Ketika Dua Hati Menyatu (Kisah Taaruf)

 

Sudah lewat seperempat abad saya menjadi penghuni bumi ini. Dua puluh delapan tahun bisa jadi usia yang sudah lebih dari cukup untuk menikah. Jika mengikuti Rasul, sejatinya sudah tiga tahun saya membina rumah tangga. Namun, jodoh tidaklah datang cepat atau lambat, tetapi datang pada saat yang tepat.

Saya yakin, semua sudah diatur dengan indah oleh Yang Mahakuasa. Seharusnya, ini disadari oleh siapa saja yang tengah dalam penantian menuju mahligai rumah tangga. Sebab dengan menyadarinya, rasa gundah dan galau itu bisa disingkirkan. Minimal, dikurangi.

Memang, setiap kali menerima kabar dari teman, sahabat, ataupun rekan kerja yang akan melangsungkan pernikahan mereka, saya mendadak galau. Hampir setiap bulan, selalu saja ada undangan pernikahan baik yang disampaikan langsung maupun melalui media sosial . Belum lagi pertanyaan yang dilontarkan banyak orang, saudara, kerabat, ataupun teman. Pertanyaan sederhana dan tentu saja menusuk, “Kapan nikah? Mau bujangan terus nih?” atau yang sedikit lebih bijak, “Kapan nyusul nih?” dan pertanyaan lainnya yang sejenis. Mendengar itu, saya hanya bisa menjawab seperlunya lalu tersenyum. Padahal sebenarnya, sakitnya tuh di sini! *nepuk dada.

Saya bersyukur lantaran masih ada di antara mereka yang memahami kondisi saya ini. Orangtua, saudara, dan beberapa teman memberikan informasi tentang si ini dan si itu. Bahkan, di antara mereka pun ada yang terus memantau perkembangannya. Perkenalan demi perkenalan pun terjalin. Namun, tidak berlanjut ke jenjang berikutnya lantaran satu dan lain hal.

Kata orang, saya terlalu pilih-pilih. Menemukan pasangan yang 100 persen cocok hampir mustahil. Sebab akan begitu rumit untuk menyatukan dua isi kepala yang berbeda. Belum lagi menyatukan dua keluarga dengan latar belakang dan lingkungan yang berbeda. Saya bukan tidak menyadari hal itu. Namun, saya hanya berupaya mencari pasangan yang bisa saling melengkapi dan bisa melangkah bersama menuju jalan yang lebih baik. Seperti sepasang sepatu, yang tidak pernah ada yang sama tetapi saling melengkapi. Tanpa ada yang satu, yang lainnya tak berarti.

***

Saya memang tidak mengenal gadis itu sebelumnya, begitu pun dengannya. Saya juga tidak pernah bertemu dengannya di dunia nyata ataupun maya sebelumnya. Dan sudah pasti, saya tidak mengetahui kepribadiannya, baik dan buruknya, wataknya, karakternya, kehidupan sehari-harinya, dan yang lainnya. Sudah pasti, konflik di antara kami akan muncul mengingat dibesarkan di daerah dan lingkungan yang berbeda. Namun setidaknya, kami memiliki kesamaan visi dalam membangun rumah tangga: beribadah dan membangun keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah.

Almarhum Apa, ayah saya pernah berpesan tempo hari. “Milari istri nu soleh, anu sae agamana. Anu tiasa silih ngelingkeun kana kabeneran. Da eta anu bakal dibawa sampe ka maot mah (Mencari istri yang solehah, yang bagus agamanya. Yang bisa saling mengingkatkan pada kebenaran. Sebab, itu yang akan dibawa sampai mati).”  Sungguh nasihat bijak yang saya yakin siapa pun menyetujuinya. Sebab, kita ingin bisa hidup bersama bukan hanya di dunia yang sementara ini, melainkan juga di surga-Nya yang kekal nanti. Amiin.

