Linda Beri Titiek “Wanita”

BANDUNG, (PR).-

Mantan Wartawan Gatra dan Tempo, Linda Djalil mempersembahkan lagu “Wanita” untuk penyanyi sekaligus aktris senior Titiek Puspa pada konferensi pers di Wisma Puspa, Jln. Pancoran Timur No. 21, Jakarta, Selasa (19/1). Lagu tersebut didedikasikannya untuk Titiek yang menderita kanker rahim.

Didampingi kedua putrinya, Petty dan Ella, Titiek bercerita tentang penyakit yang dideritanya itu di depan puluhan wartawan dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Titiek mengaku lebih bersemangat setelah mendengar lagu yang diciptakan sahabatnya, Linda itu. Oleh karena itu, di sela-sela keterangannya, Titik meminta Linda menyanyikan lagu tersebut.

Pada awalnya, Linda mengaku tidak yakin bisa membawakan lagu tersebut dengan baik. “Sebelum menyanyi saya katakan, mohon jangan perhatikan suara saya, tetapi cermatilah melodinya, musiknya, dan liriknya,” kata perempuan yang hengkang dari pekerjaannya sejak sepuluh tahun silam itu.

Meski demikian, semua yang hadir di Wisma Puspa itu terbawa hanyut dalam lantunan lagu yang dibawakan Linda. Titiek pun tak kuasa menahan tangis. Penyanyi senior Indri Yusnita yang juga hadir pada saat itu pun ikut menitikkan air mata. Beberapa sanak keluarga Titiek termasuk kakaknya, Elly Kasim memeluk Linda setelah selesai menyanyi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, Titik menderita kanker rahim sejak November 2009. Dia sempat menjalani empat kali kemoterapi dan belasan kali radiasi selama sebulan di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Namun, nenek 14 cucu itu itu mengaku terharu mendengar sahabatnya menciptakan lagu untuknya.

“Saya sampai nangis ada teman saya Linda Djalil yang bekerja sebagai wartawan, dengar saya sakit dia langsung buat lagu,” ujar perempuan yang akrab disapa tante di usianya yang senja itu. Dia mengatakan, lagu ciptaan sahabat sekaligus penggemarnya itu membuatnya lebih bergairah untuk mencapai kesembuhan.

Sementara itu, Linda mengaku terkejut ketika pertama kali mendengar kabar sakitnya Titiek dari keluarganya. “Hati saya ciut seciut-ciutnya,” katanya. Lalu, kondisi tersebut menginspirasinya untuk membuat sebuah lagu yang menggambarkan sosok Titiek.

“Lagu itu bercerita tentang ketegaran wanita Indonesia. Tentang duka yang selalu dilawan dengan doa,” ujar Linda. Dia mengatakan, Titiek Puspa adalah sosok wanita cantik yang energik, bersemangat, penuh kasih sayang, tegar, dan multitalenta. Oleh karena itu, dia mengharapkan lagu yang diciptakannya itu dapat membantu mengembalikan semangat hidup Titiek.

Pembuatan lagu tersebut melibatkan beberapa musisi kenamaan Indonesia seperti Addie M.S. dan Josef Djafar. Linda mengatakan, keduanya membantunya mengaransemen lagu “Wanita” yang pertama kali dibuatnya dalam bentuk melodi. Sementara lirik lagu tersebut dibuat oleh Jhodi Yudono.

Linda mengaku senang dengan lirik yang mengisi lagunya itu. “Apa yang saya gambarkan tentang Titiek Puspa dan wanita Indonesia yang pada umumnya kuat, tegar, hidup penuh dengan cinta itu, diimplementasikan Jodhi secara sempurna,” katanya memuji Jhodi. Linda mengatakan, lirik Jhodi dan aransemen Josef membuat lagu itu seakan membahana dengan jiwa yang bulat. (Cecep Wijaya Sari)

Advertisements

Game Online Mengalihkan Duniaku

Sahutan demi sahutan bermunculan dari berbagai sudut di ruangan itu. Setiap pasang mata tertuju pada layar berukuran 14 inci yang ada di hadapannya masing-masing. Jemari tangan kiri beradu dengan tombol-tombol keyboard, sementara tangan kanan mengklik tombol kiri-kanan mouse secara bergantian sambil sekali-kali menggerakkannya ke berbagai arah.

