Pelajaran dari Kasus Rumah Dinas UPI

Sungguh banyak perselisihan di dunia ini, tetapi yakinlah bahwa semuanya bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Berpikir dewasa dengan kepala dingin. Singkirkan ego, utamakan kemaslahatan bersama.

Pelajaran ini saya petik dari kejadian yang saya alami hari ini. Meskipun belum menuju ke arah sana, tetapi sudah ada indikasi bahwa ada salah satu pihak di antara yang berselisih ini yang berpikir dan menghendaki hal itu.

Siang (5/10) tadi, saya meliput tentang pembongkaran rumah dinas Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ceritanya, di areal kampus UPI terdapat sejumlah rumah dinas, kabarnya lebih dari 100, untuk para dosen dan karyawan UPI baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Namun, pada awal tahun ini, terjadi pembongkaran secara paksa oleh pihak universitas terhadap rumah-rumah dinas itu.

Saya berkesempatan mengunjungi salah satu penghuni rumah dinas itu. Sebut saja Pak Joe. Rumahnya memang belum terkena pembongkaran seperti yang terjadi pada beberapa rumah temannya. Namun, sebagai penghuni yang sama-sama tinggal di kompleks itu, batinnya menggebu-gebu.

Dengan gamblang, sambil diiringi naik turun nada suaranya, dia bercerita mengenai kronologis pembongkaran rumah-rumah dinas itu. Pada intinya, dia menilai pihak universitas tidak tahu tata krama. “UPI tidak akan mungkin berdiri hingga sekarang jika tidak ada kontribusi dari kami. Apa yang ada di pikiran para pejabat UPI hari ini? Apa mereka tidak berpikir, suatu saat mereka akan tua dan kemudian pensiun seperti kami?” katanya berkaca-kaca.

Berbagai upaya bukan tidak dilakukan, namun hal itu kurang mendapatkan dari pihak universitas. Sebut saja, melalui paguyuban para pensiunan UPI, berbagai keluhan dan aspirasi warga disampaikan langsung kepada rector. Namun, hingga kini hasilnya nihil. Beberapa penghuni sudah hengkang karena berkali-kali mendapat teguran dari UPI agar segera meninggalkan rumah dinas yang mereka tempati.

Lebih parah lagi, sebagian besar penghuni rumah dinas yang rata-rata sudah berusia lanjut itu shock mendengar kabar ini hingga menderita sakit. Bahkan, beberapa di antara mereka meninggal. “Memang ini takdir, tetapi jika melihat sabab musababnya, bisa saja ada kaitannya dengan masalah ini,” ujar Pak Joe.
Panjang lebar dia bercerita sampai aspek hukum yang telah ditempuhnya namun belum membuahkan hasil. Pada intinya, dia ingin agar UPI membuka ruang untuk dialog bersama pensiunan penghuni rumah dinas itu. “Itu saja, semuanya InsyaAllah akan berjalan lancar jika ada komunikasi,” kata Pak Joe.

Di akhir wawancara saya, dia meminta saya untuk tidak mencantumkan namanya sebagai sumber berita. Sesuai dengan kode etik jurnalistik, saya menurutinya. Mudah-mudahan ke depan ada solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini. (ceps)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s