Game Online Mengalihkan Duniaku

Sahutan demi sahutan bermunculan dari berbagai sudut di ruangan itu. Setiap pasang mata tertuju pada layar berukuran 14 inci yang ada di hadapannya masing-masing. Jemari tangan kiri beradu dengan tombol-tombol keyboard, sementara tangan kanan mengklik tombol kiri-kanan mouse secara bergantian sambil sekali-kali menggerakkannya ke berbagai arah.

“Sudah berapa jam main di sini?”
“Lima jam,” jawab salah seorang penyuka game online, Fahri (18), bukan nama sebenarnya, di salah satu warung internet (warnet) dan game online di Kompleks Permata Biru, Cinunuk, Bandung.

Game online atau permainan yang terhubung dengan jaringan internet itu kini sangat digandrungi kalangan muda, terutama pelajar SMP dan SMA. Keunikan dari game online adalah bahwa seorang gamer – sebutan untuk penyuka game komputer – bisa bermain dengan para gamer lainnya dari seluruh Indonesia ataupun dunia pada saat yang sama. Dengan demikian, permainan terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Saking asyiknya bermain, para gamer terkadang lupa waktu. Mereka asyik duduk berjam-jam di depan layar komputer untuk memainkan game online yang rata-rata memiliki beberapa tingkatan untuk diselesaikan. Tak jarang, mereka harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membayar koneksi internet.

“Saya main game online delapan jam per hari. Soalnya, main game online lebih asyik daripada main PS,” kata Fahri. Dia menambahkan, uang yang dipakainya untuk bermain game online adalah hasil tabungannya sendiri. “Tetapi kalau tidak punya uang, ya terpaksa ngutang,” ujar pelajar salah satu SMA di Bandung itu sambil tertawa kecil.

Fahri mengaku telah mengenal game online sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini membuatnya kecanduan bermain game online. Bahkan, terkadang dia mengabaikan pelajarannya di sekolah. “Saya pernah bolos sekolah gara-gara tidak mengerjakan PR. Akhirnya, mampir ke warnet untuk maen game,” katanya menyeringai.
Ketika ditanya tentang tanggapan orang tuanya, Fahri mengatakan bahwa mereka mengetahui hal tersebut. Mereka menegurnya untuk tidak terlalu sering bermain game online. Namun, Fahri mengaku tidak terlalu menanggapinya.

Sementara itu, Irfan (24), pengelola warnet langganan Fahri mengatakan, pengunjung warnetnya sebagian besar memang terdiri atas pelajar SMP dan SMA. “Kebanyakan bermain game online. Kadang-kadang ada yang begadang sampai pagi,” ujar mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung itu.

Irfan mengaku suka melarang para pelajar yang masih berseragam sekolah untuk bermain game di warnetnya yang dilengkapi 22 unit komputer itu. “Jika ada yang masih berseragam (sekolah), saya menyuruhnya untuk mengganti baju dulu. Baru boleh balik lagi,” tuturnya.

Menurut Irfan, warnetnya yang berada di sekitar perumahan warga itu kerap membuat para orang tua resah. Sebab, anak-anak mereka sering pulang larut malam karena keasyikan bermain game online di warnetnya. Untuk mengatasi hal ini, Irfan mengatakan, dirinya telah mengadakan pertemuan khusus dengan para orang tua tersebut.
“Dari pertemuan itu dicapai kesepakatan bahwa pelajar sekolah tidak boleh bermain game online setelah magrib. Mereka hanya diperbolehkan mengakses internet untuk mengerjakan tugas sekolah,” tuturnya. Sejak pertemuan itu, Irfan mengaku tidak ada lagi pelajar sekolah yang pulang larut malam.

Senada dengan Irfan, Akmal (18) pengelola warnet lainnya di Jln. Babakan Ciparay, Bandung mengatakan, sebagian besar pengunjung warnetnya adalah para pelajar dan mahasiswa. Di warnetnya yang juga menyediakan layanan game online itu, para gamer sering bermain sampai larut. “Kebanyakan yang suka begadang adalah anak-anak SMA dan mahasiswa,” katanya. Meskipun demikian, dia mengaku belum ada keluhan dari para orang tua.

Keberadaan game online memang merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang memengaruhi gaya hidup. Namun, hal ini tidak seharusnya mengesampingkan hal yang lebih penting, yaitu memanfaatkan teknologi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, manajemen waktu dan prioritas adalah kuncinya. Game online… game online… kau benar-benar mengalihkan dunia, ya… (Cecep Wijaya Sari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s