Tegakkan Keadilan!

Terus terang gue jijik geli banget sama hukum yang berlaku diberlakukan di negeri ini. Pantes aja kriminalitas tidak berkurang setiap harinya, malah makin bertambah. Gimana nggak, hukum yang ada hanya berlaku bagi orang-orang kecil (baca: tak punya duit buat beli hukum). Sementara yang punya duit, cukup menyumpal mulut-mulut para mafia hukum, dan setelah itu dia bisa ongkang-ongkang-ongkang kaki (saking enaknya, jadi ongkangnya ada tiga!)

Satu lagi bukti kebobrokan hukum di Indonesia. Ehmm… dua denk. Baru-baru ini, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum melakukan sidak ke rutan Pondok Bambu, Jaktim. Dan apa yang ditemukan? Ternyata saudara-saudara sekalian… rutan itu sekarang menjadi hotel bintang lima! bayangkan, di dalamnya ada kulkas, TV, AC, ruang rapat, sofa, karaoke, plus servis pembantu. Dan anehnya lagi, penghuni tempat dengan fasilitas itu cuma beberapa ekor gelintir orang. Dan salah satunya adalah koruptor BLBI Artalyta alias Ayin.

Di sisi lain, hari ini gue liat di TV, ada kasus di Bengkulu yang amat tidak layak dipermasalahkan, tapi diajukan ke pengadilan. Malah si tersangka, yang sudah kakek-kakek, dituntut lima tahun penjara. Apa pasal? Mencuri penggorengan!!! Jadi ceritanya, si kakek mau masak terus ngambil penggorengan di tempatnya bekerja. Niatnya sih pinjam, nanti dikembalikan. Cuma bosnya nganggep si kakek itu mencuri asetnya. Lalu sang bos menuntut si kakek. Entah bagaimana nasib sang kakek.

Mari kita sejenak memasuki lorong waktu ke masa lalu untuk membandingkan kasus hukum yang terjadi saat ini dengan hukum yang diterapkan pada saat itu. Setelah itu saya (kali ini gue pake kata ganti “saya” karena ini mulai serius :D) harap kita semua bisa menilai, hukum apa yang pantas untuk menegakkan keadilan di muka bumi ini. Saya akan mengetengahkan juga dua kasus yang terjadi pada abad ke-7 M. Kasus pertama menimpa seorang pemimpin negara, dan kasus yang kedua menimpa seorang gubernur.

Kasus pertama, seorang pemimpin negara sekaligus panglima perang yang beragama Islam, merasa baju perangnya dicuri oleh seorang Nasrani. Lalu dia mengajukan perkara ini ke pengadilan. Kemudian di pengadilan itu, sang kepala negara diperlakukan secara hormat oleh majelis hakim. Namun, sang kepala negara tidak menyukai hal itu dan meminta majelis hakim memperlakukannya seperti yang lainnya.

Kemudian ketika ditanya apakah ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa baju perang itu miliknya, sang kepala negara hanya tersenyum dan tidak bisa menjawabnya, karena dia tidak mempunyai bukti-bukti itu. Akhirnya, pengadilan memutuskan bahwa baju perang itu milik sang Nasrani.

Kasus kedua, seorang Gubernur Mesir hendak membangun masjid di samping istananya yang megah. Namun, di situ terdapat satu gubuk milik orang Yahudi sehingga harus digusur. Pada awalnya, sang gubernur telah berbicara secara baik-baik dengan sang Yahudi dan bersedia memberikan ganti rugi. Namun, sang Yahudi enggan menerimanya. Dengan cara halus tak mempan, akhirnya sang gubernur mempergunakan kekuasaannya untuk menggusur gubuk sang Yahudi itu secara paksa.

Tak terima dengan perlakuan ini, sang nenek pergi ke Arab untuk melaporkannya ke kepala negara. Tiba di sana, ternyata sang kepala negara sedang berteduh di bawah pohon kurma. Setelah menerima laporan itu, sang kepala negara terperanjat dan sangat murka. Kemudian dia meminta nenek tersebut memberikan kepada sang gubernur sebuah tulang busuk yang telah diberi garis lurus dan sedikit garis horisontal yang membelah keduanya. Meskipun bingung, sang nenek mematuhi perintah kepala negara.

Tiba di Mesir, nenek itu memberikan tulang tersebut kepada sang gubernur, dan mengatakan bahwa tulang itu titipan dari kepala negara. Bagaimana reaksi sang gubernur?? setelah menerima tulang itu, mukanya merah padam, seluruh tubuh gemetar tak tertahankan, dan keringat panas dingin keluar dari setiap pori-pori kulitnya. Kemudian dia langsung memerintahkan anak buahnya membatalkan penggusuran gubuk milik nenek Yahudi itu. Rupanya tulang busuk itu cukup memberinya peringatan untuk berbuat adil kepada siapa pun tanpa memandang agama.

Siapakah kepala negara pada kasus pertama dan pada kasus kedua itu? Dialah Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khathab. Sedangkan gubernur pada kasus kedua adalah Amr bin Ash. Apa hukum yang mereka terapkan? Itulah hukum Islam. Hukum buatan Allah, pencipta bumi, langit, dan segala isinya.

Nah, dari kasus-kasus yang terjadi pada periode yang berbeda di atas, kiranya kita bisa lebih berpikir jernih untuk menilai hukum apa yang pantas diadopsi untuk menegakkan keadilan di muka bumi ini. Mau pilih hukum sekuler buatan manusia yang suka salah dan lupa, atau pilih hukum buatan Tuhan yang sempurna? (ceps)

2 thoughts on “Tegakkan Keadilan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s