Itulah mungkin yang membuat Mamah, ibu saya tak banyak pertimbangan untuk menerima gadis itu ketika saya meminta pendapatnya. Sejenak ia pandangi fotonya melalui gadget saya. Sambil menunggu reaksinya, saya menceritakan sekilas biodata gadis itu. Ibu saya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk tanda setuju. “Mudah-mudahan pijodoeun (mudah-mudahan menjadi jodoh),” ucapnya pelan tapi pasti.

***
Renita namanya. Berjilbab dan sedikit chubby. Tidak membosankan untuk dipandang. Itulah kesan saya saat pertama kali melihat fotonya yang dikirimkan kakak. Dia pencinta anak-anak, periang, dan menyukai alam terbuka.

Sang Maha Pengatur Rencana mempertemukan kami melalui perantara kakak saya. Renita dan kakak saya bekerja di perusahaan yang sama. Mungkin saat itu kakak saya berpikir, ada kecocokan di antara kami. Lantas, tidak ada salahnya jika kami bertaaruf. Soal lanjut atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting sudah berusaha, sisanya serahkan kepada Yang Mahakuasa.

Saya tengah di hadapan laptop ketika pesan dari kakak saya masuk ke ponsel saya malam itu. “Cep, coba kirimkan biodata ya”, kurang lebih seperti itu isi pesannya. Saya mafhum, biodata yang diminta kakak saya akan diberikan kepada seseorang yang akan bertaaruf dengan saya nanti.

Tidak butuh waktu terlalu lama bagi saya untuk membuat biodata. Sebab, jauh sebelumnya sudah saya pikirkan. Selain mencantumkan data pribadi, saya menuliskan hobi, kebiasaan, sisi positif dan negatif saya. Dan tentu saja, kriteria yang saya inginkan dari calon istri saya nanti.

Soal kriteria calon istri, saya cukup detail. Mulai dari fisik, kebiasaan, domisili, keterampilan yang dikuasai, dan beberapa hal lain yang terlintas di benak saya. Sebenarnya, tidak harus sedetail itu. Namun, yang penting tujuan menikah sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Apa pun bahasanya.

Biodata yang telah dibuat harus dibaca kembali baik-baik sebelum dikirimkan ke perantara taaruf. Jika belum yakin, perbaiki kembali. Jika sudah OK, langsung kirimkan. Namun, tidak perlu khawatir jika masih ada yang ingin dicantumkan. Sebab, semuanya bisa dikomunikasikan kepada perantara taaruf.

Tak lama setelah saya mengirimkan biodata saya, perantara taaruf mengirimkan biodata calon taaruf saya. Ketika membaca biodatanya, saya berucap dalam hati, “Inikah yang selama ini saya cari? Inikah yang Allah percayakan pada saya untuk menitipkan belahan hati saya?”

****

Kedua pihak diminta memberikan jawaban hari ini. Jika jawabannya TIDAK, mohon disampaikan sebelum jam 15.00 WIB. Jika jawabannya YA, mohon disampaikan antara jam 15.00 WIB-16.00 WIB. Jika tidak ada jawaban setelah jam 16.00 WIB, keduanya dianggap memberikan jawaban YA.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 14.00 WIB ketika saya menerima pesan BBM itu dari kakak saya yang menjadi perantara taaruf ini. Pekerjaan saya hentikan sesaat untuk menimbang-nimbang keputusan penting yang akan saya ambil. Ah, sungguh membingungkan!

Pekerjaan saya memang membuat saya terbiasa dengan deadline. Namun, entah mengapa, deadline yang ditentukan kakak saya yang menjadi perantara taaruf ini terasa begitu mendesak. Saya merasa butuh waktu lebih banyak untuk mempertimbangkan satu dan lain hal agar saya benar-benar yakin dengan keputusan ini.

