Wanita-wanita Mandiri

wirausahaDUA hari yang lalu, aku mengikuti pelatihan gratis “Public Speaking” di LPK Karya Jelita, Jln. Terusan Buahbatu 294, Bandung. Pelatihan yang merupakan kerja sama Depdiknas Jabar dengan LPK Karya Jelita itu menghadirkan narasumber Eny Esti Kolopaking. Pelatihan itu diselenggarakan dalam rangka membantu Rakyat miskin untuk memiliki life skill.

Awalnya, aku kira pelatihan itu bertempat di aula atau gedung apalah, ternyata tempatnya di ruang tata rias. Jadi, pemandangan di sekelilingnya seperti baju pengantin, konde-konde, gitu-gitu deh. Tapi aku tidak begitu terganggu dengan pemandangan itu. Bagiku, yang paling penting adalah mendapat ilmunya.

Sebelum pelatihan dimulai, acara dibuka oleh pemilik LPK Karya Jelita, Ibu Rani Setyawati. Pertama kali melihatnya, aku kagum. Muda, cantik, elegan, dan mandiri. Caranya berbicara sangat kusuka. Tenang, smiley, dan bersahabat. Tak bosan mata ini memandang. Kulihat di dinding terpasang foto dirinya bersama tiga anaknya yang masih kecil-kecil.

Setelah beberapa saat, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Pelatihan public speaking MC dan presenter dimulai. Pembicara Ibu Eny Kolopaking naik ke atas panggung. Penampilan luarnya biasa saja. Mungkin ketika orang melihatnya sekilas, beliau tidak berbeda dengan orang lain pada umumnya. Namun siapa sangka, ketika berbicara, semua orang terpukau, termasuk aku.

Awalnya aku sempat ill feel juga dengan pembawaannya yang menurutku terlalu centil. Overconfident, tak sesuai dengan usianya, dsb. Namun setelah beberapa saat, akhirnya aku mengerti bahwa untuk menjadi seorang presenter atau MC harus tebal muka. Berbicara sejelas mungkin dengan irama dan tempo yang teratur. Sekitar 2 jam beliau menyampaikan materi dengan contoh yang dibawakannya sendiri. Kegiatan dilanjutkan dengan praktek. Tapi sayang, rupanya panitia kurang persiapan. Tempat untuk praktek ternyata tidak bisa menampung semua peserta dengan leluasa. Akhirnya, praktek hanya berlangsung beberapa saat dan dilanjutkan dengan sharing.

Aku sempat melihat-lihat hiasan di dinding. Selain foto, di sana juga terpajang sejumlah penghargaan yang diraih Ibu Rani selama berkarier. Banyak sekali, ada puluhan piagam, mungkin sampai seratus. Bahkan, profilnya beberapa kali dimuat di media massa. Luar biasa. Sungguh sosok wanita yang mandiri.

Aku sedikit terinspirasi dari sosok Ibu Rani. Di usianya yang mungkin 30an itu, dia sudah mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Mengelola usaha yang dirintisnya sejak awal. Sekarang sepertinya dia sudah menikmatinya. Aku pun bercita-cita menjadi pria yang mandiri. Mempunyai perusahaan sendiri, merintis dari nol, dan merasakan manis-pahitnya membangun sebuah usaha. Aku tidak ingin selamanya menjadi pekerja. Suatu saat, aku yakin, aku bisa menjadi bos. (ceps)

One thought on “Wanita-wanita Mandiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s