A Beautiful Trip to Tangkubanparahu

13 FEBRUARI 2010

6.20 Kamar Kosan
Setelah tertidur sejenak selepas salat subuh, baru ingat ternyata hari itu ada acara jalan-jalan dengan anak-anak Bahasa dan Text Entry. Belum pasti tujuannya kemana; antara Ciater dan Tangkubanparahu. Tapi melihat judul di atas seperti itu, sudah bisa ditebak nanti akhirnya ke mana. Yang pasti, semua sepakat untuk kumpul dulu di UPI jam 8.00 pagi. Barusan tadi adalah contoh kalimat tidak efektif, karena pukul 8.00 itu sudah pasti pagi bukan? Jadi sebelum telat, langsung saja kucari teman yang selalu menemaniku ke mana pun aku pergi (kecuali ke toilet) – HP-ku – untuk kemudian SMS Kang Opik. Bukan apa-apa, tapi ini menyangkut tumpangan gratis (hehe…)


7.05 Gerbang Soekarno-Hatta 147

Dari arah yang berlawanan dan dengan kendaraan yang berbeda, dua sosok manusia bertemu. Dua sosok itu adalah Kang Opik – yang naik motor lengkap dengan masker dan jaket kulitnya – dan aku, yang cukup melangkah pasti dengan sepasang sepatu warrior (bukan promosi lho). Namun akhirnya, kami berangkat bersama dengan kendaraan yang sama, dan menuju tujuan yang sama. Kami melaju ke UPI. Go.. go..!!!

7.40 Gerbang UPI
Persis seperti dugaan, kami tiba paling awal di sana. Langit pagi itu masih diselimuti kabut; tidak telalu tebal tapi cukup mengaburkan pandangan dan menusuk pori-pori kulit. Lalu lintas belum begitu padat, tapi cukup membuat geram para sopir angkot yang menyaksikan seorang pengendara motor amatir yang melawan arah. Tapi percayalah, tidak ada yang lebih menyebalkan selain merasakan perut keroncongan. Aku belum sarapan pagi itu. Untung saja, Kang Opik bawa amunisi yang cukup lengkap. Sebelum tempur, langsung saja kusikat. Dua lontong dan beberapa gorengan cukup kuat mengganjal perutku yang sick pack…(Sick pack apa six pack ya?? Teuing ah.. nu penting mah, nuhun Kg Opik :D)

7.55 AE came
Jika ingin tahu bagaimana khasiat batere alkaline ketika dipasang pada tubuh manusia, maka lihatlah Kang AE yang datang pagi itu dengan tunggangan astrea-nya. Sedikit saja senyuman yang kami lontarkan padanya, dia membalas dengan ribuan kata-kata dalam bentuk cerita, nyanyian, teriakan, pantun, puisi, dan drama lengkap dengan segala ekspresinya yang – terus terang – cukup lebay tapi menghibur (hahaha…peace ah!). Sambil menunggu teman-teman lainnya yang belum datang, dia tidak duduk ataupun nongkrong, tetapi kesana-kemari tak ubahnya anak ayam kehilangan induknya. Sesekali jongkok, menopang dagu, berdiri, jongkok lagi, melihat kiri-kanan, berdiri lagi, jalan sebentar, jongkok lagi, dan begitu seterusnya. Entah apa yang dia pikirkan.

8++ Acy, Tika, Rully came
Acy – sang pencetus ide berpetualang hari itu – datang dengan miabi… hmm.. maksudnya mio birunya😀, yang selang beberapa menit disusul Tika dan RUlly yang datang bersamaan. Jika kalian mengira mereka sepasang kekasih, maka itu salah. Karena mereka hanyalah manusia (ya iyalah…). Anyway, it was just one left… Kang Novan (kayanya calon guru nih; ditunggu dan diburu-buru). Sebetulnya masih banyak sih personel yang lain, tapi pada hari itu berhalangan hadir. Jadi buat Bayu, AB, Teh Ari, Teh Ratih, Kg Ucup, Kg Iduy, Kg Jun, Bang Zul, dan …(sebut ga ya?? Ga dulu deh..:D) ditunggu di kesempatan berikutnya…

9.20 Cabut dari UPI
Akhirnya kang Novan datang juga. Berhubung waktu sudah siang dan pan*** sudah pada berjamur, kami tidak ada waktu untuk menghakiminya. Lagi pula, tidak ada palu dan meja di situ. Tapi untuk yang satu ini, kami harus segera memutuskan; ke Ciater atau ke Tangkubanparahu. Setelah hompimpah alaihum gambreng, kami sepakat untuk menuju Kuningan (lho????). Kami bergerak menuju Lembang. Dalam perjalanan, dada kami menghalau terpaan angin pegunungan, dan sesekali berpapasan dengan orang-orang sakti yang membawa sekarung rumput di motor mereka.