Baru seminggu, saya diperkenalkan dengan gadis itu. Dalam rentang waktu itu, saya mempelajari biodatanya, sebagaimana juga dia mempelajari biodata saya. Berbagai informasi tambahan yang tidak tercantum dalam biodata, kami pertanyakan. Singkat, padat, dan fokus pada apa yang ingin diketahui masing-masing. Tidak bertele-tele apalagi bercanda ataupun mengumbar rayuan gombal. Sebab, semuanya dilakukan melalui perantara.

Inilah yang membedakan taaruf dengan pacaran. Taaruf merupakan jalan untuk saling mengenal dengan tujuan menikah, sedangkan pacaran belum tentu untuk menikah. Taaruf menggunakan perantara, sedangkan pacaran tanpa perantara. Taaruf mengharuskan pertemuan dengan disertai mahram, sementara pacaran mesti selalu berduaan dengan yang bukan muhrim.  Taaruf mempunyai deadline atau batas waktu, sementara pacaran tidak.

Maka dengan cepat saya kembali membuka biodatanya untuk memastikan tidak ada yang terlewat. Dengan saran kakak, saya pun kembali menghubungi ibu saya untuk memastikan pilihannya tidak berubah.

Sekitar 30 menit, saya berbincang ini itu dengan ibu saya melalui telefon. Ibu saya masih dengan keputusannya sebelumnya. Ia mendukung pilihan saya. “Yang penting solehah dan baik agamanya,” kata ibu saya. Saya pun semakin yakin dengan pilihan saya untuk melanjutkan proses taaruf ini.

Beberapa saat menjelang pukul 15.00 WIB, saya makin gelisah tak menentu. Pikiran berkecamuk laksana perang Uhud.

Sebenarnya, saya bisa saja meminta perpanjangan deadline agar keputusan saya ini benar-benar bulat. Namun, saya tidak melakukannya. Saya mencoba mengikuti aturan yang ditentukan perantara taaruf ini. Mungkin dengan begitu, proses ini tidak akan menemui banyak kendala. Begitu pikir saya kala itu.

Hingga lewat pukul 15.30 WIB, saya belum menerima jawaban dari pihak perempuan yang berarti kabar gembira bagi saya. Sebab itu artinya, dia mengambil keputusan yang sama dengan saya, melanjutkan proses taaruf ini. Untuk menegaskannya, saya pun memberikan jawaban YA kepada kakak saya.

Alhamdulillah, pihak akhwat memberikan jawaban YA.

Akhirnya pesan singkat itu muncul di layar telefon pintar saya. Saya lega. Langit sore itu seakan lebih cerah.

*****

Getaran itu sudah muncul saat pertama kali saya berjumpa dengannya. Di sore hari yang redup, diselingi angin yang berembus pelan, kami bertemu muka. Didampingi mahram masing-masing, kami berbincang ringan. Masjid Rosniah Al-Ahmad, Bogor menjadi saksi pertemuan dua insan yang berkomitmen untuk menyempurnakan separuh agama.

Saya yakin, ini bukanlah suatu kebetulan. Namun, ini bagian dari rencana-Nya yang hendak mempertemukan dua hati yang sejatinya menyatu. Dengan perantara kakak, saya mencoba mengenalnya lebih dekat, dengan cara yang insya Allah diridhai-Nya: Taaruf.

Tiga hari setelah mempelajari biodata masing-masing, kami berjumpa di masjid itu. Mengenakan jilbab ungu, dia tampak anggun. Kami berbicara tentang ini dan itu meski masih canggung karena baru pertama kali bertemu. Sering kali kami terdiam, meski hati kami mungkin saja saling berbicara. Sesekali saya memandangnya, begitupun dia. Ketika pandangan kami beradu, dia tersipu malu seperti halnya diriku.

Hari semakin redup ketika perbincangan kami mulai terasa hangat. Waktu menjelang magrib sore itu membatasi pertemuan kami. Kami pun pulang dengan masih menyisakan berbagai pertanyaan, apakah proses ini akan berlanjut? Apakah pertemuan ini membuat kami lebih yakin dengan pilihan masing-masing atau sebaliknya? Apakah pilihan ini akan membuat kami lebih baik dari sebelumnya? Dan sekelumit pertanyaan lain yang menggelayuti pikiran pun bergema seiring dengan berkumandangnya azan Magrib kala itu.

