PNS dan Kebahagiaan

SAMPAI saat ini, pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) masih diminati oleh sebagian besar masyarakat. Terbukti dengan adanya berbagai perekrutan calon pegawai negeri sipil (CPNS) dari berbagai departemen ataupun pemerintahan setempat di berbagai daerah, ribuan bahkan puluhan ribu orang mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi CPNS tersebut. Padahal, yang dibutuhkan rata-rata tidak lebih dari tiga ratus formasi. Lantas apa yang membuat mereka begitu mengharapkan menjadi PNS? Tampaknya mereka melakukannya karena menginginkan satu hal; kebahagiaan.

Dengan menjadi PNS, orang-orang berpikir akan mendapatkan kebahagiaan di masa yang akan datang. Sebab, mereka akan memiliki karir yang jelas dan jaminan hari tua. Belum lagi dengan berbagai tunjangan dan fasilitas yang mencukupi untuk setiap jenjang karirnya. Dengan begitu, setidaknya mereka memiliki rasa “aman” akan hari esok. Oleh karena itu, tidak heran jika mereka berbondong-bondong mengikuti seleksi CPNS di berbagai daerah dan dari berbagai instansi pemerintahan. Akan tetapi, benarkah PNS menjamin kebahagiaan seseorang? Atau apakah PNS satu-satunya jalan untuk mendapatkan kebahagiaan? Lalu apa sebenarnya kebahagiaan itu?

Pagi ini aku membaca salah satu artikel Ary Ginanjar Agustian tentang kebahagiaan. Beliau membagi kebahagiaan menjadi tiga, yakni physical happines (kebahagiaan materi), emotional happiness (kebahagiaan emosional), dan spiritual happines (kebahagiaan spiritual).

Physical happiness (kebahagiaan materi) adalah kebahagiaan yang diukur dari segi materi. Artinya, seseorang merasa bahagia ketika memiliki harta yang melimpah, rumah dan kendaraan yang mewah, bisnis yang pesat, dan berbagai limpahan materi lainnya. Sebab, dengan kebebasan finansial, seseorang akan dapat membeli, memiliki, dan melakukan apa pun. Kebahagiaan ini, menurut beliau, merupakan kebagaiaan semu, karena menjebak seseorang bersifat konsumerisme dan hanya mengejar materi dalam kehidupannya.

Emotional happiness (kebahagiaan emosional) adalah kebahagiaan berupa pengakuan, pujian, dan penghargaan dari orang lain. Seseorang merasa bahagia ketika mendapat sanjungan, tepuk tangan, dan piagam penghargaan dari banyak orang atas prestasi yang diraihnya. Kebahagiaan seperti ini cenderung sulit dipenuhi karena manusia bersifat tidak pernah puas.

Berbeda dengan physical dan emotional happiness yang diukur berdasarkan materi dan sanjungan manusia, spiritual happiness (kebahagiaan spiritual) tidak diukur berdasarkan keduanya. Akan tetapi, kebahagiaan spiritual diperoleh ketika seseorang menyadari akan hakikat hidup sebenarnya; dari mana dia berasal, apa tujuan dia hidup di dunia, dan mau ke mana dia pergi kelak.

Dengan memahami hal ini, manusia tidak akan mengejar kehidupan duniawi semata, tetapi mereka mengharapkan kebahagiaan hakiki, yakni kebahagiaan spiritual. Oleh karena itu, spiritual happiness tidak mengharapkan imbalan ataupun pemberian baik berupa materi maupun penghargaan dari orang lain, melainkan justru kebahagiaan ini didapat ketika kita dapat memberikan “sesuatu” kepada orang lain. Seorang ibu merasa bahagia ketika memberikan uang jajan kepada anaknya, seorang kyai merasa ikhlas ketika memberikan nasihat kepada para santrinya, anak muda merasa senang ketika menuntun seorang nenek menyeberang jalan. Semua itu merupakan bentuk dari kebahagiaan spiritual. Mereka merasa bahagia justru ketika mereka memberi atau melakukan sesuatu untuk orang lain, bukan menerima.

Menjadi PNS merupakan upaya orang untuk mencapai salah satu kebahagiaan di atas. Kebahagiaan apa yang mereka cari akan mempengaruhi kinerja mereka setelah menjadi PNS kelak. Apabila physical atau emotional happiness yang mereka cari, bisa ditebak mereka hanya mengharap kenaikan karir, tunjangan, fasilitas, ataupun sanjungan dari atasan semata-mata untuk kepentingan pribadi mereka. Jika mereka tidak mendapatkannya, bisa jadi akan menghalalkan segala cara, termasuk korupsi. Padahal, PNS mengemban amanah yang berat, karena mereka berfungsi sebagai pelayan masyarakat.

Akan tetapi, apabila spiritual happiness yang mereka cari, mereka akan memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin untuk bisa berbagi dengan masyarakat, membantu dan melayani mereka. Kalaupun tidak jadi PNS, mereka pun tidak akan berkecil hati, karena masih banyak ruang untuk bisa mengais rezeki dan berbagi terhadap sesama. (ceps)

One thought on “PNS dan Kebahagiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s