Perjalanan Religi

Ayah saya adalah tipe orang yang ideologis. Ketika ia sudah meyakini kebenaran sesuatu, ia akan mempertahankan dan menjalankannnya dengan sepenuh hati. Ia tak peduli dengan orang lain yang apatis dengan dirinya. Ia tak gentar dengan segala kemungkinan buruk yang akan menimpa dirinya akibat keyakinannya itu. Ia meyakini bahwa dirinya sudah berada di jalan yang seharusnya ia tempuh. Kalaupun tidak ada orang lain yang mengambil jalan yang sama, ia dengan pasti akan tetap menempuh jalan itu sendirian.

Maka ketika ayah saya memutuskan untuk melakukan perjalanan religi ke India selama empat bulan, tidak ada yang bisa menghalanginya. Meski itu sempat mendapatkan pertentangan dari orang-orang sekitarnya, termasuk dari sebagian anaknya sendiri. Sebab, menurut dia, tidak ada yang salah dengan keputusannya. Toh kepergiannya bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Ia pergi untuk menunaikan tugas mulia, yang ia yakini bahwa Allah meridainya. Apalagi, ia pun tak meninggalkan kewajibannya sebagai suami. Nafkah lahir sudah ia perhitungkan untuk keluarga yang ditinggalkan, terutama untuk istrinya, ibu saya.

Ayah saya, bersama orang-orang yang tergabung dalam kelompok dakwah Jamaah Tabligh meyakini, Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia dengan jalan dakwah. Tidak mungkin Islam sampai ke berbagai pelosok negeri ini jika Rasul dan para sahabat serta para pengikutnya hanya berdiam diri di Mekah. Berhijrah dari tempat tinggal, meninggalkan orang-orang tercinta untuk sementara waktu adalah sebuah keniscayaan. Demi meyakinkan semua penghuni bumi bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi sekalian alam.

Berangkat dari pemikiran itu, ayah saya dan kelompok dakwahnya memiliki program khusus untuk pergi ke luar daerah guna mengemban misi tersebut. Dalam sebulan, minimal tiga hari. Dalam setahun, minimal empat puluh hari. Dan, dalam seumur hidup, minimal empat bulan. Namun, dalam setahun, ayah saya selalu meluangkan waktunya untuk menjalankan program selama empat bulan. Tahun 2012, untuk pertama kalinya ia mengambil program empat bulan ke luar negeri pada usianya yang sudah menginjak 70 tahun!

Ada tiga negara yang menjadi tujuan dalam program tersebut, yaitu India, Pakistan, dan Bangladesh atau biasa disingkat IPB. Alasannya, ketiga negara itu menjadi cikal bakal perkembangan pergerakan dakwah Jamaah Tabligh yang dipelopori oleh Muhammad Ilyas pada 1926. Metode yang digunakan adalah dengan mengadakan kajian Islam di masjid hingga mendatangi rumah-rumah warga. Tujuannya, agar umat Islam memiliki keimanan yang kokoh sehingga bisa mengembalikan segala urusan kepada Allah dan rasul-Nya.

Maka segala persiapan pun dilakukan ayah saya untuk keberangkatannya ke India. Mulai dari menyiapkan perbekalan, stamina, mental, hingga meyakinkan keluarganya bahwa ia akan baik-baik saja. Ia menghubungi anak-anaknya yang berada di luar kota, termasuk saya. Tak banyak yang ia sampaikan mengingat anak-anaknya sudah memahami keputusannya itu. Ia hanya meminta dukungan dan doa restu dari kami. Maka dengan segala kerendahan hati, kami pun berdoa kepada Allah SWT agar senantiasa menjaga ayah kami lahir dan batin selama ia melaksanakan tugasnya.

