Perjalanan Mendapatkan SIM

4205-Motorcycle-Policeman-Filling-Out-A-Traffic-CitationTicket-Form-ClipartDUA hari yang lalu, tepatnya Jumat (10/7), aku kembali ke Soreang untuk mengikuti ujian SIM C setelah gagal ujian teori dua minggu lalu. Ini adalah kali ketigaku datang ke Polres Soreang untuk mengajukan SIM C, karena pada kali pertama pendaftaran sudah ditutup karena kuota hari itu sudah penuh.
Lelah sekali rasanya menempuh perjalanan Cibiru-Soreang dengan mengendarai sepeda motor 2 tak Suzuki Satria. Bayangkan saja, untuk menempuh perjalanan yang kurang lebih 35 km itu, aku harus melewati ratusan kendaraan bermotor di jalan utama (by pass) Soekarno-Hatta. Kepulan asap knalpot, terik matahari, bisingnya suara motor dan mobil, serta bunyi klakson yang sesekali menabuh gendang telingaku tanpa permisi dulu membuatku semakin lemas dan mual. Ingin sekali rasanya, jika aku bisa, menekan tombol pause agar semua kendaraan itu terhenti sesaat sehingga aku bisa melewati mereka dengan cepat dan tanpa hambatan. Namun aku sadar, itu tidak mungkin. Maka yang bisa kulakukan hanyalah terus berkonsentrasi mengemudi dan menikmati perjalanan sampai ke tujuan. Ada hikmahnya juga, aku bisa melihat berbagai perilaku pengemudi, khususnya para pengendara motor. Mulai dari yang amatir, sama sepertiku; ragu-ragu menyalip, tidak menyadari kalau lampu hijau sudah menyala, motor tiba-tiba mogok dan membawanya ke pinggir dibantu kedua kaki dengan susah payah, dan beberapa tindakan konyol lainnya, sampai yang seolah mau jadi pembalap motoGP tapi tidak kesampaian; menyalip dengan motor dimiringkan dengan gaya zigzag, membunyikan klakson berkali-kali, dan langsung tancap gas padahal lampu masih kuning.
Tiba di Polres Soreang sekitar pukul 10.30, aku langsung menyerahkan berkas pendaftaranku yang masih sama seperti dua minggu lalu. Kemudian aku disuruh menunggu untuk mengikuti ujian ulang teori. Sambil menunggu giliran, aku menyempatkan diri menghapal rambu-rambu lalu lintas yang terpampang di spanduk di halaman Polres. Setelah yakin hapal, aku kembali masuk ruang tunggu. Baru pada pukul 11.00, aku memasuki ruang ujian teori. Kali ini aku yakin, aku bisa lolos karena sebelumnya sudah ada gambaran.
Ujian teori pembuatan SIM sekarang menggunakan multimedia, bukan kertas biasa. Jadi, pertanyaan muncul di layar diikuti pilihan A,B, dan C, dan untuk menjawabnya kita tinggal menekan tombol yang sesuai yang sudah terpasang di tempat duduk. Pertanyaan terdiri atas 30 soal masing-masing soal berdurasi satu menit. Setiap waktu habis, kunci jawaban akan muncul secara otomatis. Jadi, aku bisa melihat jawabanku benar atau salah. Pertanyaan terbagi atas dua tipe: A dan B. Aku mendapat soal tipe B.
Setelah berlangsung sekitar 30 menit, akhirnya ujian teori selesai. Daftar yang lulus dan yang tidak lulus langsung muncul di layar. Dari daftar yang lulus (6 dari 20 orang), aku lihat namaku tercantum di sana. Alhamdulillah. Aku lulus.
Tinggal selangkah lagi syarat untuk mendapatkan SIM C, yaitu ujian praktek. Pada ujian ini, ada dua lintasan yang harus dilalui. Pertama, lintasan gang sempit sekitar 0,8 meter berbentuk zigzag. Di sekeliling lintasan itu dipasang patok kecil-kecil. Aturannya, kaki tidak boleh turun dan motor atau anggota badan tidak boleh menyentuh patok. Kedua, lintasan berbentuk angka delapan. Aturannya, ikuti garis panah dan jangan sampai keluar garis. Tetap, kaki tidak boleh turun. Aturan umumnya sebelum menempuh kedua lintasan itu, helm standar harus terpasang dan lampu besar harus menyala. Setiap pemohon SIM diberi kesempatan tiga kali untuk masing-masing lintasan. Saat itu aku berharap agar tidak mendapat giliran yang pertama, karena aku ingin melihat dulu yang lain agar ada sedikit bayangan.
Namun sayang, rupanya nasib baik tidak berpihak padaku saat itu. I was the NOT lucky number 1. fiuh… belum apa-apa aku sudah gentar, ingin rasanya kuprotes agar tidak yang pertama, tapi aku sadar itu tidak mungkin. Akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, the show must go on. Aku harus maju. Lalu aku gunakan motor yang disediakan polisi untuk melakukan ujian itu. Kupasang helm dan kunyalakan lampu besar. Everything was ok, so far.
Pada kesempatan pertama di lintasan pertama, aku mulai mengarahkan motor agar tidak menyentuh patok-patok sialan itu. Namun baru setengah jalan, motor yang juga sialan itu sudah nabrak patok. Kemudian petugas memintaku mengulanginya. Pada kesempatan kedua juga terjadi hal yang sama; nabrak patok, kaki turun. Baru pada kesempatan ketiga, aku berhasil melaluinya walaupun dengan susah payah, jalannya kurang lebih seperti kuda yang belum makan dicambuk oleh kusirnya. Tapi tak apa, yang penting lolos.
Pada lintasan kedua, aku mulai tak yakin. Pasalnya, untuk melewati jalur angka delapan aku harus berkali-kali belok kiri-kanan dengan jarak yang dekat dan kecepatan yang minim, tanpa menurunkan kakiku ke tanah. Sungguh lintasan fiktif yang tidak pernah kutemui di lapangan. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus melewatinya. Aku yakin aku bisa, walaupun setengah (haha, berarti kurang yakin).
Pada kesempatan pertama aku gagal membelokkan motor ke kiri. Aku merasa itu terlalu menukik sehingga menyulitkanku mengendalikan keseimbangan. Demikian juga pada kesempatan kedua, aku gagal. Pada kesempatan ketiga, aku sedikit menarik napas lebih panjang dan kulihat baik-baik jalur lintasan itu. Kubayangkan posisi dan laju motor agar keseimbangan tetap terjaga. Perlahan mulai kulalui lintasan itu sedikit belok kanan, kiri, kiri lagi, kiri lagi, dan….. Tok. Sepatuku akhirnya mendarat juga di lantai sebelum lintasan itu kulalui sepenuhnya. Aku gagal lagi. Dua minggu kemudian aku harus kembali lagi menempuh perjalanan Cibiru-Soreang (HANYA) untuk ujian praktek melintasi jalur angka delapan.
Beberapa temanku menyarankanku untuk menempuh jalur cepat (nembak) agar tidak bolak-balik dan tidak ribet. Namun, di polres, tidak kutemui orang-orang yang sepertinya bisa dimintai jasa. Semuanya tampak berjalan sesuai prosedur. Tak apalah. Mau hidup sesuai prosedur memang susah, tapi mudah-mudahan ada hikmahnya. Doakan aku bisa mendapatkan SIM C dua minggu yang akan datang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s