10.15 Mount Tangkubanparahu
Di sinilah akhirnya kendaraan kami mendarat. Itu tadi adalah merupakan contoh kalimat tidak efektif lainnya, karena sebenarnya kendaraan kami sedari tadi sudah berada di darat. Dan penjaga pintu gerbang Tangkubanparahu yang menginjakkan kakinya di darat itulah yang memegang tiket (inget: pake “i”) – yang tentu saja harus kami beli. Satu orang dikenakan Rp 13.000, satu motor dikenakan Rp 5.000. Untuk sampai ke areal wisata Tangkubanparahu, kami harus menempuh perjalanan naik yang berliku-liku, jalanan khas pegunungan. Di situlah kehandalan motor-motor yang kami kendarai diuji.

10.30 At the top of the mount
Indah sekali menyaksikan lukisan alam yang tiada tara di atas sana. Kepulan asap – yang sulit dibedakan antara asap belerang dan kabut – menari-nari di udara menyambut ramainya para pengunjung. Sekali melihat ke bawah kawah Domas, mata kita akan dibuat bingung, apakah yang sedang kita saksikan itu suatu kenyataan atau ilusi. Dan lihatlah, bebatuan gunung itu seperti mempunyai cetakan tersendiri, karena guratan-guratan di antaranya sangat tajam sehingga membuatnya tampak kokoh. Dan sepertinya, tinta-tinta yang digunakan para pelukis andal pun tidak akan mampu menyaingi komposisi warna antara gunung, kawah, danau, gas belerang, bebatuan, dan pepohonan ciptaan Allah yang sedang kami saksikan saat itu, di Gunung Tangkubanparahu.

Dari kiri ke kanan: duduk: Acy, Samuel Rizal. berdiri: Opik, Tika, Rully, Novan, AE

Di atas sana, kami menyempatkan waktu untuk sekadar menghirup udara segar pegunungan – kami harap begitu. Walaupun cukup lemas menempuh perjalanan berkelok-kelok tadi, tapi jepretan kamera cukup berkhasiat membuat wajah luyu kami menjadi wajah yang tersenyum ceria. Nah, untuk mempertahankan wajah ceria ini, akhirnya kami mengambil gambar dan berpose di mana-mana. Saat itulah bisa diuji siapa yang berbakat jadi fotografer atau fotomodel (sok lah ngacung… :D).

13.30 hujan lebat
Hujan yang tadinya kami kira berasal dari kabut saat itu semakin lebat. Kabut pun semakin tebal dan semakin mengaburkan pandangan kami. Kami berteduh sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Sebelumnya, kami sempat bertemu dengan manusia bertato yang membuat kami tersesat di Cikahuripan, dan sempat berpapasan dengan beberapa orang, yang dari bahasanya terlihat jelas bahwa mereka orang Jepara…errhh.. mksudnya Jepang. Salah satu di antaranya sekilas mirip artis yang main di Suster Keramas. Sepintas lagi mirip juga dengan Oshin. Tapi dipikir-pikir, dia tak jauh beda dengan Tina Toon. Itu lho, yang nyanyi “bala-bala” (jangan protes dulu, bolo-bolo itu di Jawa, kalau di Sunda namanya bala-bala… halah naon sih!!)

14.50 Perjalanan pulang
Selesai salat zuhur yang dijamak dengan Asar, kami pulang menuruni jalanan bukit itu. Hujan pun kami terobos. Bukan apa-apa, tapi penghuni perut ini sudah mulai berunjuk rasa. Akhirnya, kami berpisah di Lembang secara baik-baik. Walupun basah kuyup, tapi petualangan hari itu sangat menyenangkan.

One thought on “A Beautiful Trip to Tangkubanparahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s