“Sudah berapa jam main di sini?”
“Lima jam,” jawab salah seorang penyuka game online, Fahri (18), bukan nama sebenarnya, di salah satu warung internet (warnet) dan game online di Kompleks Permata Biru, Cinunuk, Bandung.

Game online atau permainan yang terhubung dengan jaringan internet itu kini sangat digandrungi kalangan muda, terutama pelajar SMP dan SMA. Keunikan dari game online adalah bahwa seorang gamer – sebutan untuk penyuka game komputer – bisa bermain dengan para gamer lainnya dari seluruh Indonesia ataupun dunia pada saat yang sama. Dengan demikian, permainan terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Saking asyiknya bermain, para gamer terkadang lupa waktu. Mereka asyik duduk berjam-jam di depan layar komputer untuk memainkan game online yang rata-rata memiliki beberapa tingkatan untuk diselesaikan. Tak jarang, mereka harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membayar koneksi internet.

“Saya main game online delapan jam per hari. Soalnya, main game online lebih asyik daripada main PS,” kata Fahri. Dia menambahkan, uang yang dipakainya untuk bermain game online adalah hasil tabungannya sendiri. “Tetapi kalau tidak punya uang, ya terpaksa ngutang,” ujar pelajar salah satu SMA di Bandung itu sambil tertawa kecil.

Fahri mengaku telah mengenal game online sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini membuatnya kecanduan bermain game online. Bahkan, terkadang dia mengabaikan pelajarannya di sekolah. “Saya pernah bolos sekolah gara-gara tidak mengerjakan PR. Akhirnya, mampir ke warnet untuk maen game,” katanya menyeringai.
Ketika ditanya tentang tanggapan orang tuanya, Fahri mengatakan bahwa mereka mengetahui hal tersebut. Mereka menegurnya untuk tidak terlalu sering bermain game online. Namun, Fahri mengaku tidak terlalu menanggapinya.

Sementara itu, Irfan (24), pengelola warnet langganan Fahri mengatakan, pengunjung warnetnya sebagian besar memang terdiri atas pelajar SMP dan SMA. “Kebanyakan bermain game online. Kadang-kadang ada yang begadang sampai pagi,” ujar mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung itu.

Irfan mengaku suka melarang para pelajar yang masih berseragam sekolah untuk bermain game di warnetnya yang dilengkapi 22 unit komputer itu. “Jika ada yang masih berseragam (sekolah), saya menyuruhnya untuk mengganti baju dulu. Baru boleh balik lagi,” tuturnya.

Menurut Irfan, warnetnya yang berada di sekitar perumahan warga itu kerap membuat para orang tua resah. Sebab, anak-anak mereka sering pulang larut malam karena keasyikan bermain game online di warnetnya. Untuk mengatasi hal ini, Irfan mengatakan, dirinya telah mengadakan pertemuan khusus dengan para orang tua tersebut.
“Dari pertemuan itu dicapai kesepakatan bahwa pelajar sekolah tidak boleh bermain game online setelah magrib. Mereka hanya diperbolehkan mengakses internet untuk mengerjakan tugas sekolah,” tuturnya. Sejak pertemuan itu, Irfan mengaku tidak ada lagi pelajar sekolah yang pulang larut malam.

Senada dengan Irfan, Akmal (18) pengelola warnet lainnya di Jln. Babakan Ciparay, Bandung mengatakan, sebagian besar pengunjung warnetnya adalah para pelajar dan mahasiswa. Di warnetnya yang juga menyediakan layanan game online itu, para gamer sering bermain sampai larut. “Kebanyakan yang suka begadang adalah anak-anak SMA dan mahasiswa,” katanya. Meskipun demikian, dia mengaku belum ada keluhan dari para orang tua.

