Kopi Hitam

Sore itu matahari sudah mulai condong ke ufuk barat, seakan mengingatkan para penghuni bumi untuk beristirahat setelah seharian bekerja. Kemacetan menyergap Jalan Soekarno-Hatta, Bandung ketika para pengendara pulang kerja menuju rumahnya masing-masing. Bunyi klakson kendaraan bermotor terus bersahutan dan semakin nyaring begitu mendekati lampu merah. Sungguh suatu kondisi yang menjengkelkan dan menjadi salah satu penyebab stres bagi warga perkotaan.

Di tengah hiruk-pikuknya kendaraan di luar, saya masih berada di kantor meski pekerjaan sudah selesai. Saya beranjak ke lantai dua menuju pantri untuk sekadar minum kopi, melepas penat. Di sana ada seorang office boy (OB) yang tengah duduk santai menunggu pesanan. Seperti sudah mendapatkan kode, dia langsung menawarkan jasanya ketika saya datang. “Kopi, Bos?” ucapnya. “Boleh, Om,” kata saya menimpali.

Saya sangat menikmati kopi hitam buatan sang OB. Sekali teguk saja, seperti sudah bisa melancarkan urat-urat syaraf di kepala yang tadinya kusut. Paduan kopi dan gula yang larut dalam air panas itu rasanya mengalahkan minuman mahal sekalipun. Ketika meminumnya, saya merasa lebih bergairah.

Racikannya sebenarnya biasa saja, hanya 1:3. Sesendok kopi dan tiga sendok gula. Namun, ketika saya mencoba membuatnya sendiri, rasanya tetap saja hambar. Entah ilmu apa yang dimiliki OB itu, sehingga kopi buatannya pas dengan selera saya. Atau mungkin, saya kurang latihan saja membuat kopi.

Di tengah suasana santai itu, saya berbincang-bincang dengan sang OB. Mulai dari menanyakan kabar teman-temannya, keluarganya, hingga pekerjaannya yang masih ia pertahankan selama bertahun-tahun. Meski penghasilannya pas-pasan untuk seorang ayah satu anak, dia sangat bersyukur karena masih bisa menghidupi keluarganya. “Alhamdulillah, bisa nabung, bisa mere ka dulur jeung ka kolot (Alhamdulillah, bisa menabung, memberi uang ke saudara dan orang tua,” ucapnya bercerita.

Pernyataannya itu sungguh di luar dugaan saya. Biasanya, saya selalu mendengar keluhan-keluhan dari orang-orang yang merasa berpenghasilan rendah. Karena alasan banyaknya kebutuhan ditambah harga-harga bahan pokok yang terus melambung, mereka kerap mengeluh lantaran besar pasak daripada tiang. Ujung-ujungnya, mereka kerap melihat rumput tetangga yang lebih hijau dari rumputnya. “Ah, dia mah enak, gajinya gede. Bisa beli ini beli itu. Kalau saya mah, kapan bisa kaya begitu.” Atau yang terdengar lebih bersahaja, biasanya terlontar ucapan,”Nya tarimakeun we lah. Rek kumaha deui (Ya terima sajalah, mau bagaimana lagi.” Terdengar seperti menerima keadaan, tetapi sesungguhnya batinnya menjerit. 

Namun, sang OB tersebut bukan hanya mensyukuri apa yang dia miliki, tetapi juga bisa menyisihkan penghasilannya. Bahkan, dia bisa memberikan sesuatu kepada orang-orang di sekitarnya dari hasil keringatnya sendiri. Lalu, ketika saya tanyakan padanya bagaimana dia bisa melakukan semua itu, padahal penghasilannya tergolong pas-pasan?

“Nya, mun teu butuh mah tong dibeuli. Mun butuh karek dibeuli. Terus tong ningali ka luhur we hirup mah, kudu ningali ka handap. (Ya, kalau tidak butuh jangan dibeli. Kalau butuh baru dibeli. Terus, jangan selalu melihat ke atas, tetapi harus bisa melihat ke bawah,” tuturnya berfilosofi.

Sungguh kata-kata yang sederhana dan siapa pun bisa mengucapkannya, tetapi sulit untuk menjalankannya. Namun, di situlah kuncinya. Dari obrolan ringan dengan sang OB kala itu, setidaknya saya belajar dua hal; menentukan prioritas dan mensyukuri nikmat. 

Sering kali, kita sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan sesuatu yang sudah dimiliki banyak orang. Hal itu sebetulnya bisa menjadi motivasi, tetapi bisa memicu stres ketika kebutuhan yang lebih penting belum terpenuhi.Ibaratnya, lebih pusing memikirkan sepatu, padahal celana saja belum punya. Sibuk mencari bahan untuk memasak, padahal kompor pun tak punya. Ironi sekali bukan? Di sinilah pentingnya menentukan prioritas sehingga kebutuhan kita bisa disesuaikan dengan penghasilan.

Lebih jauh lagi – dan ini yang lebih sulit—, adalah mensyukuri apa yang masih kita miliki sekarang. Ketika secara finansial kita jauh di bawah orang lain, bukankah ada kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan materi? Bukankah kita masih memiliki orang tua yang selalu mendoakan kita? Bukankah kita masih memiliki keluarga, sahabat yang terus menyemangati kita ketika kondisi kita terpuruk? Bukankah kita masih memiliki mata untuk melihat, hidung untuk mencium, lidah untuk mengecap, kaki untuk berjalan, dan telinga untuk mendengar? Sebab, jika fungsi panca indera dicabut oleh Sang Pencipta, berapa ratus juta bahkan miliaran rupiah yang harus kita keluarkan untuk menggantinya?

Dan bukankah Allah SWT berfirman dalam QS Ibrahim ayat 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Aku akan menambahkan nikmat-Ku padamu. Dan jika kamu mengingkarinya, maka azab-Ku sangat pedih”?

ceps

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s