Kunci Sukses Menguasai Apa Pun

Layar komputer di depan mata. Catatan di atas meja. Jari-jari saya siap mengetik berita. Saya mengernyitkan dahi, pertanda berpikir keras. Bukan apa-apa, tetapi ini tentang kebakaran pabrik petasan di Tangerang yang menewaskan 53 orang. Ini berita serius, sehingga saya harus benar-benar menuliskannya dengan baik. Jangan sampai ada salah persepsi dari pembaca ketika membaca berita yang saya tulis itu. 

Ada banyak sekali data dalam catatan saya. Mulai dari lokasi pabrik, jumlah orang yang tewas, suasana kebakaran, upaya pemadam kebakaran, hingga keterangan saksi-saksi. Semua informasi cukup lengkap untuk dituangkan menjadi berita keras (straight news). Namun, saya bingung harus mulai dari mana. Sebab, itu pertama kalinya saya menulis berita!

Lima belas menit pertama berlalu, tetapi halaman Microsoft Word di layar komputer saya masih kosong. Saya berkali-kali menulis 1-2 kalimat, tetapi merasa kurang tepat sehingga saya menghapusnya. Mulai dari menulis kebakaran dan lokasinya lalu memunculkan keterangan saksi, hingga menulis upaya pemadam kebakarannya dulu lalu menulis kejadiannya. Saya benar-benar bingung untuk menentukan urutan informasi yang akan ditulis. Di antara yang paling sulit, adalah membuat kalimat pertama pada berita tersebut, yang belakangan saya ketahui itu adalah lead.

TANGERANG.- Kebakaran menghanguskan pabrik petasan PT Sinar Terang, Kota Tangerang, Rabu (24/2) sore. Peristiwa itu menyebabkan 53 orang tewas dan 4 luka-luka. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian dan beberapa saksi, belum diketahui penyebab kebakaran tersebut.

Akhirnya saya berhasil membuat satu paragraf pertama selama sekitar setengah jam dengan melihat berbagai referensi. Berikutnya, saya mulai menulis paragraf kedua, ketiga, dan seterusnya dengan menuliskan sejumlah informasi dalam catatan saya. Maka, selesailah latihan menulis berita itu dalam waktu 1 jam lebih!

Saat itu, saya belum terjun langsung ke lapangan karena masih dalam proses pelatihan calon wartawan. Pembimbing memberikan kami data-data untuk kemudian ditulis sebagai berita. Informasi yang lengkap tidak membuat saya mudah untuk menulis lantaran saya tidak turun langsung menyaksikan kejadiannya. Atau paling tidak, bertanya langsung kepada saksi-saksi. Namun, itulah tahap awal dari sebuah pembelajaran. 

Hingga pada kesempatan berikutnya, saya benar-benar dihadapkan pada peristiwa kebakaran sebuah toko. Saya berkeliling di tempat kejadian untuk melihat kobaran api yang masih tersisa. Saya juga mencari saksi-saksi, termasuk korban yang tokonya terbakar. Informasi demi informasi saya kumpulkan. Dan, ketika menulis berita, ternyata lebih mudah bagi saya ketimbang saat saya menulis berita yang sama dalam pelatihan tempo hari.

Dan saat ini, setiap hari saya dituntut untuk menulis dua berita masing-masing minimal 2.000 karater atau sekitar 300 kata. Itu harus selesai dan dikirimkan ke redaksi sebelum deadline pukul 5 sore. Namun, kini saya mampu menulis setiap berita dalam waktu sekitar 20-30 menit saja. Itulah hasil dari sebuah kebiasaan, yaitu mengerjakan sesuatu secara berulang-ulang.

H al yang sama juga berlaku untuk apa pun yang ingin kita kuasai. Dengan membentuk suatu kebiasaan, syaraf-syaraf di otak kita akan merespons hal itu dengan baik. Pikiran bawah sadar kita akan bekerja seperti alarm yang mengingatkan kita untuk menjalankan agenda yang telah menjadi kebiasaan itu.

Guru mengaji saya di kampung, suatu waktu memotivasi santrinya untuk bisa berbahasa Iggris, minimal membaca dengan baik. Maka dalam setiap membahas tafsir ayat Alquran, beliau selalu menuliskan terjemahan ayat tersebut dalam Bahasa Inggris untuk dibacakan santrinya.

Ketika salah seorang santri membacanya dengan terbata-bata, beliau memintanya untuk terus berlatih. Dia mencontohkan bahwa seekor gajah saja bisa bermain bola jika terus berlatih. Lumba-lumba pun bisa berhitung jika ia terus dilatih. “Jika gajah bisa bermain bola dan lumba-lumba saja bisa berhitung, masa manusia tidak bisa bahasa Inggris?” katanya memotivasi sekaligus menyindir.

Ayah saya, kini tidak pernah melewatkan dirinya untuk salat berjamaah setiap salat lima waktu di masjid. Meski usianya sudah 70 tahun dan kesehatannya tidak begitu prima karena didiagnosis menderita penyakit jantung dan diabetes, ia berusaha semampunya untuk tetap bisa mengikuti salat berjamaah. Jika terlewat satu waktu saja lantaran fisiknya tak kuat berjalan ke masjid, ia tampak menyesal tak terkira seperti pedagang yang barang dagangannya raib akibat kiosnya terbakar.

Untuk membiasakan salat berjamaah, ayah saya pernah berbagi tips dengan saya. Menurut dia, kebiasaan itu bisa dibentuk ketika kita melakukannya secara terus menerus minimal pada empat puluh hari pertama. Jika satu hari saja terlewat salat berjamaah, harus diulang kembali dari awal hingga empat puluh hari berikutnya. Setelah itu, kebiasaan tersebut baru akan terbentuk, sehingga kita merasa kehilangan sesuatu jika melewatkannya sekali saja.

Ustaz Felix Siauw dalam bukunya, How to Master your Habits menuliskan bahwa untuk meng-install suatu kebiasaan, dibutuhkan tiga tahap. Tahap pertama, yaitu membiasakan pekerjaan tersebut selama tiga puluh hari. Pada tahap ini, kebiasaan sudah terbentuk tetapi masih rapuh. Artinya, keinginan untuk meninggalkan kebiasaan ini lebih besar daripada melanjutkannya. Tahap kedua, yaitu membiasakan pekerjaan selama 3×30 hari atau tiga bulan. Pada tahap ini, keinginan untuk meninggalkan kebiasaan ini sama besarnya dengan keinginan untuk melanjutkannya. Pada tahap ketiga, kebiasaan dibentuk selama 10×30 hari hingga setahun. Jika ini sudah dilewati, kebiasaan baru akan menjadi permanen dan hampir tidak mungkin untuk meninggalkannya. Selamat mencoba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s