Keberadaan game online memang merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang memengaruhi gaya hidup. Namun, hal ini tidak seharusnya mengesampingkan hal yang lebih penting, yaitu memanfaatkan teknologi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, manajemen waktu dan prioritas adalah kuncinya. Game online… game online… kau benar-benar mengalihkan dunia, ya… (Cecep Wijaya Sari)

Berkreasi dengan Produk Lokal

Sepasang sepatu diambilnya dari sejumlah pasang sepatu putih nan polos yang dibiarkan berjejer di atas sebuah rak. Tangan kirinya mencengkeram sepatu, sementara tangan kanannya memegang kuas layaknya memegang alat tulis. Kuas tersebut dicelupkannya ke dalam wadah yang dipenuhi cat berwarna, lalu digoreskannya di atas permukaan sepatu.

“Perlu ketekunan dan kesabaran untuk melukis sepatu ini dengan baik,” ujar Karya Mulyana (27), seorang perajin sepatu lukis, sambil sekali-kali mengangkat dan menurunkan sepatu tersebut untuk melihatnya dari berbagai segi. Dalam waktu kurang dari satu jam, sepasang sepatu putih polos tersebut disulapnya menjadi sepatu lukis yang artistik.

Keberadaan Kota Bandung sebagai pusat kreativitas membuat Karya dan kakaknya, Iik Depi Hermawan (29), melirik sepatu lukis sebagai ladang mereka untuk mengais rezeki. Dengan modal awal Rp 500.000, pada Desember 2008, mereka memutuskan untuk membuka Toko Sepatu Lukis Bandung yang kini berlokasi di Jln. Rajawali Barat 39 itu.
Tren sepatu lukis atau sneaker sebenarnya sudah ada sejak tahun 1990-an. Pada awalnya, sneaker berasal dari negeri Paman Sam dan mulai masuk ke Indonesia sekitar 2006. Saat ini, sepatu lukis sudah mulai digandrungi sebagian besar anak muda dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Konsep sepatu lukis berbeda dengan bordir ataupun desain komputer. Sebab, gambar pada sepatu lukis dibuat langsung dengan tangan. Oleh karena itu, dengan sedikit sentuhan kreativitas dari tangan berbakat seperti karya, sepasang sepatu polos bisa dibuat menjadi sepatu artistik yang penuh gambar dan warna.

Walaupun bukan yang pertama kalinya mendirikan bisnis sepatu lukis di Bandung, Karya mengatakan bahwa produknya memiliki keunggulan dibandingkan dengan produk-produk lain yang sejenis. Selain merupakan produk lokal, produk-produk sepatu lukisnya memiliki pengemasan yang baik.

“Sepatu-sepatu (polos) ini diperoleh dari Cibaduyut. Kami menggunakan cat akrilik dan melakukan finishing dengan dipernis. Jadi, warna sepatu lebih cerah dan lebih awet,” kata lulusan pendidikan mesin dari salah satu universitas negeri di Bandung itu.

Model sepatu lukis yang ditawarkannya sangat bervarisasi. Di antaranya adalah gambar kartun, bunga, batik, graffiti, binatang, dll. Bahkan, Karya menambahkan, foto pemesan sepatu bisa dibuat menjadi lukisan. “Kami menyediakan berbagai model. Tetapi jika pemesan mempunyai desain sendiri, kami bisa melukiskannya,” tuturnya.

Dari berbagai model yang ditawarkan, Karya mengatakan bahwa model yang paling banyak dipesan adalah model kartun dan binatang. Hal ini disebabkan pemesan pada umumnya adalah remaja wanita. Namun, dia menambahkan, pemesan dari kalangan laki-laki juga tidak sedikit.

