Menggapai Impian

earth“If you can dream it, you can do it.” (Walt Disney)

KALIMAT tersebut sering kali terngiang di telingaku ketika aku mempunyai ambisi, keinginan, atau cita-cita yang hendak kuraih. Apa pun resikonya, apa pun tantangannya, dan apa pun konsekuensinya, aku siap menanggungnya dengan berbekal semangat, keyakinan, dan kekuatan impian yang kumiliki.

Sebut saja, salah satu impian yang ingin kucapai adalah menginjakkan kakiku di belahan bumi yang lain untuk tujuan apa pun itu; menuntut ilmu, berbisnis, menghadiri seminar, jalan-jalan gratis, ataupun hal-hal lain yang bernilai positif dan bermanfaat. Sungguh indah rasanya merenungi, menghayati, dan menikmati cakrawala alam ciptaan Allah dengan suasana yang berbeda dari biasanya; cuaca, budaya, masyarakat, bahasa, dan lingkungan yang tidak ditemukan di negeri ini. Dengan begitu, aku akan lebih mengenal keagungan-Nya secara lebih mendalam.

Beberapa teman dan kenalanku telah mendapatkannya. Mereka, aku pikir, sangat beruntung, karena di usia muda sudah bisa menjelajahi tempat yang belum mereka singgahi sebelumnya. Berikut ini adalah di antara mereka dan hubungannya denganku.

1. Dewi Herawati, satu SMA yang melanjutkan studi S1 di Jepang.
2. Iqbal Nurman, satu SMA dan satu kampus, mendapatkan kesempatan menjelajahi berbagai negara ASEAN, dan USA sebagai duta muda ASEAN.
3. Asep Nova, satu SMA yang mendapatkan beasiswa IELSP, kursus singkat dua bulan di USA.
4. Heldi Gumilang, satu SMA bekerja di Singapura setelah tiga bulan lulus dari ITB.
5. Asep Syamsu, mendapat kesempatan dari perusahaannya untuk berangkat ke Singapur.
6. Ganjar…, satu kampus, mendapatkan beasiswa ”the best student” dari IEC untuk berlibur ke Singapur
7. Teguh Suparjo, satu kampus, mendapatkan beasiswa kursus singkat selama dua bulan di Spanyol.
8. Lutfi Jatmika, satu kampus, mendapatkan beasiswa ke Kanada untuk program Pertukaran Pemuda Antarnegara, dan ke USA sebagai model Harvard-PBB.
9. Tessa Kristian, satu jurusan, mendapatkan beasiswa ke Jerman selama satu bulan dan tinggal di rumah warga setempat.

Mungkin masih ada beberapa temanku yang lain yang mendapatkan kesempatan seperti itu. Namun sampai saat ini, merekalah yang tercatat dalam memoriku.
Menurutku, mereka adalah orang-orang yang berprestasi dan sangat beruntung. Sebab, di usia muda (di bawah 25) mereka telah mendapatkan kesempatan yang langka, yaitu pergi ke luar negeri dengan mendapat beasiswa. Bagiku pengalaman tersebut merupakan pengalaman yang luar biasa karena jarang didapatkan oleh kebanyakan orang. Setidaknya, aku pernah mengenal mereka dan berkomunikasi dengan mereka. Kebanyakan dari mereka memang orang yang bersungguh-sungguh dalam mengejar sesuatu. Inilah sifat positif yang coba kutiru dari mereka. Dan aku yakin aku pun bisa seperti mereka dan mendapatkan kesempatan yang sama seperti mereka.

Impian adalah sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Berbeda dengan keinginan yang ”nothing to lose”, impian adalah sesuatu yang kita kejar dan upayakan agar bisa terwujud. Sebagai contoh, apabila seseorang ditanya, ”Apakah kamu ingin menjadi kaya?” pasti semua orang menjawab ”ya”, karena tidak ada orang yang mau miskin. Namun ketika ditanya ”Apakah anda mimpi menjadi kaya”, jawabannya bisa iya bisa tidak. Inilah yang membedakan antara keinginan dan impian.
Pergi ke luar negeri merupakan salah satu impianku. Artinya, aku benar-benar menginginkannya dan benar-benar mengupayakannya.

