Sepuluh Juta Rupiah

Beberapa bulan setelah ayah saya pulang dari India (baca tulisan sebelumnya: Perjalanan Religi), ia jatuh sakit. Awalnya, ia hanya merasa sering kelelahan dan mual-mual. Padahal, ia tak pernah mengerjakan sesuatu yang berat. Berjalan beberapa meter saja, rasanya seperti sudah maraton. Makan sesuap saja, sudah seperti ingin memuntahkan makanan satu piring. Tubuhnya begitu lemas akibat kurangnya pasokan makanan. Berat badannya turun beberapa kilogram. Dokter menyatakan, ayah saya mengalami pembengkakan jantung.

Kondisi itu membuat ayah saya harus menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit swasta di Kuningan. Ia terpaksa harus menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang menjemukan; terbaring di tempat tidur orang sakit, dengan selang inpus yang menempel di tubuhnya, hingga tabung oksigen untuk membantu pernapasannya. Ditambah, ia harus merelakan darahnya diambil setiap hari untuk sampel pemeriksaan kadar gula dalam tubuhnya. Tubuhnya juga berkali-kali dijepit kabel yang terhubung pada alat perekam detak jantung untuk memeriksa perkembangan kondisinya. Sungguh sebuah situasi yang kelak membuat ayah saya mengerti betul tentang arti sebuah kesehatan.

Perawat hanya pada jam-jam tertentu saja menjenguk ayah saya. Mereka secara bergantian mengantarkan makanan tiga kali sehari pada ayah saya, memeriksa tekanan darah, mengecek kadar gula, hingga merekam detak jantung. Lebih hebat lagi adalah dokternya. Ia hanya sehari sekali menjenguk ayah saya. Itu pun hanya menanyakan kondisinya. Jika mood-nya bagus, ia memeriksa tubuh ayah saya dengan stetoskopnya. Setelah itu, ia pun berlalu begitu saja. Paling lama, sepuluh menit saja ia bercokol di kamar ayah saya.

Untunglah ada seorang perawat yang dengan telaten memperhatikan perkembangan kondisi ayah saya. Hampir setiap saat, ia menanyakan keluhan-keluhan ayah saya mengenai kondisi tubuhnya, mengingatkan waktu istirahat, mengingatkan waktu makan hingga menyuapinya, serta mengingatkan salat setiap sudah tiba waktunya. Ialah istrinya, ibu saya, yang selama 24 jam siaga menjaga kondisi ayah saya. Tak ada rasa bosan, tak ada keluhan yang telrlontar dari mulutnya. Yang ia lakukan hanyalah berbuat apa yang bisa ia perbuat untuk merawat suaminya, sebagai salah satu bentuk ketaatan pada Tuhan-Nya. Itu saja.

Seminggu berlalu dan ayah saya masih belum diizinnkan pulang ke rumah. Kondisinya belum stabil. Kadar gula dan tekanan darahnya selalu naik turun. Ia tak boleh makan kecuali makanan yang diberikan perawat rumah sakit. Tak boleh minum kecuali sudah ada takarannya. Tak boleh banyak bergerak, tak boleh banyak bicara. Itu ia sudah ia jalani selama sepekan, sehingga ia merasa jenuh juga. Ia lalu merengek pada ibu saya agar pulang saja ke rumah. Toh kondisinya tak banyak berubah ketika dirawat di rumah sakit.

“Biaya saja mahal, tetapi kondisi begini-begini saja. Makanan itu-itu saja, perawatan tak banyak berkembang. Sudah mending dirawat di rumah saja,” kata ayah saya kepada ibu saya.

Meski tahu betul perasaan suaminya, ibu saya tak lantas menuruti keinginan ayah saya. Ia pun berkonsultasi dengan dokter, perawat, hingga anak-anaknya mengenai apa yang harus dilakukannya. Lalu, ibu saya mendapatkan kesimpulan bahwa ayah saya bisa pulang dalam beberapa hari ke depan asalkan ia telah menjalani semua pengobatan rutin. Ibu saya pun meminta ayah saya untuk bersabar dan memotivasinya agar tetap memiliki semangat untuk sembuh.

Hingga ayah saya pulang meski kondisinya belum sepenuhnya stabil. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap menjalani pengobatan rutin untuk kesembuhannya. Bagaimana pun juga, menurut dia, tak ada tempat seindah rumah. Selama beberapa pekan berikutnya, ia terus berjuang melakukan berbagai progress, mulai dari berjalan di dalam ruangan, lalu berlanjut ke halaman rumah, hingga ke gang depan rumah. Minum obat sesuai anjuran dokter tak pernah ia langgar. Berangsur-angsur, kondisi ayah saya membaik meski ia tak bisa lepas dari obat dan cek rutin. Namun, ia bisa bernapas lega lantaran sudah memiliki kekuatan kembali setidaknya untuk salat berjamaah di masjid setiap awal waktu.

Hampir pada setiap kesempatan bertemu dengan saya, ayah saya selalu berbicara tentang dua kejadian yang dialaminya hampir secara berturut turut. Kejadian pertama, saat ia melakukan perjalanan religi ke India dan kejadian lainnya saat ia terbaring di rumah sakit. Dua kejadian itu menghabiskan biaya yang sama, yakni sekitar Rp 10 juta. Namun, untuk kejadian pertama, uang itu cukup untuk biaya selama empat bulan atau 120 hari, sementara untuk kejadian yang kedua hanya cukup untuk 10 hari.

“Bukan soal jumlah uangnya, tetapi soal betapa mahalnya sebuah kesehatan. Dengan uang Rp 10 juta, kita bisa beribadah dengan khusyuk dan tenang selama empat bulan dalam keadaan sehat. Sementara dalam keadaan sakit, uang itu hanya cukup untuk sepuluh hari dengan kondisi tubuh yang sama sekali susah untuk merasakan nikmatnya ibadah,” tuturnya.

Melalui dua kejadian itu, ayah saya mengingatkan dirinya sendiri, saya, dan juga semua orang untuk mengingat lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya. Yaitu, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, sehat sebelum sakit, waktu luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati. (HR Al Hakim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s