“Biasanya mereka memilih model graffiti atau gothic,” katanya.
Rina (17), salah seorang pelanggan, mengaku senang dengan model kartun. “Gambarnya lucu dan unik. Udah gitu, temen-temen banyak yang pake,” ujar siswi salah satu sekolah menengah kejuruan di Bandung itu.

Harga sepasang sepatu lukis di toko tersebut berkisar antara Rp 90.000-Rp 150.000, bergantung pada desain dan kerumitan gambar. Jika membawa sepatu sendiri, pemesan hanya dikenakan biaya melukis. “Biaya yang dikenakan untuk melukis saja, berkisar antara Rp 50.000-Rp 90.000,” ujarnya. Selain sepatu, Karya juga menawarkan produk-produk lain berupa tas, topi, dan sandal.

Untuk memasarkan produknya, Karya membuka situs online http://www.sepatulukisbandung.co.cc yang kini dikelola kakaknya. Dia mengatakan, bisnis online memungkinkan produknya dikenal seluruh masyarakat dari berbagai pelosok nusantara bahkan mancanegara.

Saat ini, tokonya sudah memiliki banyak agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Di antaranya terdapat di Padang, Palembang, Tanatoraja, Cirebon, Purbalingga, Bali, Samarinda, dan Timika, Papua.
Lalu mengapa dia memilih sepatu lokal sebagai bahan dasar produknya? “Selain harganya terjangkau semua kalangan, kami juga ingin membuktikan bahwa produk lokal tidak kalah bersaing dengan produk asing,” ujarnya. (Cecep Wijaya Sari)

Peduli Lingkungan Sejak Dini

Kedua bola matanya sekali-kali bergerak ke kiri dan ke kanan. Alisnya naik-turun. Jari-jari tangan kanannya sibuk menggaruk kepalanya. Tampaknya dia berusaha mengingat sesuatu.

“Banjir itu karena banyak yang buang sampah sembarangan di selokan. Jadi airnya mampet,” kata Jafan (3) menceritakan peristiwa yang dilihatnya di televisi. Sementara, teman-temannya yang lain meyimak penuturannya.

Sementara itu, seorang anak lainnya tampak mengernyitkan dahi. Napasnya tersengal-sengal. Matanya berkaca-kaca melihat salah satu halaman surat kabar yang dipegang kedua tangannya dengan erat. Halaman tersebut ternyata menunjukkan gambar reruntuhan tanah longsor dan evakuasi korban.

”Aduh… kita harus bantu nih… ngasih mi.. ngasih baju… ngasih makanan…” ujar Farisa (4) sambil tetap fokus melihat gambar tersebut. Kemudian, dia menunjukkan gambar tersebut kepada teman-temannya yang sedari tadi memperhatikannya.

Jafan dan Farisa adalah murid-murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Bunda Asuh Nanda yang terletak di Kompleks Kopo Indah Permai, Jln. Kopo Sayati, Bandung. Di hadapan guru dan murid-murid lain, dengan antusias mereka bercerita tentang bencana alam yang terjadi di Bandung beberapa waktu lalu. Setiap mencoba mengungkapkan peristiwa tersebut dengan kata-kata mereka sendiri, sang guru memberi mereka pujian.

Pengajaran seperti itu merupakan salah satu metode yang diterapkan di sekolah yang sudah berdiri selama 23 tahun itu. Para murid duduk membentuk lingkaran, sementara sang bunda – demikian sebutan untuk setiap guru – duduk di antara mereka untuk memberikan instruksi dan materi. Dengan demikian, guru dapat memantau setiap murid dan memastikan mereka memahami materi.

Materi yang diajarkan tidak hanya mengasah murid-murid secara kognitif, tetapi juga menyentuh aspek afektif dan psikomotorik mereka. Selain memberikan pengetahuan yang bersifat teoritis, guru-guru di sekolah tersebut juga mendorong para murid untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menumbuhkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar.