Sesuai dengan petunjuk dari panitia yang mengatur pemberangkatan ke India, ayah saya rencananya akan berangkat dengan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta menuju India dengan transit di Malaysia. Ayah saya merasa sudah memahami betul petunjuk itu sehingga ia yakin bisa sampai tujuan meskipun sebelumnya belum banyak berpengalaman ke luar negeri. “Petunjuknya sederhana, dari Jakarta turun pesawat di Malaysia. Lalu dari Malaysia langsung ke India. Turun di India nanti, cari tempat yang namanya Bangle Wali. Itu saja,” tutur ayah saya menceritakan pengalamannya tempo hari.

Belum sempat ayah saya menjalankan instruksi panitia itu, ia sudah menemui kendala. Akibat kesalahan teknis, ayah saya yang seharusnya berangkat bersama beberapa orang lainnya dalam satu rombongan dari Jakarta, ternyata tidak menemukan mereka di sana. Satu rombongan di antaranya sudah berangkat lebih dulu sehari sebelumnya, sementara rombongan lainnya baru akan berangkat beberapa minggu kemudian. Ayah saya tak ingin menunggu waktu lama lagi. Maka, ia memutuskan untuk berangkat sendiri ke Malaysia, apa pun resikonya. Suatu keputusan yang diambil seseorang yang belum pernah berpengalaman pergi ke luar negeri, selain ke Mekah untuk naik haji. Keputusan yang diambil seseorang yang sudah berusia lanjut, dengan kondisi kesehatan yang belum tentu seprima orang-orang muda. Keputusan yang dipilih dengan tidak mempertimbangkan banyak hal, kecuali keyakinan bahwa Allah akan senantiasa bersamanya. Suatu keputusan yang sangat berani, kalau tidak dibilang nekat, yang ia ambil kala itu. Anehnya, panitia menyetujuinya.

Lalu terbanglah ayah saya ke Malaysia dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dalam beberapa jam, ia sampai di negeri Siti Nurhaliza itu. Hilir mudik orang-orang dengan berbagai penampilan mereka sempat menjadi perhatiannya beberapa saat ketika ia turun di bandara. Rata-rata mereka masih berusia muda. Ada yang memakai kemeja dengan celana katun dan sepatu PDL khas eksekutif muda. Ada juga yang memakai kaus santai dengan sepatu kets. Mereka berjalan dengan tempo yang cepat. Semuanya tampak mengurus urusannya masing-masing. Tak ada tegur sapa ataupun uluk salam yang terdengar. Sungguh pemandangan yang jauh berbeda dengan yang biasa ayah saya temukan di kampung, atau di masjid tempat ia beraktivitas. Kala itu, di tempat yang berjarak ribuan kilometer dari tempat tinggalnya di Indonesia, ayah saya benar-benar sendiri di tengah keramaian.

Penampilan ayah saya yang berbeda dengan orang kebanyakan juga sempat diperhatikan orang-orang di bandara. Mereka melirik ayah saya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Namun, itu hanya berlangsung beberapa saat hingga mereka berlalu begitu saja. Seolah tak peduli dengan apa yang ayah saya pakai karena itu bukan urusan mereka. Ayah saya pun tak begitu menanggapi mereka. Ia berusaha sebisa mungkin mengikuti gaya mereka; berjalan lebih cepat, tak banyak lirik kiri-kanan, dan fokus pada apa yang dituju. Mengenakan kopiah haji, setelan kemeja batik, celana katun di atas mata kaki, dan sandal kasual dengan tas jinjing di tangan kanannya, ia berjalan menuju petugas administrasi bandara untuk keberangkatan berikutnya ke India.

Setibanya di petugas bandara, betapa kagetnya ayah saya ketika mendengar informasi bahwa pesawat yang seharusnya ia tumpangi telah tinggal landas. Ia pusing tujuh keliling. Tak tahu harus berbuat apa karena kenyataan yang ia temui meleset dari yang telah direncanakan. Tak ada orang yang ia bisa minta bantuannya lantaran tidak ada yang ia kenal. Juga tidak ada yang mengenalnya. Ia juga tak berpikir untuk mengubungi teman, saudara, ataupun keluarganya untuk sekadar menanyakan apa yang harus ia lakukan karena ia tak membawa alat komunikasi. Kalaupun membawa alat komunikasi, ia tak mungkin menggunakannya. Sebab, akan butuh banyak waktu untuk menjelaskan situasinya saat itu. Sementara, ia tengah berpacu dengan waktu.

