Sepuluh Kali Lipat

Hari Sabtu seharusnya Rohimah bisa beristirahat di kosnya karena tak ada jadwal kuliah. Namun, uang jajan kiriman orang tuanya yang terbatas, membuat dia memanfaatkan hari libur itu untuk mencari penghasilan tambahan. Ketika matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, gadis berkerudung itu sudah bergegas ke Pangdam untuk menuju ke tempat kerjanya di Bandung.

Bukan. Bukan Pangdam yang memimpin di Kodam III/Siliwangi. Pangdam yang dituju Rohimah merujuk ke satu tempat di pertigaan jalan raya Jatinangor-Sumedang dan jalan menuju kampus Unpad dan Universitas Winaya Mukti (sekarang menjadi kampus ITB Jatinangor). Tempat itu biasa menjadi tempat “mangkal” sejumlah bus Damri Jurusan Jatinangor-Dipatiukur sebelum areal Kampus Unpad Jatinangor di bagian depan dijadikan jalan umum seperti sekarang. Itulah sebabnya tempat itu dikenal dengan nama Pangdam alias Pangkalan Damri. Entah siapa yang mulai menamainya, tetapi semuanya seolah sepakat dengan nama itu.

Hingga kini, Bus Damri sepertinya memang menjadi angkutan paling efektif bagi mahasiswa di Jatinangor yang akan pergi ke Bandung. Meski sering kali harus berdesakan dan tidak kebagian tempat duduk, bus ini selalu menjadi pilihan lantaran ongkosnya yang berpihak pada kantong mahasiswa.

Rohimah berlari terbirit-birit mengejar bus yang baru saja tancap gas meninggalkan Pangdam. Ia tak mau menunggu bus berikutnya karena ia bisa telat masuk kerja. Untunglah bus itu belum melaju kencang sehingga ia masih bisa mengejarnya.

Melalui pintu belakang, dia masuk bus dan tentu saja ia harus berdiri karena tempat duduk penuh. Ia terpaksa harus susah payah menjaga keseimbangan tubuhnya menahan laju bus yang kerap terjengkang-jengkang. Kedua kakinya terasa cepat pegal.  Apalagi, ia hanya berpegangan pada tempat duduk di depannya. Pegangan besi di langit-langit bus tak mampu ia jangkau lantaran terlalu tinggi. Belum lagi asap hitam dari knalpot bus yang masuk melalui jendela. Baunya bercampur dengan bau ikan asin yang dibawa penumpang untuk dijual ke pasar, ditambah aroma berbagai parfum dari sebagian penumpang mahasiswi. Sungguh perpaduan aroma yang cukup mengulik hidung segera bersin.

Sudah setengah jam lebih Rohimah berdiri di bus itu. Beberapa penumpang sudah turun, tetapi ia selalu kalah langkah untuk mendapatkan tempat duduk. Sungguh sulit menemukan orang yang berbesar hati mempersilakan gadis mungil seperti dirinya untuk menempati tempat duduk di bus itu. Kalaupun ada, orang malah menilainya mencari perhatian dan dianggap sok pahlawan. Serba salah memang hidup di kota besar. Namun, ia cukup mengerti mengingat perjalanan dari Jatinangor menuju Bandung butuh waktu 1,5 jam. Waktu yang sebentar untuk menonton film box office di bioskop, tetapi sangat lama untuk berdiri di dalam bus. Apalagi harus berdesakan dengan para pedagang asongan dan pengamen yang datang silih berganti.

Sabar.

Lampu merah di perempatan Jalan Ahmad Yani-Jalan Supratman, Bandung menyala. Laju bus tersendat dan terjebak macet bersama ratusan kendaraan lainnya. Rohimah masih belum mendapatkan tempat duduk. Ia memprediksi, tinggal sepuluh menit saja dia sampai ke tujuan. Artinya, dia akan berdiri selama 1,5 jam di dalam bus dengan tetap membayar ongkos yang sama. Sebuah perlakuan yang tidak adil bagi penumpang bus yang tidak mendapatkan kenyamanan yang sama. Seperti hidup di bawah pimpinan penguasa zalim. Kesempatannya untuk terlelap sambil duduk dalam perjalanan pun sirna. Dan, itu harus digantikan dengan kedua kakinya yang pegal-pegal akibat berdiri terlalu lama.

Belum selesai ia berkeluh kesah dalam hati, tiba-tiba seorang penumpang yang duduk di hadapannya beranjak dari tempat duduknya. Sepertinya, ia sudah tak tahan berlama-lama di dalam bus karena ingin cepat sampai ke tempat kerja. Secepat kilat Rohimah menyambar tempat duduk yang sudah kosong itu. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi itu. Akhirnya, ia bisa bernapas lega. Meski tinggal 10 menit saja sampai ke tujuan, Rohimah berusaha menikmatinya. Lumayan, daripada tidak sama sekali. Pikirnya.

Alhamdulillah.

