Man Jadda Wajada

Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu. Di dalam kamar, ia mengurung sendiri dan tak mau ada orang lain mengganggunya. Betapa hari itu ia mengalami kekecewaan yang sangat mengiris hatinya. Kekecewaan yang hanya ia sendiri yang benar-benar merasakannya. Harapannya untuk melanjutkan sekolah pupus sudah.

Dia tak habis pikir, mengapa orang tuanya tak mau menyekolahkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal, ia lulus dengan hasil akhir yang memuaskan. Selama bersekolah, prestasinya juga lebih menonjol dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Namun, itu semua rupanya tak cukup untuk menggerakkan hati orang tuanya untuk menuruti keinginannya bersekolah.

Bahkan, ketika guru-gurunya datang ke rumah orang tuanya dan membujuk mereka supaya menyekolahkan putrinya lebih lanjut, mereka tetap bergeming. Gadis itu tertunduk lesu. Ia hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan pahit itu.

Secara finansial, sebenarnya orang tua gadis itu mampu menyekolahkannya lebih lanjut. Namun, pendidikan putrinya sepertinya tidak menjadi prioritas bagi mereka. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya pasti kerja di dapur.” Begitu pikiran orang tuanya. Hanya karena anaknya seorang perempuan, lantas haknya untuk mendapatkan pendidikan formal yang lebih tinggi tidak terpenuhi.

Gadis itu tak bisa menuntut banyak. Sebab, ia sadar betul bahwa pandangan itu juga dimiliki para orang tua lainnya yang tinggal di perdesaan. Setiap anak perempuan, cukup sekolah sampai bisa baca, tulis, dan hitung. Setelah itu, ia tinggal menunggu waktu untuk dilamar lalu menikah. Selebihnya, ia berkewajiban mengurus suami dan anak-anak di rumah.

Namun, diam-diam gadis itu memendam ambisi. Keputusan orang tuanya yang ia terima, bukan berarti bahwa ia sependapat dengan mereka. Jika ia memang tak bisa bersekolah saat ini, ia bertekad bahwa suatu saat nanti, keturunannya harus bisa merasakan apa yang ia impikan. Dengan tekad dan impian yang kuat, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa anak-anaknya nanti, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengenyam pendidikan tinggi. Pendidikan yang ia yakini bisa membawa kehidupan yang lebih baik dari hidupnya saat ini.

Hingga tibalah masanya gadis itu menikah. Beruntung, suaminya sangat mendukung ambisinya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Satu per satu anak-anak mereka lahir ke dunia. Dengan penuh kasih sayang, mereka merawat, membesarkan, dan mendidik anak-anaknya. Untaian doa selalu mereka panjatkan kepada Sang Pencipta, agar kelak anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh, berpendidikan, dan bermanfaat bagi kemaslahatan orang-orang di sekitarnya.

Maka ketika anak-anaknya tumbuh dewasa, mereka tetap memelihara impian mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Dengan berbagai upaya, mulai dari berdagang, menjual sawah, hingga pinjam sana-sini dilakukan demi mewujudkan impian itu. Bagi mereka, tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah menghendakinya. Tugas manusia hanyalah melakukan usaha semaksimal mungkin.

Siang dan malam pun silih berganti laksana roda pedati yang berputar. Usia bumi semakin tua, tetapi dipercantik dengan peradaban manusia. Persis nenek keriput yang memakai perhiasan mencolok. Ironis sekali.
Waktu berjalan begitu cepat. Seperti naik kereta ekspres lalu melesat ke masa depan dan tak pernah kembali lagi. Lima puluh tahun berlalu sejak gadis itu menyimpan impiannya untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Kini, ia sudah menjadi seorang nenek dengan tiga belas cucu. Ia memiliki delapan anak, empat putra dan empat putri. Putri ketiganya meninggal saat masih anak-anak, sementara putri pertamanya menghadap Sang Khalik pada 2012 lalu. Enam anaknya yang tersisa, kini sudah tumbuh dewasa dan mandiri. Semuanya sempat mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, seperti yang dicita-citakannya lima puluh tahun lalu.

Perempuan itu adalah ibu saya. Perempuan terhebat sepanjang masa dalam hidup saya. Sosok yang mengajari saya untuk bersikap optimistis dalam menyongsong masa depan. Sosok yang mengajari saya untuk memelihara mimpi dan berjuang keras untuk mewujudkannya. Sosok yang menginspirasi saya untuk tidak pasrah terhadap keadaan. Sebab, manusia mempunyai pilihan-pilihan yang menentukannya menjadi sosok seperti apa ia sekarang dan kelak.

Seandainya ibu saya saat itu hanya pasrah terhadap keadaan. Seandainya ia hanya menyalahkan keputusan orang tuanya yang tidak mau menyekolahkannya.  Seandainya ia tidak memelihara mimpinya dan tidak berusaha mewujudkannya. Ia tidak mungkin bisa menciptakan generasi yang lebih baik. Anak-anaknya mungkin kini hanya menjadi buruh tani di kampung atau tukang bubur di Jakarta. Dan, saya mungkin saja tidak bisa menuliskan kisah hidupnya yang sangat berharga ini.

Ibu saya, entah ia sadari atau tidak, telah membuktikan kebenaran ungkapan man jadda wajada, barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan meraihnya. “…dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir” (QS Yusuf:12).

ceps

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s