I Love You, Mama

Lelaki muda itu tampak berapi-api. Di hadapan para kliennya, ia menjelaskan sejumlah slide presentasi. Ia menjawab setiap pertanyaan klien, mengomentarinya, lalu menarik kesimpulan yang bisa diterima. Riuhan tepuk tangan menggema di ruangan rapat itu.

Telefon selulernya tiba-tiba bergetar dan berdering. Lelaki itu meraihnya dari dalam saku celananya. Panggilan dari Mama. Ia diam sejenak sambil mengernyitkan dahi. Ah, kenapa ia lupa mematikan HP pada acara penting itu. Kenapa pula ibunya menelefonnya saat jam sibuk. Lelaki itu mengabaikan panggilan itu, lalu melanjutkan presentasinya yang menarik itu.

Presentasi pun selesai. Para klien menyalami pria itu, pertanda puas akan presentasinya. Sebuah presentasi bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak. Siapa tak mau menerimanya.

Senja hampir ditelan malam. Pria itu bergegas masuk ke mobilnya. Ia ingin segera pulang dan menceritakan pada istrinya soal presentasinya tadi. Betapa senangnya ia hari itu.

Continue reading

Advertisements

Bocah Penjual Kerupuk itu Tulang Punggung Keluarga

Cuaca siang itu cukup terik ketika bocah itu berjalan lambat di sekitar Jalan Siliwangi, Baleendah, Kabupaten Bandung. Tangan kirinya menjinjing ember kecil, sementara tangan kanannya menenteng sekantung kerupuk. “Kurupuk.. Kurupuk..” ucapnya berkali-kali, menjajakan dagangannya.

Beberapa ibu-ibu tiba-tiba memanggilnya. Bocah itu datang menghampiri. Dengan cekatan, ia membuka kantung plastik berisi kerupuk dan ember kecil berisi saus untuk penyedap rasa.

Ibu-ibu itu memberinya lembaran rupiah setelah melahap beberapa kerupuk. Bocah itu menerima uang tersebut, lalu kembali menjajakan dagangannya.

Taufik Hidayat (13), nama bocah kecil itu. Sepulang sekolah, siswa kelas I SMP YPPI Baleendah itu tak langsung bermain, seperti teman-temannya. Ia punya kegiatan lain yang sudah menjadi rutinitasnya, yaitu menjual kerupuk.

“Saya jual kerupuk setelah pulang sekolah sekitar jam 12 sampai Asar. Jualannya keliling sekitar sini saja,” kata bocah yang tinggal di dekat Masjid Besar Dayeuhkolot ini beberapa waktu lalu.

bocah kerupuk

Taufik mengaku sudah berjualan kerupuk sejak masih SD. Ia mendapatkan kerupuk dari penjual langganannya di Dayeuhkolot dan menjajakannya di sekitar Baleendah. Kerupuk itu dijualnya Rp 1.500 per keping. Setiap hari, ia mendapatkan Rp 50.000 dari hasil dagangannya itu.

Meski demikian, uang itu tidak ia nikmati sendiri. Uang itu diserahkannya pada ibunya untuk dibagikan pada adik dan kakaknya. Ia dan kakak perempuannya yang kini kelas 2 SMA mendapatkan Rp 10.000, sementara adiknya yang masih kelas IV SD diberi Rp 5.000. Sisanya, ia serahkan pada ibunya untuk mengaturnya.

Siapa sangka, hasil penjualan kerupuk Taufik itu ternyata menjadi sumber penghasilan orang tuanya. Sejak ayahnya meninggalkan rumah waktu ia masih kecil, ibunya kini harus menanggung hidup tiga anaknya sendirian.

“Kalau ibu sekarang gak kerja. Kakak sama adik juga gak kerja. Yang kerja cuma saya aja, kebetulan dulu juga sempat ikut jualan kerupuk sama kakak sepupu di Dayeuhkolot,” tuturnya.

Sepulangnya berjualan kerupuk, Taufik sering kali tidak bermain dengan teman-teman seusianya. Ia lebih banyak di rumah sambil mempersiapkan diri untuk pergi mengaji saat tiba waktu Magrib.

Meski harus kehilangan sebagian waktu bermainnya untuk berjualan kerupuk, Taufik tak mengeluh. Ia justru senang lantaran bisa membantu ibunya mendapatkan uang. Sebagai anak lelaki tertua, ia menyadari dirinya suatu waktu harus menjadi pengganti ayahnya sebagai tulang punggung keluarga. (Cecep Wijaya/”PR”)

Dimuat di HU Pikiran Rakyat, Kamis, 22 Mei 2014

Sepuluh Kali Lipat

Hari Sabtu seharusnya Rohimah bisa beristirahat di kosnya karena tak ada jadwal kuliah. Namun, uang jajan kiriman orang tuanya yang terbatas, membuat dia memanfaatkan hari libur itu untuk mencari penghasilan tambahan. Ketika matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, gadis berkerudung itu sudah bergegas ke Pangdam untuk menuju ke tempat kerjanya di Bandung.

