan: I Love You, Mama.

—–

*) Kisah ini dideskripsikan dari tayangan azan Subuh di salah satu stasiun TV. Tadinya, saya berencana menghubungi ibu saya setelah tulisan ini selesai. Tapi, ibu saya tiba-tiba menelefon duluan. Subhanallah! Mungkin ini yang dinamakan kontak batin. I love you, Mom!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s