****

Pada malam yang hening, saya memanjatkan doa kepada Yang Mahakuasa. Meminta diberi kemantapan hati untuk memilihnya. Memohon keridaan-Nya untuk menjalani hidup bersamanya. Berharap agar dengan bersamanya, saya menjadi lebih taat pada-Nya.

Tiga hari setelah pertemuan di masjid itu, kami memberikan jawaban. Alhamdulillah, jawaban kami sama. Kami sepakat untuk melanjutkan proses taaruf ini ke tahap berikutnya, yaitu khitbah.

Khitbah dalam bahasa umum berarti meminang. Dalam hal ini pihak laki-laki mendatangi wali perempuan untuk menyatakan maksudnya berumah tangga. Jika diterima, tinggal selangkah lagi menuju pernikahan. Jika ditolak, tidak harus dipermasalahkan.

Dan Alhamdulillah, proses khitbah berjalan lancar. Ini artinya, pernikahan kami sudah di depan mata. Tinggal mencari tanggal untuk disepakati.

Namun yang perlu digarisbawahi, setelah khitbah bukan berarti kami bebas berduaan. Interaksi harus tetap dibatasi mengingat kami belum menjadi sepasang suami istri. Komunikasi pun hanya melalui telefon dan pesan singkat. Tidak ada tatap muka. Ketat memang, tapi justru inilah yang membuat saya tidak mau berlama-lama.

Siang dan malam pun terus berganti seiring dengan rotasi bumi pada porosnya. Jika sesaat saja bumi berhenti berputar, berantakanlah dunia ini. Sungguh Maha Besar Allah yang telah menciptakan alam semesta ini. Semua tunduk pada ketentuan-Nya.

Tanggal 4 Januari 2015 adalah hari yang telah ditentukan-Nya bagi kami ketika usia saya 28 tahun lebih. Hari itu, kami melangsungkan akad nikah. Ijab dan qabul terucap. Kami resmi menjadi sepasang suami istri baik secara agama maupun hukum negara. Alhamdulillah. Hati terasa sejuk, selaras dengan hujan rintik-rintik pagi itu.

Siapa sangka, proses perkenalan yang begitu singkat, hanya sekitar tiga bulan, bisa mengantarkan kami ke jenjang pernikahan. Tidak PHP, tidak menggantung, tak juga main-main. Yakinlah, jodoh bukanlah soal datang cepat atau lambat, tetapi datang pada saat yang tepat. Selama kita mengikuti koridor yang Allah tetapkan, insya Allah semuanya dimudahkan.

Kini, dua tahun setelah janji suci itu diikrarkan, kami sudah dikaruniai seorang putri yang cantik dan lucu. Sophia namanya. Usianya sekarang 15 bulan. Senyum dan tawanya mengalihkan dunia. Lengkaplah kebahagiaan kami. Semoga kelak ia menjadi anak salehah, berbakti kepada orang tua, dan membela agama. Aamiin

Hatik!

Hatik!

Hampir setahun blog ini kosong dari tulisan dan selama itu pula saya tidak menulis di blog ini. Iya lah.. makanya kosong 😀 Tapi, bukan berarti saya tidak menulis. Saya tetap menulis.. tapi bukan di blog ini. Kata Cak Lontong, mikir!

Banyak momen dan hal menarik yang saya alami tapi tidak tertuliskan di blog ini. Entahlah, mungkin karena saya baru menjadi seorang ayah. Kehadiran si kecil cukup mengalihkan perhatian, sehingga menulis pun jadi terabaikan. Ah, mungkin itu cuma alasan saja! Buktinya, si kecil tak pernah tidur lewat dari jam 9 malam. Istri pun paling malam tidur jam 10. Sementara saya tidur antara jam 11-12 malam. Artinya, saya punya cukup waktu pada malam hari untuk menulis. Yang jelas, saya belum bisa mengelola waktu dengan baik… hingga di usia saya yang ke-30 ini.. Oh my God! Continue reading

Welcome to The World, My Little Girl!