Maka, dengan keyakinannya sebagai hamba Allah yang sedang berjuang di jalan-Nya, di tempat ia berpijak kala itu, di negeri yang berada di planet yang tengah berputar pada porosnya, yang pada saat bersamaan tengah mengelilingi matahari bersama tujuh planet lainnya dalam tata surya, yang semuanya mengelilingi pusat galaksi bima sakti bersama miliaran tata surya lainnya, yang pada saat bersamaan mengelilingi gugusan galaksi bersama miliaran galaksi lainnya, yang semuanya mengelilingi super cluster bersama miliaran gugus galaksi lainnya, yang semua itu mengelilingi sebuah inti bersama miliaran super cluster lainnya, yang menandakan bahwa alam semesta semuanya bertasbih kepada Sang Pencipta, ayah saya memanjatkan doa kepada-Nya agar ia diberi kemudahan dalam menjalankan urusannya. Ketika tidak ada seorang pun yang bisa membantunya, cukuplah baginya Allah sebagai penolong.

Ayah saya kemudian bertanya kepada petugas di bandara mengenai apa yang harus ia lakukan berikutnya. Petugas itu menatap ayah saya lekat-lekat, memperhatikannya dari atas hingga ke bawah. Ia tak berkata-kata selama beberapa saat. Ayah saya makin bingung dibuatnya. Berharap-harap cemas pada sang petugas. Petugas itu lalu memeriksa dokumen ayah saya. Sejurus kemudian ia pun berbicara. “Kalau Bapak ingin berangkat hari ini pada pesawat berikutnya, Bapak harus membeli tiket lagi. Tapi, kalau Bapak mau menunggu sampai besok, Bapak tidak perlu beli tiket lagi. Pesawatnya berangkat pukul 10,” kata petugas itu memberi arahan kepada ayah saya.

Mendengar itu, ayah saya seperti menemukan secercah cahaya dalam kegelapan. Ia seperti menemukan jembatan gantung di saat ia bingung ketika harus menyeberangi sungai. Lantaran kedatangannya ke India tidak diburu waktu, ditambah perbekalannya yang pas-pasan, ia memutuskan untuk menginap semalam di bandara untuk menunggu keberangkatan esok hari. Ia bernapas lega. Langit Kuala Lumpur seketika tampak begitu cerah dalam pandangannya. Tak ada yang layak ia ucapkan kecuali ungkapan syukur kepada Yang Mahakuasa. Alhamdulillah.

Matahari kala itu masih bersinar terik meski angin sepoi-sepoi sedikit menyegarkan suasana di bandara. Perjuangan ayah saya tidak berhenti sampai di situ. Ia kini dihadapkan pada masalah lainnya. Jika orang bilang menunggu itu sangat membosankan meski sebentar saja, lalu bagaimana dengan dirinya yang terpaksa harus menunggu di bandara hampir sehari semalam untuk menunggu keberangkatan esok hari? Lalu, di mana ia harus menginap nanti malam, mengingat tidak ada sanak saudara yang dekat di sana? Mencari hotel hampir tidak mungkin karena ayah saya adalah tipe orang yang tidak suka menghabiskan uang banyak hanya untuk numpang tidur. Apalagi hanya satu malam. Sempat terpikir untuk tidur di musala di sekitar bandara, tetapi ia urungkan niat itu dengan alasan keamanan. Maka ia putuskan untuk tidur di kursi tunggu di bandara sambil menjaga barang-barangnya yang ada di dalam tas.

