Terus Berjalan

“Tidak ada hal yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Yang ada hanyalah pikiran yang membuat hal itu menyenangkan ataupun tidak menyenangkan”.

Dulu, ketika bekerja sebagai guru, saya sering mengeluh karena rutinitas yang membosankan; pagi ngajar, sore pulang, malam mempersiapkan bahan ajar. Setiap hari, pola hidup seperti itulah yang kujalani. Kemudian, saya menginginkan pekerjaan yang lain. Apa pun itu asal bukan guru.

Tak lama setelah saya berhenti sebagai guru, saya diterima menjadi editor di PR. Awalnya saya pikir, itulah pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan saya; suka menulis, suka bahasa. Namun, rutinitas kerja yang menurut saya membosankan ternyata cukup menyurutkan motivasi saya untuk menjadi editor andal (andal ya, bukan handal. Haha, dapet juga ilmunya).

Selang beberapa bulan, akhirnya saya merasa bosan dan menginginkan pekerjaan yang lain. Sempat terpikir untuk kembali terjun di dunia pendidikan.

Adalah paman saya yang merupakan seorang dosen di Kuningan, menawari saya bekerja sebagai dosen. Kata dia, universitas tempatnya mengajar membutuhkan dosen bahasa Inggris. Entah kenapa, dia begitu antusias menawari pekerjaan itu kepada saya. Padahal, saya pikir, saya tidak sehebat yang dia pikirkan.

Tawaran paman saya itu sempat mengusik pikiran saya. Apalagi, salah satu teman saya yang juga editor, ingin sekali menjadi dosen. Kata dia, “Jadi dosen itu enak. Ilmu bertambah, bisa jadi PNS. Pekerjaan santai (santai dari mana??hehe).” Hal ini semakin mendorong saya untuk segera melamar menjadi dosen. Tetapi, entah kenapa, sampai tenggat waktu yang diberikan paman saya untuk mendaftarkan diri menjadi dosen di universitas tersebut habis, saya tetap bergeming.

Sampailah pada suatu waktu di mana ada isu perekrutan wartawan PR. “Ini kesempatan saya. Tidak akan saya lewatkan,” pikirku. Dengan tekad yang bulat, akhirnya saya bergerak mengurus segala persyaratan untuk mendaftarkan diri. Surat lamaran, surat-surat rekomendasi, CV, dll. kusiapkan. Lalu, saya kirimkan ke SDM.

Dua minggu kemudian, saya mendapat panggilan interview. Para pewawancara sudah kenal saya sebelumnya sehingga saya tidak terlalu tegang menghadapi mereka. Mereka hanya ingin tahu seberapa besar motivasi saya untuk menjadi wartawan.

Dua bulan berikutnya, saya mengikuti berbagai tahapan seleksi. Mulai dari interview, tes bahasa Indonesia, tes TOEFL, interview bahasa Inggris, psikotes, dan tes kesehatan. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Dari sekitar 100 pelamar, hanya 8 orang yang lolos sampai tahap akhir. Salah satunya adalah saya (haha.. ending yg bagus).
Namun, rutinitas pekerjaan lagi-lagi membuat saya stuck (maaf ya, sebenarnya ingin buat kata-kata yang lebih dramatis dalam bahasa Indonesia, tapi belum terpikirkan). Ternyata menjadi wartawan bukan hanya membosankan, tapi juga melelahkan dan membingunkan. Bayangkan, setiap hari, saya harus memikirkan berita apa yang harus ditulis untuk keesokan harinya. Di sini, hambatan muncul; berita apa? Isu apa? Apa yang harus ditanyakan? Informasi apa yang harus dipahami sebelum mewawancara? Apakah berita ini layak?
Setelah dapat, saya harus mewawancara beberapa narasumber yang kompeten. Di sini, rintangan pun datang; apakah narasumber ini kompeten? Apa yang harus ditanyakan? Bagaimana menanyakannya? Bagaimana jika dia tidak mau diwawancara? Apakah informasi yang dia berikan benar?

Setelah mewawancara, masalah belum selesai. Saya harus menuliskan hasil liputan dengan cepat. Tantangan pun tak terelakkan. Saya harus menguras otak, bagaimana menuliskannya? Lead seperti apa yang menarik? Bagaimana agar pembaca memahami tulisan saya? dll.
Masalah berikutnya – mungkin yang paling mengesalkan – adalah ketika hasil liputan tidak dimuat karena berbagai alasan; kurang informatif, kurang data, tidak ada space karena tertutup iklan, dll. Cape dehhh…
Berbagai pikiran berkecamuk di kepala. Pusing, penat, kesal, mudegdeg dan sejenisnya. Sempat terlintas di benak saya, “Apakah saya mampu menjadi wartawan? Apakah dunia ini cocok dengan kehidupan saya? apakah..bla..bla..bla…? STOP!!!!

Saya memutar memori. Saya ingat pepatah, “pikiran bawah sadar merespons apa pun yang kita pikirkan, positif ataupun negative”. Dan saya memilih memikirkan hal positif. Saya yakinkan dalam diri. Saya mampu. Saya bisa. Saya harus terus berjalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s