Perhatian Rohimah lalu tertuju pada dua pengamen cilik yang masuk ke dalam bus beberapa saat sebelum lampu hijau menyala. Keduanya perempuan. Yang satu, kira-kira berusia 8 tahun dan yang satu lagi sekitar 6 tahun. Jika dilihat dari kemiripan wajah, sepertinya keduanya kakak beradik. Kaus berwarna pudar dan celana pendek yang mereka kenakan lusuh, sepadan dengan sendal jepit yang mereka pakai. 
Keduanya sudah berbagi tugas. Sang kakak membawa ukulele, sedangkan sang adik didaulat sebagai vokalis. Untuk mengiringi irama ukulele kakaknya, sang adik juga mengimbanginya dengan bertepuk tangan secara bertempo. Keduanya kompak membawakan lagu yang cukup populer saat itu. Lagu yang liriknya bisa dinyanyikan hampir semua orang berbagai usia. Sebuah lagu yang dipopulerkan oleh band dengan vokalis asal Kalimantan Selatan yang kerap memakai kaca mata hitam sebagai ciri khasnya. “Daradam.. daradam… daradam.. daradam.. ughh!!”

Kedua kakak beradik itu tampak bersemangat sekali membawakan lagu itu. Pada bagian reff, si pengamen selalu bergaya bak vokalis band pada penggemarnya saat konser. “Ayo semua tangannya di atas..!” kata pengamen cilik itu dengan penuh percaya diri. Rohimah tertawa cekikikan melihat tingkah kakak beradik itu.

Namun, perasaannya berubah jadi iba ketika dua pengamen cilik itu meminta receh dari penumpang. Beberapa penumpang tak menanggapi mereka. Bahkan, tersenyum saja tidak. Kebanyakan asik memainkan HP ataupun mendengarkan musik lewat earphone. Ia tak habis pikir, betapa anak sekecil mereka yang seharusnya saat itu belajar di sekolah, ternyata sudah harus berjuang melawan kerasnya hidup di jalanan. Ketika pengamen itu menghampirinya, Rohimah membuka dompetnya. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil uang Rp 20.000 dari dompetnya dan memasukannya pada bekas kemasan permen yang dibawa pengamen itu. “Makasih, Teh,” ucap pengamen cilik itu. Rohimah tersenyum tulus sebelum kedua pengamen itu berlalu dari hadapannya. Ia menarik napas panjang. Kedua matanya berkaca-kaca. Selang beberapa saat saja, air matanya menetes.

***

“Ibu Rohimah ya?”  

Rohimah setengah kaget ketika tiba-tiba seorang ibu setengah baya menghampirinya begitu ia selesai mengajar di tempat kursusnya. Ia tak mengenal perempuan itu karena merasa belum pernah bertemu dengannya.
“Iya betul. Ibu ini siapa ya,”

“Saya orang tua Raihan, murid ibu di sini”

“Oh,, begitu. Saya kira siapa,”

“Iya. Anak saya sering bercerita tentang Ibu Rohimah. Katanya orangnya baik dan materi yang disampaikannya mudah dimengerti. Anak saya jadi rajin belajar. Saya berterima kasih sekali sama Ibu Rohimah.”

“Ah, ibu bisa saja. Itu anak ibu saja yang rajin, Bu. Kalau saya hanya melakukan tugas saya dan mendorong murid-murid saya agar semangat belajar.”

“Iya, tapi saya tetap berterima kasih sama Ibu. Soalnya, kata anak saya, ibu selalu memberi hadiah kalau anak saya bisa menjawab pertanyaan di kelas. Itu bikin anak saya lebih semangat belajar di rumah.”

Percakapan hangat antara dua perempuan berbeda generasi itu pun mengalir begitu saja. Meski usianya terpaut jauh, mereka tak sungkan berbagi cerita. Perempuan itu banyak meminta tips-tips dari Rohimah mengenai cara memotivasi anaknya untuk semangat belajar. Sebaliknya, Rohimah juga banyak belajar soal dunia kerja dari perempuan yang bekerja sebagai PNS itu. Di akhir perbincangan, keduanya kemudian bertukar nomor HP masing-masing.

Rohimah lalu berpamitan kepada perempuan itu untuk pulang ke Jatinangor. Namun, perempuan itu sempat menahannya. Ia lalu memberi Rohimah sebuah amplop putih. Rohimah terperanjat.

“Apa ini, Bu?” tanya Rohimah.

“Tolong terima ini. Tidak bermaksud apa-apa. Hanya ungkapan terima kasih saya,”

“Tidak usah, Bu. Tidak usah,”

“Saya mohon jangan ditolak ya. Ini saya ikhlas, kok. Tidak ada maksud apa-apa.”

Rohimah akhirnya menerima amplop itu. Ia pikir tak ada salahnya menerima pemberian ibu itu. Toh ibu itu memberinya dengan ikhlas. Ia juga tak memintanya. Anggap saja itu rezekinya. Begitu pikirnya.

Ia baru membuka amplop pemberian ibu tersebut ketika sampai di rumah kosnya. Dia kembali kaget setengah tak percaya ketika melihat isi amplop itu. Ada dua lembar uang kertas bergambar Bapak Proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta. Nominal uang yang biasanya baru ia terima setelah mengajar sepuluh kali pertemuan. Hatinya terenyuh. Air matanya kembali jatuh membasahi pipinya yang halus.

ceps

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s