Untuk mengusir kejenuhan, ia mencoba berbincang-bincang dengan beberapa orang di bandara. Jika orang itu merespons, percakapan pun berlanjut. Jika ia tidak merespons dengan baik, ayah saya tidak memaksakan diri melanjutkan perbincangan. Berzikir atau membaca beberapa surah Alquran yang ia hapal di luar kepala, menurut dia, adalah lebih baik dan bermanfaat. Dan begitu seterusnya. Setiap selesai menunaikan salat di musala sekitar bandara, ia kembali ke kursi tunggu dan menunggu kedatangan esok hari. Lalu lalang orang-orang yang naik-turun pesawat ditambah sejumlah pengumuman petugas bandara pada pengeras suara menjadi teman baiknya kala itu.

Maka dengan sedikit pemeriksaan saja dari petugas, ayah saya akhirnya terbang menuju negeri Sakhrukh Khan keesokan harinya. Ia tak henti-hentinya mengucapkan syukur ke hadirat-Nya atas segala kemudahan yang diberikan padanya. Ia sesekali tertawa kecil jika mengingat apa yang baru saja dialaminya. Betapa orang yang sudah berusia lanjut seperti dirinya, nekat pergi sendirian ke negara asing yang ia belum pernah sambangi sebelumnya. Dengan hanya berbekal pengetahuan bahasa Inggris ala kadarnya dan sisanya mengandalkan keyakinan, ia tak gentar menghadapi aral yang melintang. Seperti sedang bermimpi, tetapi ternyata itulah yang benar-benar ia alami.

“Bangle Wali?!” ujar ayah saya kepada sopir angkutan umum beberapa saat setelah mendarat di bandara New Delhi, India.
“Yes, I know Bangle Wali,” jawab sopir itu.
“How much?”
“400 rupee,”
“No. 350 rupee?!”
“Ok.”

Tanpa banyak bicara, sopir itu lalu mengantarkan ayah saya ke tempat yang ditujunya, yaitu Masjid Bangle Wali yang terletak di daerah Nizamuddin, New Delhi. Cukup lama ayah saya berada di perjalanan, sehingga ia berkali-kali menanyakan tujuannya pada sopir itu. “Yes, I know Bangle Wali,” ujar sopir itu meyakinkan ayah saya. Hampir satu jam kemudian, ayah saya akhirnya tiba di tempat yang ia tuju.
Tiba di Bangle Wali, barulah ayah saya menemukan banyak teman yang sama-sama tergabung dalam kelompok dakwahnya. Di antara mereka, banyak yang berasal dari Indonesia bahkan dari Jawa Barat, sehingga ayah saya tak kesulitan berkomunikasi. Ia pun bersyukur karena akhirnya sampai di tujuan dengan selamat, berkat izin dan pertolongan Allah.

Sementara itu, semua orang yang menyambut kedatangan ayah saya kaget setengah tak percaya ketika mengetahui bahwa ayah saya datang sendiri ke India. Ungkapan-ungkapan seperti, “Subhanallah. Kok bisa, Pak Haji?!”, “Masya Allah. Masa datang sendiri, Pak haji?!” “Laa ilaha Ilallah.. yang bener, Pak Haji?!” dan ungkapan lain yang sejenis terus dilontarkan kepada ayah saya. Di samping menyesalkan keputusan panitia yang telah memberangkatkan ayah saya seorang diri, mereka takjub sekaligus bangga melihat orang tua seperti ayah saya bisa sampai ke negeri yang jaraknya ribuan kilometer seorang diri. Betapa seorang tua yang sudah tidak memiliki tenaga sekuat orang muda ternyata masih memiliki semangat yang tinggi untuk berjuang di jalan Allah. Mereka merasa malu sendiri lantaran sering kali berpikir berulang-ulang ketika akan melakukan kebaikan.

Maka, berbagai pujian pun terus diberikan kepada ayah saya dari orang-orang yang mendengar cerita perjalanan ayah saya itu. Namun, sungguh bukan itu yang ayah saya harapkan. Ia hanya ingin membuktikan kepada dunia bahwa apa yang dia yakini benar. Yaitu, keyakinannya seperti yang terdapat dalam Quran Surah Muhammad ayat 7. “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s