My little girl

My little girl

Suara tangisan itu terdengar nyaring di ruang bersalin. Tidak berlangsung lama, tetapi cukup membuat ketegangan kami memudar. Semua pasang mata tertuju padanya. Sosok kecil yang dinantikan itu akhirnya terlahir ke dunia. Anugerah dari Yang Mahakuasa. Alhamdulillah.

===============================

Sabtu, 10 Oktober 2015 pukul 18.46 WIB, putri pertama kami lahir dengan normal. Beratnya 3,4 kg, panjangnya 48 cm. Saya bernapas lega ketika menyaksikan langsung kelahiran putri kami itu. Azan dan iqamah segera saya kumandangkan di telinga si bayi beberapa saat setelah kelahirannya.

Istri saya tampak sumringah. Wajahnya berseri. Urat syarafnya mengendur. Lega melihat kehadiran sang buah hati. Seolah lupa bahwa baru saja ia melewati perjuangan antara hidup dan mati. Semuanya sirna seiring dengan tangis sang bayi yang memecah kepanikan. Continue reading

Nostalgia Akhir Pekan

Akhir pekan adalah waktu yang berkualitas untuk digunakan bersama keluarga. Maklum, sebagai karyawan, Senin hingga Jumat tentu habis untuk bekerja. Itulah sebabnya, saya dan istri tidak melewatkan waktu akhir pekan untuk bersama. Pekan lalu, kami memanfaatkan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di Kota Bogor, tempat kelahiran istri saya.

Selain kangen lantaran sudah lama tidak jalan-jalan berdua, bagi istri saya yang tengah hamil tua, sering berjalan katanya baik untuk mempermudah dan mempercepat persalinan. Untuk itulah, istri saya sudah merencanakan tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi hari itu. Namun, karena khawatir kelelahan, istri saya hanya mengajak saya ke dua tempat, yaitu Bogor Trade Mall dan Masjid Rosniah Al-Ahmad di Kompleks Bogor Nirwana Residence. Continue reading

Nama dan Doa

Bagi Shakespeare, sebuah nama tidak begitu berarti. Sebab bunga mawar dengan nama apa saja akan tetap harum. Namun, bagi saya, nama itu sangatlah penting. Ia tak hanya sebuah sebutan, tetapi juga doa. Memanggil atau menyebut nama seseorang adalah juga mendoakan orang tersebut. Misalnya saja, nama Ahmad, Hamdan, atau Muhammad, yang berarti terpuji. Memanggil atau menyebut nama tersebut juga menjadi doa bagi pemilik nama tersebut. Sungguh tak terbayangkan bagaimana hal ini terjadi pada pemilik nama Saiton yang tenar belakangan ini.

Dalam sebuah tayangan televisi beberapa waktu lalu, saya melihat penampilan seseorang yang bermain gitar dengan cara unik. Dia tak hanya piawai memainkan irama dengan memetik senar-senar gitar, tetapi juga lihai memunculkan irama perkusi dari bodi gitar. Dia menyebut teknik itu sebagai fingerstyle. Pria itu bernama Andri Guitara.

Continue reading

Menghitung Hari

waiting

Menghitung hari

Detik demi detik

Penggalan lirik lagu dari Krisdayanti yang populer di tahun 1998/1999 itu tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga saya belakangan ini. Bukan lantaran saya tengah dilanda putus cinta seperti cerita lagu tersebut. Namun, karena saya tengah menunggu kelahiran sang buah hati.

Tak hanya saya, tetapi juga istri saya. Sesekali, kami mendendangkan lirik lagu tersebut beberapa saat menjelang tidur. Namun, hanya sampai dua baris itu saja, sebab lirik selanjutnya tidak berhubungan dengan suasana kami saat ini.

Continue reading