Bukan. Bukan Pangdam yang memimpin di Kodam III/Siliwangi. Pangdam yang dituju Rohimah merujuk ke satu tempat di pertigaan jalan raya Jatinangor-Sumedang dan jalan menuju kampus Unpad dan Universitas Winaya Mukti (sekarang menjadi kampus ITB Jatinangor). Tempat itu biasa menjadi tempat “mangkal” sejumlah bus Damri Jurusan Jatinangor-Dipatiukur sebelum areal Kampus Unpad Jatinangor di bagian depan dijadikan jalan umum seperti sekarang. Itulah sebabnya tempat itu dikenal dengan nama Pangdam alias Pangkalan Damri. Entah siapa yang mulai menamainya, tetapi semuanya seolah sepakat dengan nama itu.

Hingga kini, Bus Damri sepertinya memang menjadi angkutan paling efektif bagi mahasiswa di Jatinangor yang akan pergi ke Bandung. Meski sering kali harus berdesakan dan tidak kebagian tempat duduk, bus ini selalu menjadi pilihan lantaran ongkosnya yang berpihak pada kantong mahasiswa.

Continue reading

Kunci Sukses Menguasai Apa Pun

Layar komputer di depan mata. Catatan di atas meja. Jari-jari saya siap mengetik berita. Saya mengernyitkan dahi, pertanda berpikir keras. Bukan apa-apa, tetapi ini tentang kebakaran pabrik petasan di Tangerang yang menewaskan 53 orang. Ini berita serius, sehingga saya harus benar-benar menuliskannya dengan baik. Jangan sampai ada salah persepsi dari pembaca ketika membaca berita yang saya tulis itu. 

Ada banyak sekali data dalam catatan saya. Mulai dari lokasi pabrik, jumlah orang yang tewas, suasana kebakaran, upaya pemadam kebakaran, hingga keterangan saksi-saksi. Semua informasi cukup lengkap untuk dituangkan menjadi berita keras (straight news). Namun, saya bingung harus mulai dari mana. Sebab, itu pertama kalinya saya menulis berita!

Lima belas menit pertama berlalu, tetapi halaman Microsoft Word di layar komputer saya masih kosong. Saya berkali-kali menulis 1-2 kalimat, tetapi merasa kurang tepat sehingga saya menghapusnya. Mulai dari menulis kebakaran dan lokasinya lalu memunculkan keterangan saksi, hingga menulis upaya pemadam kebakarannya dulu lalu menulis kejadiannya. Saya benar-benar bingung untuk menentukan urutan informasi yang akan ditulis. Di antara yang paling sulit, adalah membuat kalimat pertama pada berita tersebut, yang belakangan saya ketahui itu adalah lead.
Continue reading

Tukang Servis TV

Saya punya TV kecil ukuran 14 inchi. Meski buatan Cina dan tidak bermerek terkenal, TV itu memiliki kualitas suara dan gambar yang baik. Setidaknya untuk saya yang saat menulis tulisan ini masih melajang.

Suatu hari, ketika saya menyalakan TV itu, gambar dan suaranya tiba-tiba tidak muncul seperti biasanya. Berkali-kali saya tekan tombol ON/OFF, gambar dan suara di TV itu tidak juga muncul. Beberapa menit kemudian, gambar dan suaranya akhirnya muncul dan kembali normal.

Kondisi itu bertahan hingga beberapa pekan dan saya sudah mulai terbiasa dengannya; Menyalakan TV lalu menunggu 5-10 menit untuk menikmati gambar dan suara yang normal. Sempat terpikir untuk pergi ke tukang servis TV, tetapi saya memilih menundanya lantaran masih belum begitu terganggu dengan kondisi itu.

Continue reading

Kopi Hitam

Sore itu matahari sudah mulai condong ke ufuk barat, seakan mengingatkan para penghuni bumi untuk beristirahat setelah seharian bekerja. Kemacetan menyergap Jalan Soekarno-Hatta, Bandung ketika para pengendara pulang kerja menuju rumahnya masing-masing. Bunyi klakson kendaraan bermotor terus bersahutan dan semakin nyaring begitu mendekati lampu merah. Sungguh suatu kondisi yang menjengkelkan dan menjadi salah satu penyebab stres bagi warga perkotaan.

Di tengah hiruk-pikuknya kendaraan di luar, saya masih berada di kantor meski pekerjaan sudah selesai. Saya beranjak ke lantai dua menuju pantri untuk sekadar minum kopi, melepas penat. Di sana ada seorang office boy (OB) yang tengah duduk santai menunggu pesanan. Seperti sudah mendapatkan kode, dia langsung menawarkan jasanya ketika saya datang. “Kopi, Bos?” ucapnya. “Boleh, Om,” kata saya menimpali.

Continue reading