Tukang Servis TV

Saya punya TV kecil ukuran 14 inchi. Meski buatan Cina dan tidak bermerek terkenal, TV itu memiliki kualitas suara dan gambar yang baik. Setidaknya untuk saya yang saat menulis tulisan ini masih melajang.

Suatu hari, ketika saya menyalakan TV itu, gambar dan suaranya tiba-tiba tidak muncul seperti biasanya. Berkali-kali saya tekan tombol ON/OFF, gambar dan suara di TV itu tidak juga muncul. Beberapa menit kemudian, gambar dan suaranya akhirnya muncul dan kembali normal.

Kondisi itu bertahan hingga beberapa pekan dan saya sudah mulai terbiasa dengannya; Menyalakan TV lalu menunggu 5-10 menit untuk menikmati gambar dan suara yang normal. Sempat terpikir untuk pergi ke tukang servis TV, tetapi saya memilih menundanya lantaran masih belum begitu terganggu dengan kondisi itu.

Kondisinya baru benar-benar mengganggu ketika TV saya semakin tidak berfungsi. Gambar dan suaranya tidak normal sehingga mengganggu mata dan telinga. Akibatnya, TV saya sempat tidak dinyalakan selama sekitar dua minggu.

Hingga saya membawanya ke servis TV lantaran merindukan beberapa tayangan televisi yang informatif. Ketika tiba di tempat servis, si tukang servis TV menanyakan kerusakan TV yang kemudian saya jawab dengan menceritakan kondisinya.

Mendengar kondisi kerusakan TV saya, si tukang servis itu seperti sudah mengetahui sumber kerusakannya. Dia kemudian meminta saya untuk menunggunya memperbaiki TV saya. Dia pun mengambil obeng, lalu mulai membongkar TV saya.
Dalam waktu hanya sekitar 5 menit, si tukang servis tampak sudah selesai memperbaiki TV saya. Dia pun mencolokkan kabel TV ke stop kontak lalu menyalakan TV tersebut. Dan, abrakadabra!!!! TV saya benar-benar kembali berfungsi seperti semula. Gambar dan suaranya jernih dan memuaskan.

Karena penasaran, saya pun menanyakan sumber kerusakan TV saya kepada si tukang servis itu. Lalu, dia menunjukkan komponen elektronik yang rusak dan ia ganti dengan yang baru. Komponen itu ternyata kapasitor dengan tipe 470-25 V. Secara sederhana, fungsinya yaitu untuk mengatur banyaknya arus listrik yang masuk.

Kejadian itu membuat saya sedikit termenung. Kondisi TV yang saya biarkan rusak selama berminggu-minggu itu ternyata bisa diperbaiki oleh ahlinya hanya dalam waktu 5 menit! Itulah yang terjadi ketika suatu masalah diselesaikan dengan ilmu dan profesionalisme.

Setidaknya kejadian kecil tersebut mengajari dan mengingatkan saya pada dua hal; Pertama, dari segi internal, yaitu bahwa mengerjakan segala sesuatu akan mudah bila disertai dengan ilmunya. Kedua, dari segi eksternal, yaitu bahwa segala pekerjaan ataupun masalah akan tuntas jika diserahkan kepada ahlinya.

Maka begitulah adanya dengan kehidupan ini. Masalah serumit apa pun akan dapat diselesaikan jika kita memiliki ilmu untuk mengatasinya. Dengan ilmu, seorang pelajar bisa lulus ujian. Dengan ilmu, seorang karyawan bisa berprestasi di bidangnya. Seorang pengusaha bisa sukses dalam mengelola usahanya, seorang kepala keluarga bisa membina rumah tangganya dengan baik, seorang guru bisa mendidik muridnya dengan baik, seorang penulis bisa menghasilkan karya-karya yang berkualitas, seorang wartawan bisa menyajikan berita-berita yang bermanfaat.

Bahkan, manusia bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, hanya dengan ilmu. Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa menginginkan dunia, maka raihlah dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, raihlah dengan ilmunya. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, raihlah dengan ilmu keduanya” (An-Najmu, Imam Nawawi).

Sementara dalam kehidupan berkelompok, mulai dari organisasi, sosial, masyarakat, hingga berbangsa dan bernegara, pencapaian sebuah tujuan hanya bisa dilakukan jika setiap pekerjaan diserahkan kepada seseorang sesuai dengan kompetensinya. Untuk mengerjakan urusan pertanian, serahkan kepada ahli pertanian, untuk mengerjakan urusan ekonomi, serahkan pada ahli ekonomi. Dan begitu seterusnya.

Menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat (the right man on the right place)  adalah kunci tercapainya tujuan sebuah organisasi, kelompok, hingga negara yang ideal. Sebaliknya, menyerahkan pekerjaan pada orang yang tidak berkompetensi hanya akan menimbulkan malapetaka. Itulah yang terjadi ketika seorang pemimpin menempatkan anak buahnya hanya berdasarkan kedekatan, kekerabatan, ketokohan, hingga keuntungan pribadi baik secara materi maupun nonmateri. Rasul bersabda, “Barangsiapa menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari).

ceps

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s