Peduli Lingkungan Sejak Dini

Kedua bola matanya sekali-kali bergerak ke kiri dan ke kanan. Alisnya naik-turun. Jari-jari tangan kanannya sibuk menggaruk kepalanya. Tampaknya dia berusaha mengingat sesuatu.

“Banjir itu karena banyak yang buang sampah sembarangan di selokan. Jadi airnya mampet,” kata Jafan (3) menceritakan peristiwa yang dilihatnya di televisi. Sementara, teman-temannya yang lain meyimak penuturannya.

Sementara itu, seorang anak lainnya tampak mengernyitkan dahi. Napasnya tersengal-sengal. Matanya berkaca-kaca melihat salah satu halaman surat kabar yang dipegang kedua tangannya dengan erat. Halaman tersebut ternyata menunjukkan gambar reruntuhan tanah longsor dan evakuasi korban.

”Aduh… kita harus bantu nih… ngasih mi.. ngasih baju… ngasih makanan…” ujar Farisa (4) sambil tetap fokus melihat gambar tersebut. Kemudian, dia menunjukkan gambar tersebut kepada teman-temannya yang sedari tadi memperhatikannya.

Jafan dan Farisa adalah murid-murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Bunda Asuh Nanda yang terletak di Kompleks Kopo Indah Permai, Jln. Kopo Sayati, Bandung. Di hadapan guru dan murid-murid lain, dengan antusias mereka bercerita tentang bencana alam yang terjadi di Bandung beberapa waktu lalu. Setiap mencoba mengungkapkan peristiwa tersebut dengan kata-kata mereka sendiri, sang guru memberi mereka pujian.

Pengajaran seperti itu merupakan salah satu metode yang diterapkan di sekolah yang sudah berdiri selama 23 tahun itu. Para murid duduk membentuk lingkaran, sementara sang bunda – demikian sebutan untuk setiap guru – duduk di antara mereka untuk memberikan instruksi dan materi. Dengan demikian, guru dapat memantau setiap murid dan memastikan mereka memahami materi.

Materi yang diajarkan tidak hanya mengasah murid-murid secara kognitif, tetapi juga menyentuh aspek afektif dan psikomotorik mereka. Selain memberikan pengetahuan yang bersifat teoritis, guru-guru di sekolah tersebut juga mendorong para murid untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menumbuhkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar.

Di sekolah tersebut, para murid diajarkan bagaimana memanfaatkan limbah. “Botol-botol plastik bekas bisa dijadikan alat perkusi. Botol dan kaleng minuman bisa dibuat pot. Hasilnya dipajang di kelas,” tutur Mia Kusmiati (35), salah seorang guru, seraya menunjukkan hasil kreativitas para murid. Selain itu, dia menambahkan, para murid juga sudah dididik untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga tidak mencemari lingkungan.

“Sampah sayuran itu sampah organik. Kalau sampah botol dan kertas itu sampah anorganik. Jadi membuangnya harus beda,” ujar Nayo (3), salah seorang murid lainnya. Dia mengaku selalu membuang sampah pada tempatnya dan mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijadikan kreativitas di sekolah.

Rasa kepedulian terhadap lingkungan tersebut juga diakui Dini (30), salah seorang orang tua murid. Dia mengatakan, anaknya suka membuang sampah pada tempatnya dan memiliki kepekaan sosial. “Kalau ada pengemis di angkot atau di depan rumah, dia suka ngasih,” kata ibu muda yang menginginkan hal terbaik untuk anaknya kelak itu.

Sementara itu, Kepala TK Bunda Asuh Nanda, Elli Setyawati mengatakan, selain dididik untuk memiliki kepedulian sosial dan lingkungan, para murid juga diimbangi dengan pengetahuan umum dan pendidikan agama. Selain itu, mereka juga dibekali keterampilan berbahasa yang meliputi bahasa Inggris, Arab, dan Sunda.
Saat ini, tecatat 52 murid di TK Bunda Asuh Nanda di Kompleks Taman Kopo Indah. Sekolah ini merupakan salah satu dari delapan sekolah yang dikelola oleh Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Himpaudi) Indonesia, Anna Anggraini. Kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut mengacu pada kurikulum terbaru, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sementara metode yang digunakan berbasis Beyond Center and Circle Time (BCCT), di mana murid menjadi pusat aktivitas dan guru memfasilitasi mereka dalam proses pembelajaran. Selain itu, sekolah ini juga sudah menerapkan sistem moving class, di mana terdapat sentra-sentra pembelajaran seperti sentra science, agama, seni, bahasa, balok, dll. Dengan demikian, murid bergerak dari satu sentra ke sentra lain setiap berganti mata pelajaran dan bertemu dengan guru yang berbeda.

Menurut Anna, ketika ditemui, Minggu (7/3), 90% kecerdasan anak dibentuk pada usia antara 0 sampai 5 tahun. Dia mengatakan, pada usia tersebut, anak-anak mengalami proses pengumpulan informasi dari lingkungan sekitar yang kemudian membentuk pemahaman dan karakter mereka.

Dalam hal ini, peran orang tua dan guru sangat signifikan bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, Anna menambahkan, baik orang tua maupun guru harus memahami psikologi anak agar dapat memberikan pendidikan yang baik bagi mereka. “Sampaikan pendidikan kepada mereka dengan bahasa yang baik. Berikan penghargaan dengan tulus,” ujar Ketua Umum PAUD Jawa Barat itu.

Di sekolah PAUD yang didirikannya itu, Anna mencoba mendidik murid-muridnya dengan memosisikan dirinya sebagai teman bermain mereka. Dengan metode tersebut, anak-anak akan lebih bebas berekspresi. ”Di saat itulah, delapan kecerdasan majemuk mereka bisa dioptimalkan,” ujarnya. Dengan demikian, secara tidak sadar mereka belajar tentang kepedulian sosial dan lingkungan, kearifan lokal, berpikir kreatif, dan juga percaya diri.

Anna mengaku senang setiap kali berinteraksi dengan anak-anak karena mereka memiliki keunikan masing-masing. Ketika ditanya mengenai harapannya terhadap anak-anak di Indonesia, dia hanya ingin agar mereka mengalami masa kecil yang indah. ”Anak-anak harus medapatkan pengalaman semenyenangkan mungkin. Sebab, hal itu bersifat permanen,” ujar perempuan yang sekarang tinggal di Kompleks Ujungberung Indah ini. (Cecep Wijaya Sari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s