Di sekolah tersebut, para murid diajarkan bagaimana memanfaatkan limbah. “Botol-botol plastik bekas bisa dijadikan alat perkusi. Botol dan kaleng minuman bisa dibuat pot. Hasilnya dipajang di kelas,” tutur Mia Kusmiati (35), salah seorang guru, seraya menunjukkan hasil kreativitas para murid. Selain itu, dia menambahkan, para murid juga sudah dididik untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga tidak mencemari lingkungan.

“Sampah sayuran itu sampah organik. Kalau sampah botol dan kertas itu sampah anorganik. Jadi membuangnya harus beda,” ujar Nayo (3), salah seorang murid lainnya. Dia mengaku selalu membuang sampah pada tempatnya dan mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijadikan kreativitas di sekolah.

Rasa kepedulian terhadap lingkungan tersebut juga diakui Dini (30), salah seorang orang tua murid. Dia mengatakan, anaknya suka membuang sampah pada tempatnya dan memiliki kepekaan sosial. “Kalau ada pengemis di angkot atau di depan rumah, dia suka ngasih,” kata ibu muda yang menginginkan hal terbaik untuk anaknya kelak itu.

Sementara itu, Kepala TK Bunda Asuh Nanda, Elli Setyawati mengatakan, selain dididik untuk memiliki kepedulian sosial dan lingkungan, para murid juga diimbangi dengan pengetahuan umum dan pendidikan agama. Selain itu, mereka juga dibekali keterampilan berbahasa yang meliputi bahasa Inggris, Arab, dan Sunda.
Saat ini, tecatat 52 murid di TK Bunda Asuh Nanda di Kompleks Taman Kopo Indah. Sekolah ini merupakan salah satu dari delapan sekolah yang dikelola oleh Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Himpaudi) Indonesia, Anna Anggraini. Kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut mengacu pada kurikulum terbaru, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sementara metode yang digunakan berbasis Beyond Center and Circle Time (BCCT), di mana murid menjadi pusat aktivitas dan guru memfasilitasi mereka dalam proses pembelajaran. Selain itu, sekolah ini juga sudah menerapkan sistem moving class, di mana terdapat sentra-sentra pembelajaran seperti sentra science, agama, seni, bahasa, balok, dll. Dengan demikian, murid bergerak dari satu sentra ke sentra lain setiap berganti mata pelajaran dan bertemu dengan guru yang berbeda.

Menurut Anna, ketika ditemui, Minggu (7/3), 90% kecerdasan anak dibentuk pada usia antara 0 sampai 5 tahun. Dia mengatakan, pada usia tersebut, anak-anak mengalami proses pengumpulan informasi dari lingkungan sekitar yang kemudian membentuk pemahaman dan karakter mereka.

Dalam hal ini, peran orang tua dan guru sangat signifikan bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, Anna menambahkan, baik orang tua maupun guru harus memahami psikologi anak agar dapat memberikan pendidikan yang baik bagi mereka. “Sampaikan pendidikan kepada mereka dengan bahasa yang baik. Berikan penghargaan dengan tulus,” ujar Ketua Umum PAUD Jawa Barat itu.

Di sekolah PAUD yang didirikannya itu, Anna mencoba mendidik murid-muridnya dengan memosisikan dirinya sebagai teman bermain mereka. Dengan metode tersebut, anak-anak akan lebih bebas berekspresi. ”Di saat itulah, delapan kecerdasan majemuk mereka bisa dioptimalkan,” ujarnya. Dengan demikian, secara tidak sadar mereka belajar tentang kepedulian sosial dan lingkungan, kearifan lokal, berpikir kreatif, dan juga percaya diri.

Anna mengaku senang setiap kali berinteraksi dengan anak-anak karena mereka memiliki keunikan masing-masing. Ketika ditanya mengenai harapannya terhadap anak-anak di Indonesia, dia hanya ingin agar mereka mengalami masa kecil yang indah. ”Anak-anak harus medapatkan pengalaman semenyenangkan mungkin. Sebab, hal itu bersifat permanen,” ujar perempuan yang sekarang tinggal di Kompleks Ujungberung Indah ini. (Cecep Wijaya Sari)

Inner Contact

Yesterday I got an accident. It happened when my friends and I were going to have dinner together someplace. We were each riding a motorcycle. At first, we went together, but because of the traffic, we were separated. Then, I was on my own and left behind.