Sebut saja, sejak tingkat awal kuliah, aku sudah mulai mencoba mencari informasi di internet tentang beasiswa luar negeri. Sayangnya, kebanyakan informasi yang kudapat saat itu adalah untuk program S-2, artinya aku harus menunggu sampai kuliah selesai untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Ketika tingkat II, aku mencoba mendaftar pada program ”volunteer” dari the British Council yang memberikan beasiswa selama tiga bulan di Inggris, namun aku gagal mendapatkannya. Pada tingkat III, aku mencoba mendaftar beasiswa IELSP, namun aku juga gagal pada tahap wawancara. Pada tingkat IV, aku mendaftar pada program yang sama (IELSP) namun sejarah kembali terulang, aku gagal pada tahap wawancara. Setelah lulus, aku mencoba peruntungan dengan mendaftar program magang di Cina dari AIESEC, namun karena organisasi tersebut tidak menanggung biaya sepenuhnya, aku jadi setengah-setengah dan akhirnya gagal. Satu bulan kemudian, aku bermaksud mendaftar program teaching assistantship di US dari AMINEF, namun karena nilai TOEFL ITP-ku, yang merogoh kocek Rp330.000, tidak memenuhi persyaratan (hanya 540 dari 550 yang disyaratkan), aku tidak jadi mendaftar.

Kegagalan demi kegagalan itu, walaupun menyakitkan, aku pandang sebagai sebuah hikmah. Semua itu merupakan proses yang mengantarkanku lebih dekat menuju gebang impianku. Aku yakin itu. Kegagalan-kegagalan itu membentuk mentalku menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Aku belajar menerima sesuatu yang pahit, namun tetap optimistis memandang masa depan. Karena aku yakin, kesempatan akan selalu ada, dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan itu.

Bagi teman-temanku yang aku sebutkan di atas, jika kalian membaca tulisan ini, aku bangga karena aku sempat mengenal kalian. Kalian telah menjadi motivasi bagi diriku walaupun kalian tidak berkata apa-apa. Pesanku, jangan lupakan teman-teman dan sahabat-sahabatmu, tularkanlah semangat kalian kepada mereka, karena keberadaan kalian saat ini juga tidak terlepas dari dukungan mereka.

Ke depan, aku akan mencoba lagi mencari informasi sebanyak-banyaknya agar salah satu impianku ini bisa terwujud. Aku akan berusaha semampuku, tidak lupa aku memohon kepada Yang Mahakuasa agar aku diberi kemudahan dalam menggapai mimpi-mimpiku. Aku telah memimpikannya, dan aku yakin bisa mewujudkannya. Amiin…

6 thoughts on “Menggapai Impian

  1. assabarul minal iman ya…kenalin aku liza dari aceh…aku juga punya impian yang sama seperti kamu, yaitu pengen punya kesempatan untuk menginjakan kaki dibelahan bumi lain….
    semoga kita mampu mengejar mimpi kita, sekarang aku juaga uda mendaftar untuk program ielsp, lusa wawancara….somoga erhasil doakan ya…kamu juga semoga berhasil amin…..

    • salam kenal jg liza..
      makasih ya udah mampir ke blogku.
      jangan bosan ya mampir ke “gubuk”-ku ini, mdh2an kt bs saling berbagi.
      sukses buat kamu!!! Amin…

  2. Pingback: Wait and See… « Here is the story…

  3. loh kenapa anda tidak mencoba agen tenaga kerja ke luar negeri? tergantung skill dan kemampuan anda,…atau apapun caranya,..saya rasa semua orang akan bisa,..saya rasa ini bukan sebatas impian,..sekarang tergantung informasi yang anda peroleh,..jujur saya katakan,.saya pernah tinggal n bekerja di US selama lebih dr 9 tahun, saya hanya ingin mencari pengalaman hidup di tempat yg bukan seperti biasanya(bukan sekolah),.dan itu tekad saya,..walaupun terdengar nekat,..saya pinjam uang dari teman dan keluarga,..utk beli tiket dan biaya agennya,..dan bisakah anda bayangkan saya hanya pegang $300,..utk memulai hidup baru di US? terserah anda mau percaya atau tidak,.tapi saya fine2 aja toh walaupun saya harus tinggal sebagai orang ilegal disana hehehe,…cuman inti dan maksud saya,…hidup dan tinggal di luar negeri utk alasan apapun, itu bukan impian lagi dizaman sekarang,..itu hanya tekad,..teman2,..seperti halnya anda tinggal di bandung, dan besok saya mau bekerja dan tinggal di jakarta, simple toh? TEKADKAN DAN SAYA YAKIN 100% “INI” BUKAN IMPIAN LAGI TAPI KENYATAAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s