The Magic of A Smile

Saban hari berkeliling di Bandung Raya untuk meliput berita, ada saja hal-hal yang saya temui dan alami di sepanjang jalan menuju narasumber ataupun sumber berita. Hal itu kadang-kadang menarik, menyenangkan, menjengkelkan, memuakkan, bahkan menegangkan. Dari semua kejadian itu, saya mencoba menarik pelajaran dan hikmah yang menjadikan saya semakin mengerti arti kehidupan. Hari ini, saya menemukan keajaiban dari sebuah senyuman.

Pagi hari, sekitar pukul 9.30 WIB, saya berangkat dari kantor menuju Kantor Pemkab Bandung Barat di Batujajar. Biasanya, saya membutuhkan waktu setengah jam untuk tiba di lokasi dengan menunggangi kuda besi, maksudnya sepeda motor. Dan biasanya lagi, di perjalanan, walaupun mata saya tetap panteng melihat lalu lintas yang lalu lalang di hadapan saya, pikiran saya menerawang entah kemana.

Di Cimahi, tak jauh dari Rumah Sakit Cibabat-lah kejadian itu terjadi. Arrggh sungguh kalimat yang tak efektif. Dua kata “jadi” hanya terpisah oleh satu kata, dan itu merupakan pengulangan yang tidak pada tempatnya bukan? Tapi mudah-mudahan kejadian yang saya alami hari ini tidak terulang lagi. Ketika, itu tadi, pikiran saya menerawang entah kemana, tiba-tiba tanpa saya sadari, mungkin sedikit saja saya sadari, atau mungkin saya sadari setengah-setengah, ah bebas lah, spion kanan motor saya membentur spion kiri mobil sedan yang berada di sebelah kanan motor saya. Tampak membingungkan kalimat barusan. Tidak apa-apa, kalau bingung tinggal minum obat.

Ketika saya sadari kejadian itu, saya hendak kabur meninggalkan mobil itu—apa ya, sepertinya mazda. Pokoknya warnanya biru tua. Tak lama berselang, dari mobil itu keluar bunyi klakson yang tak wajar. Sementara saya ada di depan mobil itu. Namun, klakson mobil itu berbunyi berkali-kali seolah menginginkan saya bertanggung jawab. Padahal, nabraknya tak seberapa, ga ada kerusakan lah pastinya. Merasa bunyi klakson itu ditujukan buat saya, akhirnya saya pun melambatkan laju motor saya sampai akhirnya mobil itu menghampiri.

Awalnya saya pikir, pengemudi mobil itu anak muda, beringas, tempramen, slengean, dan sejenisnya. Saya, dengan segala ke-gentleman-an saya, siap dengan segala konsekuensinya. Saat itu, saya merasa gagah seperti Gatot Kaca, lengkap dengan kumisnya yang di kedua ujungnya melengkung seperti ingin masuk ke lubang hidung. Ternyata eh ternyata, ketika kaca jendela kiri mobil itu dibuka, yang keluar adalah sosok ibu-ibu sekitar 40 tahunan, dan pengemudinya bapak-bapak berkaca mata sekitar 50 tahunan. Dengan spontan si ibu-ibu itu berkata kepada saya dengan nada yang tinggi, “HATI-HATI DONG!!!” sementara si bapak-bapak itu melirik saya dengan mata yang beringas, saya perhatikan mulutnya pun bersungut-sungut.

Apa yang saya lakukan? Berkata “LU YANG HATI-HATI TUA BANGKA”? bukan. Menendang mobil itu? Juga bukan. Berteriak, “MALIINGGG!!!” ah rasanya tidak. Saya hanya melambaikan tangan kanan saya disertai senyuman andalan saya seraya berkata, “Maaf..” sambil mencondongkan kepala. Lalu, mereka pun berlalu di hadapan saya seolah tak mengalami kejadian barusan. Selain merupakan ibadah, percaya atau tidak, senyum itu sungguh ajaib bukan?? (ceps)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s