When I was going to turn left next to an intersection, I was still in the middle of the road. At that time, the traffic was very crowded, so it was quite hard for me to ride on the left side. And when I was trying to turn left, the accident happened. The back of the motorcycle I was riding was hit by a car behind me. It made me lost my control for awhile, but I kept moving. Meanwhile, horns were screaming from my left and right side. Then, I rode the motorcycle to the edge of the road and stopped by to relax my mind. I took a deep breath and thank God I was alright.

A few hours ago, my mother called me. Her voice was very low and she spoke slowly. She asked me how I was, and I said I was alright. A minute later, she cried. She said to me that she had thought of me since yesterday. And to my surprise, she asked me not to speed when riding, and to always pray to God before and while riding the motorcycle. I said, “Yes, Mom, I always do that. Thanks for reminding me, anyway.”

I don’t understand why she said that, because I didn’t tell anything about what was happening to me yesterday. However, when she said that, I just thought of the accident. I’m kinda thinking like, she feels what I feel. I did get an accident in here, and she felt this in hundreds kilometers away outhere. Perhaps, this is what people say as “inner contact”. A contact between a mother and her child.

From now on, I promise to myself to make my mother happy and not to make her worry about me. Love you, Mom.

Pabrik Petasan Terbakar, 53 Tewas

TANGERANG, (PR).-

Kebakaran menghanguskan pabrik petasan PT Sinar Terang, Kota Tangerang, Rabu (24/2) sore. Peristiwa itu menyebabkan 53 orang tewas dan 4 luka-luka. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian dan beberapa saksi, belum diketahui penyebab kebakaran tersebut.

Peristiwa yang terjadi pada pukul 16.40 WIB itu diperkirakan berlangsung saat para karyawan sedang bekerja. Amin, salah seorang saksi mengatakan, warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut mencoba menolong para karyawan yang terjebak di dalam pabrik, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. ”Mereka takut mendekat karena terjadi banyak ledakan di dalam pabrik tersebut,” katanya.

Kepolisian Tangerang, kepada wartawan mengatakan, petugas di lapangan masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. Polisi menambahkan, arsitektur pabrik tersebut menyalahi aturan sehingga menimbulkan banyak korban tewas. ”Pintu pabrik hanya satu dan hanya bisa dibuka ke arah dalam sehingga menyulitkan para pekerja keluar-masuk pabrik,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Antonius, mandor pabrik yang saat kejadian berada di dekat tempat kejadian perkara (TKP), kobaran api mulai terlihat dari pintu yang merupakan jalan satu-satunya memasuki pabrik tersebut. Ketika kejadian berlangsung, diduga para pekerja berebutan keluar ruangan untuk menyelamatkan diri. Namun, karena pintu keluar sudah tertutup api, akhirnya mereka terjebak di dalam pabrik.

Setelah api berhasil dipadamkan, petugas pemadam kebakaran dan kepolisian berusaha untuk mengeluarkan para korban yang terjebak di dalam pabrik. Petugas mendapati 53 karyawan perempuan tewas dalam kondisi meringkuk dan tubuh yang telah melepuh. Seorang korban tewas bernama Warkinah diketahui tengah hamil empat bulan.

Sementara korban terluka yaitu seorang laki-laki dan tiga perempuan.
Dengan menggunakan delapan ambulans, semua jenazah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dikawal empat petugas Polres Tangerang. Jenazah tersebut tiba di RSCM sekitar pukul 19.30 WIB dan langsung dimasukkan ke kamar jenazah.

Sementara itu, polisi akan segera meminta keterangan pemilik PT Sinar Terang, SW, yang pada saat kejadian sedang berada di kediamannya. (Cecep Wijaya Sari)